GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Memilih ran jang


__ADS_3

GUBRAK....


Tempat tidur ambruk.


Hahahaha...


Tawa Rara pecah di kamar berdinding kayu warna coklat itu.


"Hahahaha.... Minta ganti ranjang nya sayang..!" wanita itu masih saja terpingkal-pingkal, dengan suara sedikit meninggi. Karena ia merasa sangat lucu kejadian yang mereka alami sore ini. Ia pun bangkit dari ranjang yang ambruk itu.


"Shhiittt... Bicaranya pelan sayang ..!" ujar Bimo dengan ekspresi wajah kaget serta bingung. Menempelkan telunjuknya di bibir sang istri. Setelah ia berhasil turun dari ranjang itu. Kimi keduanya berdiri di sisi ranjang.


Dengan menahan tawa, Rara pun terdiam. Bimo yakin, orang di luar pasti mendengar kehebohan yang tercipta di kamar itu. Ini sangat memalukan. Pasti orang di luar berpikiran yang macem macem.


Bimo memeriksa tempat tidur itu, ternyata engsel pengaitnya lepas. "Ini tak bisa digunakan lagi. Kita harus ke kota beli tempat tidur sekarang." Ujarnya masih memeriksa ranjang yang usang itu.


"Tidur beralaskan tikar saja, gak apa-apa koq cinta, asal kamu yang jadi kasurnya." Goda Rara dengan mata dikedipkan.


"Yakin, tahan di atas nanti malam?" Bimo menantang godaan Rara, dan tersenyum mes-um.


"Hehehe... Siapa takut, enak tahu di atas." Ujarnya tanpa beban.


"Sudah, jangan bahas itu sekarang. Tempat tidur ini gak bisa diperbaiki lagi. Siap siap kita ke kota beli ranjang yang empuk." Bimo mengambil ponsel dan dompet nya. Begitu juga dengan Rara.


Buuuuurrr


Benar saja, orang orang yang masih ada di rumah itu pada nguping. Saat asyik menguping, mereka gak menyadari, jikalau orang yang ada di kamar sudah keluar.


Hadeuh...


Bimo malu setengah mati. Ia melalui orang orang yang ada di depan kamar mereka dengan menunduk Sedangkan Rara, tertawa kecil mengikuti langkah sang suami. Ia Merasa lucu dengan kejadian barusan.


"Dek, Abang ke kota dulu." Bimo pamit pada adiknya yang tinggal di rumah itu.


"Iya bang, hati hati. Jangan lupa pulang bang, nanti malam ada pengajian di rumah." Ujar sang adik ramah.

__ADS_1


"Iya, mana mungkin Abangmu ini lupa, akan hal itu." Jawabnya tersenyum tipis. Menggandeng Rara menuju mobil mereka yang terparkir di halaman rumah.


Sepanjang perjalanan menuju kota, Rara terlihat begitu senang.


"Disini viewnya indah ya cinta." Ujar Rara melirik Bimo yang terlihat serius menyetir.


"Ia." Jawab Bimo cepat. Kejadian di kamar, insiden ranjang ambruk itu masih menari nari dipikirkannya. Ia tahu saat ini, ia sudah pasti bahan gunjingan emak emak yang berkumpul di rumah mereka memasak makanan untuk pengajian nanti malam.


"Mikirin apa sih sayang?" Rara sangat penasaran dengan ekspresi Bimo yang tegang itu.


"Mikirin kamu!" jawabnya dengan ekspresi wajah masih tegang.


"Mikirin aku saat seperti apa?" Goda Rara, sok kepolosan.


"Mikirin kamu kalau di atas."


Hhahaha


Rara tertawa renyah. "Dasar otak ngeres...!" Rara menggeleng pelan.


Mendengar pertanyaan sang suami yang serius, ia pun memutar lehernya menatap lekat sang suami.


"Eemmm... Aku kan mau sekolah lagi "


Air muka Bimo langsung terlihat murung, mendengar jawaban sang istri. Ia memang ingin cepat punya anak. Secara ia sudah berumur.


"Ya dikasihNYA saja, kalau aku hamil. Ya gak apa apa. Ambil paket C, bisa untuk wanita hamil kan?" tanyanya semangat, ia harus menyanggupi keinginan sang suami.


Ucapan Rara langsung membuat wajahnya Bimo berseri seri. Dengan cepat ia meraih jemari Rara, dan mengecupnya lembut. Dan matanya tetap mawas ke badan jalan, karena ia masih menyetir.


"Terima kasih, semoga anak kita kembar empat."


"Apa.... Kembar empat? koq jadi nambah satu, tadi pagi mintanya tiga dan sekarang jadi empat." Rara menarik tangannya dari genggaman Bimo. Menghitung jarinya sampai empat.


"Iya sayang, baguslah sekali hamil kita dapat anak empat. Jadi, kamu hamilnya cukup sekali saja." Ujar Bimo serius.

__ADS_1


"Astaga.... Doanya jangan aneh aneh lah sayang. Empat itu banyak loh. Apa kita bisa mengurusnya sekaligus nanti?" tanya nya lesuh.


"Bisa, nanti aku yang momong semua. Sekali jalan, aku bisa gendong tiga. Satu kamu yang gendong." Ujarnya semangat. Rara yang setuju untuk hamil, membuatnya tak sabar menunggu nanti malam.


"Ayo turun, kita sudah sampai."


Rara masih terbengong-bengong di dalam mobil. Suami nya itu gendong anak tiga sekaligus. Dan ia menggendong satu.


"Ayo sayang..!" menarik lembut tangan Rara. Hingga wanita itu pun turun dari mobil.


Kini mereka sudah berada di toko Furniture terbesar di kota itu. Pelayan langsung menghampiri Bimo dan Rara.


"Aku mau cari spring bed yang kokoh dan empuk." Ujarnya setelah ditanya pelayan toko.


"Oke pak Bu, sebelah sini." Mereka diarahkan kebahagiaan ranjang. Ada bermacam jenis ranjang yang tersedia.


Bimo mulai memilih milih ranjang untuk mereka. Sedangkan Rara lebih memilih duduk menunggu sang suami memilih ranjang.


"Eemmm... Dek, apa itu suaminya?" tanya seorang wanita paruh baya, yang tiba tiba saja mendekatinya.


"I-- iya Bu." Jawabnya ramah dan sedikit gugup. Kenapa pula ibu ini menanyakan hal itu? apa mereka gak terlihat seperti pasangan suami istri.


"Pengantin baru?" tanya sang ibu lagi, tapi matanya fokus pada Bimo yang masih memilih milih springbed itu.


"Iya Bu, heheh...!" Rara tertawa kecil. Si ibu sangat kepo.


"Pantas, ranjang kalian ambruk atau belum beli ranjang sama sekali?" tanya si ibu lagi, masih memperhatikan Bimo dengan tertawa tipisnya.


"Ibu koq tahu ranjang kami ambruk?" tanya Rara heran menatap sang ibu, yang masih fokus menatap ke arah Bimo.


"Ya tahulah, itu suamimu pasti hot. Lihat saja cara dia memilih ranjang. Selain menekan ranjang itu kuat, atau empuk. Lihatlah apa yang dilakukannya?" sang ibu menunjuk ke arah Bimo yang kini sedang menggerakkan bokongnya ke arah ranjang, panggul maju mundur. Seolah mentest tinggi ranjang itu cocok kah untuk nya saat mereka melakukan gaya dalam bercinta. Yaitu saat Rara teronggok di sisi ranjang dan Bimo berdiri di hadapannya.


TBC


Bayangin saja gaya apa yang akan dipraktekkan Bimo untuk mencetak anak kembar.

__ADS_1


__ADS_2