
Setelah selesai makan malam. Rani meminta waktu kepada Bimo untuk bicara empat mata. Tentu saja permintaan sang ibu membuat Rara cukup terkejut. Ibunya itu mau bicara apa dengan sang suami. Ia takut ibunya bicara macem macem yang membuat Bimo terpengaruh.
"Kalau ada hal yang mau dibicarakan. Dibicarakan di sini saja Bu. Aku dan Rara sudah menikah. Tak boleh ada rahasia. Yang ingin ibu bicarakan harus didengar oleh Rara juga." Bimo bicara dengan penuh sopan santun. Rara dibuat bangga punya suami seperti Bimo. Ini ni sikapnya Bimo yang dikagumi Rara sejak dulu. Pria itu memang karakternya sangat baik.
"Oouuwwhh... Begitu, aku hanya ingin menjaga perasaan Rara saja. Takut ucapanku, menyinggung perasaannya." Sahut Rani dengan senyum tipisnya.
"Emang Mak mau bicara apa pada suamiku? mau jelek jelekin aku?" Rara menampilkan ekspresi wajah masamnya.
"Kalau itu tak perlu mama kasih tahu, Bimo pasti tahu soal kelakuan burukmu."
"Kalau anaknya buruk, salah siapa Ma?" Rara semakin sewot.
Ibu dan anak itu malah adu mulut. Bimo tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Ternyata Ibu mertuanya itu sudah banyak berubah. Bicaranya juga sudah penuh etika.
"Maaf ya sayang! mama yang salah." Rani terlihat penuh dosa mengatakan itu. Yang membuat Rara langsung memeluk sang ibu dari samping.
"Aku becanda koq ma. Gak serius." Menatap sendu sang ibu.
"Iya, memang mama yang salah. Untuk itu Mama tak ingin kamu dirugikan lagi dari kesalahan mama itu. Mama meminta waktu bicara empat mata dengan Bimo, untuk membahas pernikahan kalian." Kini tatapan Rani terfokus pada Bimo yang duduk di hadapannya, yang juga sangat serius mendengarkan ucapan ibu mertuanya itu.
"Sebelumnya aku sebagai ibunya Rara, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya padamu nak Bimo. Karena kamu benar benar sangat menyayangi putriku yang malang ini." Kini kedua matanya Rani terlihat berkaca-kaca. Ia terharu melihat besarnya kasih sayang Bimo pada putrinya itu. Apalagi tadi, saat Bimo terlihat mengkhawatirkan Rara, sesampainya mereka di rumah.
__ADS_1
"Iya Bu, kalau soal cinta kasih sayang ku kepada Rara tak usah diragukan lagi. Dari kecil aku memang sudah sayang dia." Jawab Bimo dengan sedikit malu. Rasanya membuat pengakuan dihadapan sang ibu mertua, terlihat lebay.
Rani membalas pelukan sang Putri. Kedua matanya menatap lekat Rara. "Tadinya aku ragu, jikalau putriku ini bisa bahagia denganmu. Secara kamu belum mapan. Kamu tahu kan Bimo, putriku ini sejak kecil sudah hidup dengan bergelimang harta."
Bimo mengangguk, ia tahu maksud ucapannya ibu mertuanya itu.
"Ma... Aku bukan gila harta. Aku hanya ingin hidup nyaman. Berfoya foya juga buat setres ma." Rara dengan cepat memberi pembelaan. Ia memang sudah muak dengan Hura Hura.
"Iya sayang, sekarang kamu bilangnya seperti itu. Karena kalian baru nikah. Nanti setelah punya anak, banyak yang harus dipikirkan." Jelas Rani menatap lekat sang putri.
"Iya Bu, aku tak mungkin menelantar anak dan istriku." Sahut Bimo sopan.
"Iya Bu, tunggu Rara genap 19 tahun." Sahut Bimo tersenyum menatap kedua wanita di hadapannya.
"Iya, kamu jangan sampai lalai Ra. Ingatakan suamimu untuk daftarkan pernikahan kalian, nikah siri itu yang sangat dirugikan pihak wanita dan anak-anakmu kelak." Jelas Rani sudah seperti seorang ustadzah saja.
"Ia ma, kami tahu itu. Yang gak aku tahu sampai sekarang ini. Ayahku siapa ma..?"
Deg
Kalau sudah pembicaraan mengarah bahasan satu itu, Rani pasti ketar ketir dan sangat malu sekali. Itu adalah aibnya. Melakukan hal yang jauh dari norma. Mana dibahas dihadapan sang menantu lagi.
__ADS_1
"Eeehh... Ada yang nelpon, aku ke teras sebentar, sepertinya penting." Ujar Bimo terlihat tergesa gesa merogoh ponselnya dari saku celananya. Berjalan cepat ke teras rumah dengan memegang hape di dekat kan ke kuping.
Padahal tak ada yang menelponnya. Ia hanya menghindari perbincangan serius kedua wanita di hadapannya. Karena, Bimo tahu ibu mertua nya itu pasti malu, untuk menceritakan itu.
Si Rara juga aneh, masak membahas itu dengannya.
Eehh,. Gak tahunya. Memang benar ada yang menelponnya setelah ia mendudukkan bokongnya di kursi teras rumahnya.
Kini tinggallah Rara dan sang ibu terdiam di ruang makan itu. "Sayang, maaf kan mama ya. Sampai kapanpun mama tak akan mengatakannya. Jikalau kamu masih ditakdirkan Tuhan untuk mengetahui siapa ayah kandungmu, suatu saat kalian pasti dipertemukan. Ibu mohon, ini terakhir kali kamu menanyakan hal itu. Mama malu sayang, jika harus mengungkit masa lalu kelam itu." Ujar Rani, mengusap lembut wajah sang putri yang dibasahi air mata itu.
Rara jelas sedih, ibunya itu tak kunjung mau menceritakan kenyataan pahit itu.
"Ayo kita ke luar cari angin di taman depan rumah. Di tempat kalian sangat nyaman ya sayang. Jauh dari kebisingan dan panas. Hawa sejuk, dan buat hati jadi adem ayem." Ujar Rani, mengurai pelukan Rara dari tubuhnya. Dan kini berjalan bergandengan menuju teras rumah.
"Apa...? baik baiklah, aku akan ke sana. Iya pak. Ini secepatnya ke sana. Terimakasih pak!"
Rani dan Rara menghentikan langkahnya saat mendengar Bimo yang bicara di telepon dengan ekspresi terkejut itu.
TBC.
Tetap dukung say Novel ini. Dengan like coment positif hadiah dan vote 🙂🙏
__ADS_1