
"Ingin rasanya mengakhiri hidup Ma. Tapi, aku tak mau melakukan hal bodoh itu. Karena, aku tahu bunuh diri itu perbuatan syirik."
"Jangan sayang, jangan pernah kamu lalu itu." Rani kembali menarik Rara dalam dekapannya. Ia bisa merasakan gimana putus adanya putrinya itu, disaat mengetahui fakta, kalau ia bukanlah anak Ezra.
Ibu dan anak itu menangis saling mendekap. Memberi kekuatan satu sama lainnya.
"Ma, ayahku sebenarnya di mana? apa aku masih punya ayah ma? walau pun ia tak mau mengakui aku anaknya, tak apa apa Ma. Aku hanya ingin tahu siapa ayah kandungku." Mendongak, menatap sendu Rani yang kini juga tak kalah terpukulnya mendengar pertanyaan sang putri, yang dari tadi memaksanya untuk memberi tahu, ayah dari anaknya itu.
"Ma... Ayahku di mana?" tak kunjung mendapat jawaban sang ibu. Rara menggoyang kuat tubuh ibunya itu dengan penuh keputus asaan.
Rani tak bisa berkata kata lagi. Mulutnya serasa dikunci. Termehok Ia dengan kekecewaan Rara kepadanya. Ia memang ibu yang buruk.
"kekhilafan itu tak usah diungkit lagi sayang. Tak ada gunanya lagi, kita bahas itu. Ibu sangat bersyukur ternyata ayah Ezra masih tetap menganggap mu sebagai anaknya."
Rara mengurai pelukannya. Kecewa sudah pada sang ibu yang masih main rahasia.
"Maafkan mama ya? Mama juga tak mau kehidupan seperti ini. Tapi, beginilah jalan takdir yang harus Mama lalui." Ujar Rani, kembali menarik Rara dalam dekapannya.
Rani sebenernya merasa sedikit lega. Ternyata Ezra masih menganggap Rara sebagai anaknya. Sebagai seorang ibu, tentu ia ingin yang terbaik untuk putrinya. Makanya ia ingin mempertahankan biduk rumah tangga nya dengan Ezra dulu. Agar Rara tetap jadi bagian dari keluarga nya Ezra.
Disaat ia mengetahui Ezra sudah menikah lagi. Ia sangat frustasi. Sangat takut akan kebahagiaan putrinya. Ia takut Rara dicampakkan oleh Ezra.
"Baiklah kalau mama tak mau mengatakan siapa ayah biologisku. Aku tak akan memaksa. Tapi, ku mohon, jangan ikut campur dalam urusan rumah tanggaku Ma. Aku memang berjodoh dengan pria yang jauh dari kriteria menantu idaman untuk Mama. Tapi, aku bahagia bisa jadi istrinya Ma." Ujar Rara dengan menatap serius sang Mama, yang membuat Rani terdiam.
"Aku harus pulang Ma. Ini sudah sangat sore." Rara beranjak dari duduknya. Tapi, Rani menahan tangannya.
__ADS_1
"Menginap lah dulu di sini bareng satu dua hari sayang. Kamu bisa hubungi suami minta izin." Pinta Rani memelas. Ia memang masih sangat merindukan putrinya itu.
"Gak bisa Ma. Kami sedang ada masalah besar. Kalau aku menginap di sini. Takutnya akan tambah masalah lagi. Aku sayang Mama. Ku harap Mama bisa lebih bijak lagi.
"Sayang, Mama sayang denganmu. Bukan mau ikut campur urusan rumah tanggamu. Tapi, Mama merasa kamu tak akan bisa bahagia dengannya." Rani menjeda ucapan, merasa ragu untuk melanjutkan ucapannya. Yang dari tadi memang ingin dicetuskannya.
"Sudahlah ma, gak mau ikut campur. Tapi, ada niat memisahkan aku dengan suamiku." Rara melepas genggaman tangannya Rani dari tangannya.
"Mama ingin ajak kamu lanjut kan hidup di luar negeri sayang. Di sana kamu bisa wujudkan mimpimu. Mama punya kenalan yang punya agensi. Kamu bisa jadi model internasional. Bukannya dari dulu itu impianmu sayang? kamu masih muda, jangan sia sia kan hidupmu dengan terburu-buru menikah. Sama yang tua dan tak punya harta." Memelas menatap sang putri.
Aduhh... Rani ternyata belum sadar juga dengan penjelasan panjang kali lebar nya Rara
"Itu dulu Ma. Sekarang aku tak ingin jadi model atau artis. Aku mau jadi model untuk anak anak ku saja. Aku tak tertarik lagi dengan gaya hidup hedon ma." Rara berbalik dan melangkah kan kakinya cepat dari ruang keluarga. Tentu saja Rani menyusul sang putri.
"Gak usah Ma. Aku bisa naik taxi." Ujar Rara datar, kini keduanya sudah ada di dalam lift.
"Jangan buat Mama tambah merasa tak berguna sebagai orang tua sayang. Aku sayang banget samamu Ra." Meraih kembali jemari sang putri dan menggenggamnya.
"Kalau Ibu sayang denganku. Dukung kemauanku. Aku tak ingin hidup dengan glamour dan buang waktu dan uang lagi Ma." Kini keduanya sudah keluar dari lift.
Rani seperti nya tak bisa mempengaruhi putrinya itu. Semakin didesak, semakin ngotot.
"Baiklah, terserah kamu sayang. Nanti jika kamu berubah pikiran. Jangan enggan bicarakan dengan Mama ya?!"
Rara mulai malas melihat sang ibu. Tapi, ia tak menunjukkannya. Ia harus tetap bisa hormat pada orang tua.
__ADS_1
Menjelang magrib mereka baru sampai di rumah. Ya, dari kota Medan ke Kota Berastagi menempuh waktu kurang lebih dua jam. Saat mobil yang membawa Rara dan sang ibu parkir di depan rumah. Rara dikejutkan dengan terparkir nya mobil Bimo di halaman rumah itu.
Deg
Sungguh Rara dibuat tak tenang. Karena ia datang bersama sang ibu. Ia tahu suaminya kurang senang dengan ibunya. Ia takut, Bimo marah, dan salah paham. Mengira ia menemui sang ibu secara sengaja. Dan kenapa suaminya sudah pulang? Bukannya tadi saat di telpon, mengatakan pulang larut malam?
Rara melirik sang ibu dengan wajah cemasnya. Yang ditatap juga tak kalah cemas sebenarnya.
"Ma, jikalau ada perkataan atau sikap dari paman Bimo tak sesuai dengan hati mama. Ku harap, mama tak usah comentari ya Ma." Ucapnya dengan memelas. Rara tak mau ada masalah baru dengan dirinya yang datang bersama ibunya.
"Iya sayang, segitu tak berharganya mama. Kamu langsung memberi wanti wanti." Jawab Rani cepat dengan termangu.
"Bukan gitu Ma. Aku dan Mama sudah beda circle. Kumohon, jangan ikut campur dengan urusan rumah tanggaku ma."
"Iya, iya sayang." Jawabnya dengan mencolos.
Dengan menghela napas dalam. Rara puk turun dari mobil. Dan ia dibuat terkejut. Sampai ingin masuk lagi ke dalam mobil. Karena melihat sang suami berlari ke arahnya dengan tatapan tak bisa diartikan.
"Tamatlah riwayat ku!" Rara membatin, terpaku di sisi mobil.
Tbc
Like coment positif vote dan hadiahnya sangat ku harapkan.
Maaf gak bisa up dari kemarin. Karena lagi kurang enak badan. Sakit semua, remuk redam.,ðŸ¤
__ADS_1