GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Perjuangan panas


__ADS_3

Tatapan mata penuh gairah itu membuat Rara malu. Ia membuang pandangannya dengan senyum malu malu itu. Bimo semakin dibuat gemes dengan sikapnya Rara, yang seolah masih polos. Padahalkan istrinya itu sudah melanglang buana dalam pergaulan bebas. Bahkan sudah pernah abor-si. Koq sikapnya masih malu malu kucing seperti ini?


Rasa cinta dan sayang nya Bimo yang besar. Telah ikhlas menerima bagaimana pun Rara saat ini. Hancurnya sang istri, juga disebabkan olehnya. Jadi, ia tak akan mempermasalahkan lagi Rara yang sudah tak suci.


Jangan ungkit kehidupan jam seseorang. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, untuk hidup lebih baik.


Cup.


Darahnya Rara berdesir hebat, saat merasakan bibir hangat sang suami mendarat lembut di keningnya. Ciu-man itu lembut dan terasa dalam. Karena Bimo menc-ium kening sang istri dengan penuh penghayatan.


"Kamu bahagia?" ujarnya tersenyum menatap Rara penuh cinta. Rara mengangguk pelan, membalas senyuman Bimo tak kalah mesra. Bimo dibuat semakin yakin, kalau Rara siap jadi istrinya.


Tak perlu berpikir panjang Bimo langsung membawa Rara di gendongannya ala bridal style. Menidurkan Rara dengan perlahan di ranjang empuk berwarna Lila itu, paduan warna putih dan ungu. Warna kesukaan pasangan suami istri itu.


Seketika mereka saling memandang. Mata Bimo seolah bertanya pada Rara untuk meminta ijin agar bisa menyentuhnya. Rara pun mengangguk dan tersipu malu. Lalu Bimo mulai menci- um kening Rara. Membelai rambut sang istri dengan lembut. Dan menc-ium bibir mungil Rara dengan perlahan.


Rara pun menyambut ciu-man sang suami dengan penuh Bira hi. Karena sebelumnya mereka memang sudah sering bermesraan empat hari terakhir ini. Jadi, Rara sudah sedikit berani, menepis ras malu, saat bercumbu dengan Bimo.


Tangan Bimo mulai nakal meraba dan merayap kesana dan kesini. Membuat Rara terlihat tidak tahan.


"Aakkhh... !" Sedikit mendesah dan memejamkan mata.


Bimo yang mulai dengan kenakalannya berhasil membuka bajunya sang istri. Dan terpampang lah gunung kembar mulus tanpa cacat itu. Pucuk yang menantang warna peach, meminta untuk dihisap.


Ya, setelah mandi tadi, Rara hanya memakai kemejanya Bimo warna putih sepanjang lutut nya Rara. Ia tak memakai dalaman lagi.


Wajah putihnya Rara memerah menatap sang suami, yang dengan semangatnya membuka pakaiannya sendiri. Yaitu sarung dan CD, penutup tongkat ajaib.


Bimo kembali menghujani tubuhnya Rara dengan ciu-man yang penuh dengan cinta. Memainkan dua gundukan kembar yang montok dan hangat, yang membuat Rara menggelinjang hebat.

__ADS_1


"Aakkhh.. Cinta...!' de sah nya manja, seolah meminta lebih. Bimo kembali melu mat bibir menantangnya Rara, menghisap dan menyedotnya penuh gairah. Membelit lidahnya Rara yang membuat wanita itu kembali tak tahan dengan geli nikmat dari sentuhan bibir nakalnya Bimo.


"Aakkhh... Akkhh.. !" ruangan itu dipenuhi suara berisik manjanya Rara. Syukur di lantai dua, sempat di lantai satu. Bi Sakinah pasti panas kupingnya mendengarnya.


Tak ada satupun yang terlewat dari sapuan bibir nya Bimo. Setiap inchi tubuh sang istri, seperti permen lolipop saja buatnya. Di jilat, di cup cup dan digigit kecil.


"Akkhh... Cinta...!" Rara kembali mende sah, disaat Bibirnya Bimo menyapu punggung, bokong dan bermuara kebagian intinya.


"Oouuggwwhh...!" leguhan nikmat yang keluar dari mulut sang istri dengan ekspresi menikmati itu, membuat Bimo bangga pada dirinya sendiri. Ternyata ia yang polos, bisa membuat istri nya itu terpuaskan. Ya, Bimo bahkan belum pernah ciu-man. Rara lah wanita yang pertama dan terakhir yang akan menci um nya.


Puas bermain di lembah yang dihiasi gambut gambut hitam, yang membuat Rara sampai pelepasan. Merasakan nikmat menjalar di sekujur tubuh, membuat perasaan terbang di langit.


Lalu Bimo pun dengan perlahan memeluk Rara.


"Sayang.. Istriku, baca doa ya?" ujarnya lembut, di daun telinga Rara. Rara mengangguk pelan. Takut sang istri tak hapal doanya. Bimo membisikkan nya di telinga sang istri.


"Cinta... Akkhh.. !" rintih Rara gak sabar ingin dimasuki. Dari tadi tongkatnya Bimo sibuk digesek dan berusaha menjebol pintu gua, yang seperti di tutup batu.


Bimo yang bingung kembali mencum -bu i sang istri. Mulai dari bibir, leher, pa-yu Da-ra, perut dan memperhatikan miliknya sang istri yang memanggil manggil untuk dimasuki.


Huuufftt...


Bimo melakukan sedikit perenggangan otot. Sehingga menimbulkan suara kletek kletek.


Rara yang siap menanti untuk dimasuki, tersenyum pada sang suami yang tengah berjongkok di hadapannya.


Mulutnya Bimo kembali komat Kamit. Ia seperti nya berdoa. Tangannya memegang toys nya yang keras. Mengarahkan ke lubang kenikmatan di hadapan. Ia pun mulai mendorong pelan pinggulnya.


"Aaahh kak.. Sa kit.... Sakit.." Keluh Rara mendesah kesakitan, dengan wajah memerah. Ia bahkan mencengkram tangan Bimo karena gak tahan dengan sakitnya. Padahal yang masuk belum juga seperdelapan. Baru kepalanya saja. Apa karena kepala tongkatnya nya Bimo besar dan melebar membuat sakit.

__ADS_1


Bimo pun berhenti sejenak. Menatap heran Rara sambil berfikir.


Kenapa malah kesakitan? bukannya milik istri nya sudah basah sekali. Bahkan Rara sudah or gas me dua kali.


"Sakit..?" tanya lembut? Rara mengangguk lemah.


Bimo semakin dibuat penasaran. Ia mengelus rambut Rara dan menc-ium Rara dengan lembut.


Melihat Rara kembali menikmati, Bimopun kembali memasukkan miliknya ya yang keras panjang itu.


"Sakit sayang.. Pelan sedikit." Keluh Rara menarik satu tangan Bimo yang memegang paha ya ke gunung kembarnya. Ia ingin Bimo mere mas itu, sembari memasukkan milik sang suami.


"Kenapa kamu merasakan kesakitan sayang?" tanya Bimo bingung. Ia sudah melakukan foreplay yang sangat maksimal. Sambil bertanya, ia juga sibuk memasukkan miliknya ke gua kenikmatan itu.


Kening Rara mengkerut mendapati pertanyaan itu. Bukannya terus berusaha menerobos, malah ada acara tanya jawab.


"Gak tahu sayang ." Menggeleng sambil menahan rasa sakit. "Aakkhh sakit...!" keluh Rara lagi. Saat Bimo kembali mendorong kuat pinggulnya.


Apa masih tersegel?


Bimo membatin, tetap berusaha menerobos pertahanan Rara.


"Sakit... Sakit... Aku gak mau lagi..! Puuuuukkk...Kakinya Rara refleks menendang kuat tubuh Bimo. Bimo yang tak menyangka akan dapat tendangan maut, tersungkur kebelakang ambruk ke lantai.


TBC


Tinggalkan komentar positif, gak suka adegannya skip saja say. Tentu saja aku sgt mengharapkan dukungan dari readers like vote hadiah dan share link nya promosi kan say di medsos kalian ya? Agar novel ini tetap berada di ranking karya baru.


Saat ini ada di posisi 20 besar 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2