
Krekk..
Bimo membuka pintu kamar dengan senyum mengembang. Dan menutup pintu itu dengan hati hati.
"Sekarang hanya tinggal kita berdua didalam kamar yang telah banyak dihiasi dengan banyak bunga mawar yang indah ini." Bimo menghamparkan tangannya menunjukkan seluruh isi kamar yang sudah di hias dengan indahnya, layaknya kamar pengantin baru. Setiap dining ada lampu turblair beserta bunga bergelantungan. Di atas ranjang telah bertumpuk bunga mawar merah dengan lambang ❤️.
Hanya ada lilin aromaterapi di tiap sudut kamar, yang menerangi ruangan itu. Cahaya yang sedikit redup, membuat suasana semakin romantis.
Grapp..
Tangan Bimo yang sudah gatal itu, menarik kuat pinggang sang istri. Hingga tubuh keduanya berdekatan. Dan Bimo menarik kembali pinggang itu. Agar tubuhnya dan sang istri semakin menempel.
Sikap Bimo yang terkesan agresif ini, membuat Rara jantungan.
"Kamu kenapa cantik sekali malam ini sayang?" ujarnya dengan tatapan mendamba, yang membuat Rara semakin tak bisa berkata kata. Bahasa tubuh dan kalimat yang keluar dari mulut manis suaminya itu buat baper abis.
Brugkk
Bimo berhasil mendaratkan tubuh ramping sang istri di atas ranjang. Ia pun bergerak mendekati sang istri dengan tatapan yang memabukkan itu. Mengungkung Rara di bawahnya.
Entah kenapa Rara merasa sangat malu ditatap sang suami.
"Gak rindu suamimu ini?" ujarnya membelai lembut wajahnya Rara. Bibir yang sedari tadi kian mendekat ke bibirnya Rara.
"Kangen..!" ucapnya pelan dengan suara menggoda, yang membuat Bimo semakin berhasrat.
"Gak usah ragukan posisi kamu di hati ini sayang. Jangan mikir yang macam macam yang bisa membuat hubungan kita merenggang ya?" ujar Bimo setelah mendarat sekejap bibirnya di bibir Rara yang sedikit terbuka.
Rara mengangguk lemah, dengan berusaha tenang. Beberapa hari tak melakukan hubungan badan dengan Bimo, membuatnya jadi salah tingkah, rasanya sangat mendebarkan. Seperti ingin melakukan malam pertama saja.
Bimo tersenyum manis. Kenapa istrinya itu malam ini sangat menggemaskan dan menggairahkan. Ingin rasanya ia menggigit kulit lembut halus sang istri, saking gemesnya.
"Kamu sudah siapkan kan sayang?" tanyanya yang membuat Rara sedikit bingung. Emang mau mempersiapkan hal yang seperti apa?
__ADS_1
"Maksudnya sayang?" tanya Rara, menggelinjang hebat saat lidah Bimo menyusuri telinga dan leher jenjangnya.
"Malam ini aku mau rapel." Ujar Bimo dengan suara beratnya.
"Rapel?" Rara mengangkat kepala sang suami, agar ia bisa menatap wajah sang suami.
"Iya." Ujar Bimo dengan mata sayunya.
"Gaji kali dirapel." Rara menyunggingkan senyum. Tingkah suaminya yang lagi Mu peng itu terlihat lucu.
Bimo tersenyum penuh maksud. Ia tak mau mengulur waktu lagi dengan berbincang bincang. Miliknya yang besar sudah menegang di bawah sana. Sudah tak sabar lagi, ingin masuk ke sarang yang hangat dan lembab.
Grasak,.. Grusuk....
Dalam sekejap pakaian yang menutupi tubuh Rara sudah berhasil disingkirkan Bimo. Tubuh mulus putih terlihat sangat menggoda. Tubuh itu bahkan terlihat bersinar di dalam kamar yang pencahayaannya remang remang.
Bimo sangat mengagumi keindahan setiap lekuk tubuh nya Rara. Kulitnya halus dan lembut. Yang membuat Bimo kecanduan mencicipi setiap inchi tubuh yang menggoda itu.
Tak ada yang lewat dari sapuan bibir nakalnya yang sangat kehausan itu. Dari ujung kaki hingga kepala semuanya dijelajahi oleh lidah dan bibirnya. Yang membuat Rara merasa sangat didamba dan disayang. Bimo memang benar benar menunjukkan rasa ketertarikannya pada sang istri.
Bimo juga sangat peduli dengan kepuasan Rara. Wanita itu sudah dua kali pelepasan tanpa penetrasi. Dia malah asyik memuaskan sang istri dan hampir lupa dengan kebutuhannya sendiri karena ingin menyenangkan pasangannya terlebih dahulu.
"Sayang .. Cobain gaya baru yuk?!" pinta Bimo dengan napas tersengal-sengal. Ia sedang meng- genjot sang istri dengan gaya misionaris dan ia ingin sensasi lain.
"Gaya yang bagaimana sayang?" ujar Rara menggigit bibirnya. Ia bahkan sudah menarik tubuh sang suami, agar didekap nya erat. Ia sudah sangat terang sang.
"Gaya dog, gi.. Ehhh Kamu dalam posisi merangkak sayang, seraya menahan badan dengan kedua tangan dan kedua lutut." Ujar Bimo lembut, masih berada di atas tubuh sang istri. Bimo itu sangat kuat. Ia bisa menahan ritme larva nya, kapan mau dikeluarkan.
"Hehhe... Gaya itu, koq kamu ragu sih bilangnya sayang " Ujar Rara langsung memposisikan dirinya seperti yang dimau sang suami.
Bimo semakin bergairah. Apalagi melihat gunung kembarnya Rara bergelantungan. Ya punya Rara jenis pepaya. Hhhahaa
Bimo pun mulai memposisikan rudalnya ke
__ADS_1
Uugghh
Rasanya enjos.
Suara desa-han dan erangan keduanya menggema di kamar itu. Mereka benar bener sangat total dalam gulat kali ini. Maklum sudah lima hari gak main kuda kudaan.
Tut
Tut
Tut
Prupp
Pruupp
Suara kentut terdengar keluar dari bagian bawah Rara. Saat ia membaringkan tubuhnya setelah mereka sama sama mencapai surga dunia.
Sontak Rara terkejut. Begitu juga dengan Bimo.
"Aku, aku gak kentut koq sayang. Sumpah..! kan gak ada bau." Ujar Rara panik, bingung bercampur malu. Ia terlihat jadi tak percaya diri lagi.
Bimo tersenyum tipis. Mulai membersihkan cairan mereka di milik sang istri yang tersisa.
"Ya gak apa apa, mau kentut, kencing atau eek sekalipun, ya gak masalah. Namanya zat sisa dalam tubuh. Ya harus dikeluarkan." Ujar Bimo, menahan kaki Rara agar diam, saat ia membersihkan milik sang istri dengan tisu.
"Sumpah.... Aku gak kentut..! suaranya keluar dari ini. Bukan dari a-nus." Ujarnya masih dengan ekspresi malu.
"Oohh... Ya wajar lah. Kan tadi lagi dipompa sama milik ku yang ini. Ya masuk anginlah. Hahahaha..!" Bimo akhirnya gak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa
Hua hua Hua..
Rara malah menangis, kesal karena ditertawakan.
__ADS_1
TBc