
"Apa...? baik baiklah, aku akan ke sana. Iya pak. Ini secepatnya ke sana. Terimakasih pak!"
Rani dan Rara menghentikan langkahnya saat mendengar Bimo yang bicara di telepon dengan ekspresi terkejut itu.
"Oouuww... !" Bimo yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Hampir saja menabrak sang istri dan mertuanya yang berdiri di belakangnya. Ia tak menyadari kehadiran kedua wanita itu, saking seriusnya saat bicara di telpon.
"Sayang, Bu. Aku harus ke kantor polisi sekarang." Ujarnya dengan tidak tenang. Pria itu mengambil kontak mobilnya di gantungan.
"Apa mengenai Jenifer sayang?" tanya Rara menyusul Bimo yang tergesa-gesa ke mobilnya yang terparkir.
"Bukan, ini kasus Romi yang melarikan uang perusahaan." Jawab Bimo meraih kepala sang istri dan mencium keningnya cepat.
Terlihat Rani meyusul pasutri itu. "Bim, tanyakan mengenai Jenifer yang kami laporkan kasus penganiyaan tadi siang ya? karena tadi sebelum makan, mama hubungi pihak berwajib. Katanya Jenifer belum ditangkap. Dia gak ada di rumahnya. Rumah nya katanya sudah kosong." Ujar Rani dengan serius nya.
"Iya Bu, aku merasa ini semua masalah ada hubungannya dengan Jenifer." Sahut Bimo serius. Heran saja kenapa Jenifer malah menyerang istrinya
"Iya sayang, bener itu. Tadi pagi ia juga sudah kembalikan uang yang dua puluh juta yang kamu berikan untuk berobat ibunya. Kan aneh saja, dalam waktu seminggu ia dapatkan uang sebanyak itu." Ujar Rara dengan seriusnya.
__ADS_1
"Apa? Jenifer sudah kembalikan uang yang dipakai berobat ibunya?" tanya Bimo dengan ekspresi tak percaya nya.
"Iya, maaf tadi gak sempet cerita soal uang itu ." Jawab Rara sendu.
"Gak apa apa sayang, baiklah aku pergi dulu. Hati hati di rumah ya sayang." Mengusap lembut kepala sang istri.
"Bu, titip Rara." Menatap sang ibu mertua dengan senyum tipis.
***
Sesampainya di kantor polisi Bimo tercengang mendengar laporan pihak berwajib, atas penyelidikan kasus yang dilaporkannya empat hari yang lalu. Ada dua kasus, yaitu kebakaran cafe dan penipuan melarikan uang perusahaan.
"Titik terang atas kasus yang menimpa keluarga bapak, sudah ada titik terangnya. Setelah ada laporan dari istri anda tadi siang. Tentang dirinya yang diserang oleh karyawan bapak yang bernama Jenifer. Kami simpulkan otak dari kejahatan ini adalah wanita yang bernama Jenifer." Jelas Pak Polisi.
"Iya pak, aku juga mikir nya seperti itu." Ekspresi wajah Bimo terlihat penuh kekecewaan. Ia tak menyangka Jenifer akan menghancurkannya. Padahal ia sudah banyak berbuat baik pada wanita itu.
"Iya Pak, wanita yang bernama Jenifer ini sangat licik."
__ADS_1
"Apa Jenifer sudah tertangkap?" tanya Bimo dengan tak sabarannya.
"Belum pak, kami sudah mengendus tempat pelariannya. Dia sudah keluar dari pulau Sumatera. Besok pagi, dia pasti sudah kami ringkus." Jelas Pak Polisi.
"Berarti belum ada hasil. Romi juga belum ditangkap?" Bimo mengira ia ditelpon dapat kabar baik, eehh... malah dikasih kabar yang membuat mikir.
"Belum pak Bimo. Kami hanya melaporkan kasus rumitnya cafe yang terbakar. Dari penyelidikan itu adalah ulah Romi."
Huuffftt..
Bimo menghela napas berat. Ia terlihat tak puas dengan laporan dari pak polisi. Dipikirnya sudah ketangkap. Soalnya tadi pak polisi mendesaknya agar cepat ke kantor polisi.
"Baiklah pak, ditunggu kabar baiknya secepatnya." Bimo bangkit dari duduknya. Menjulurkan tangannya untuk menjabat sang polisi. Pak Polisi menyambut tangannya Bimo dengan hangat dan langsung merangkul Bimo, menuntun Bimo berjalan ke sebuah ruangan.
Sikap Pak Polisi membuat Bimo jadi bingung. Ia mau digiring ke mana?
"Pak Bimo, ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak. Saya harap, bapak bisa berpikiran dengan jernih saat berhadapan dengan beliau nanti." Ujar Pak polisi ramah, menekan handle pintu sebuah ruangan, mempersilahkan Bimo masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Dengan bingungnya Bimo menurut saja dan masuk ke dalam ruangan itu. Pintu ditutup, ia pun terkejut melihat sosok seorang pria yang tak ingin dijumpainya duduk dengan wajah memelas di sebuah sofa.
TBC