
Acara merajuk berlanjut hingga malam hari. Sang istri tak mau tidur dipeluk. Setiap kali Bimo merayu dan ingin menyentuhnya, Rara selalu menepis tangan sang suami.
Hufft..
Rara bisa mendengar helaan napas panjang dan dalam sang suami. Ia masih memunggungi suaminya itu.
"Jika kejujuran adalah kejahatan, dan berbohong adalah adalah kebaikan. Maka, aku akan diam. Sebab mereka telah mencintai kemunafikan."
Ujar Bimo seperti seorang pujangga yang mengungkap isi hatinya. Ia kecewa dengan sikap Rara yang cepat merajuk.
Ciuuhh...
"Sudah salah masih saja gak merasa." Ujar Rara pelan, dengan muka kesalnya.
"Salah? Menyukai seseorang itu fitrah. Lagian dimana salahnya. Saat aku menyukai Dek Anin, saat itu aku kan gak da menjalin hubungan dengan siapapun. Salahku di mana?"
Tanya Bimo dengan bingungnya, mentoel pinggangnya Rara yang memunggunginya. Rara menepis bekas toelan nya Bimo.
Bimo dibuat heran dengan tingkah nya Rara. Sentuhannya seperti najis saja, yang harus dibersihkan.
Iihhhh...
Manggil manggil adek lagi dengan ibu Anin. Dasar.... buaya..
Umpat Rara kesal, merem as kuat bantal yang dipeluknya. Ia cemburu abis, dengan pengakuan sang suami.
"Rara... Jangan seperti ini? jangan memperbesar masalah. Masalah yang sedang kita hadapi banyak sayang. Please jangan ditambah." Ujar Bimo lembut, kembali memepet tubuh sang istri agar mau dipeluk. Karena ranjang mereka dekat dinding. Jadilah Kimi posisi Rara yang memunggungi sang suami, mepet ke dinding kamar itu.
"Jauh... Jauh.. Sana... Gak tahu apa kalau aku da mentok ke dinding?" Rara kembali mendorong tubuh sang suami agar menjauh. Tapi Bimo tetap bertahan. Ia bahkan mendaratkan ciuman banyak di pipi sang istri.
"Kita harus cetak anak, agar ngambeknya hilang." Masih menciumi sang istri dengan bar bar yang membuat Rara makin kesal.
"Mencetak anak tak akan menyelesaikan masalah." Ketus Rara, kembali mendorong kuat tubuh sang suami agar menjauh darinya.
__ADS_1
Huufftt..
Bimo akhirnya menggulingkan badannya menjauh dari Rara. Dipaksa semakin menjadi, hanya gara gara pengakuan suka, jadi ribet begini.
Huufft..
"Serba salah...!" ujarnya lemas, dengan mata menatap langit langit kamarnya yang dihias indah itu.
Lima menit berlalu, Rara masih memunggunginya. Bimo tak tahu lagi gimana cara membujuk sang istri. Ia pun akhirnya beranjak dari ranjang.
Menyadari sang suami turun dari ranjang, Rara melirik pergerakan sang suami. Yang kini ternyata berjalan ke arah meja. Di atas meja itu, ada beberapa buku.
Ranjang kembali terasa bergoyang, itu artinya sang suami sudah kembali naik ke atas ranjang.
Eehhmmm..
Rara mendengar suara lembaran buku di buka. Ia pun melirik sang suami. Ternyata suaminya itu sedang membaca buku yang berjudul 20 cara jadi istri Solehah.
"Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa"
Jika suami memanggil istrinya untuk tidur bersama (bersenggama), lalu istri menolak sehingga semalam itu suami menjadi jengkel (marah) pada istrinya, maka para malaikat mengutuk pada istri itu hingga pagi hari,” (HR Bukhari).
Tentunya hal ini menandakan bahwa penolakan terhadap ajakan suami bercinta adalah hal yang sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Menolak ajakan bercinta dengan suami tentu dapat menyebabkan suami menjadi kecewa dan menjadi timbulnya masalah dalam keluarga, hal ini akan berpengaruh kepada keharmonisan rumah tangga.
Jika hal itu terhadi maka tentu dapat menimbulkan kebencian di hati suami. Hal ini akan sangat merugikan bagi si istri. Sebagaimana Al-Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra. Nabi Muhammad SAW. bersabda :
Ada tiga orang yang shalatnya tidak akan diterima, dan kebaikan mereka tidak akan naik kepada Allah. Orang yang mabuk hingga dia sadar, seorang wanita yang dibenci suaminya, dan seorang hamba sahaya yang lari hingga dia kembali dan meletakkan tangannya ditangan tuannya.
Jadi menurut islam menolak ajakan suami akan menjadikan dosa yang besar bagi istri begitu juga salat mereka tidak akan diterima, karena melayani suami adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Islam juga memberi pengecualian terhadap hal tersebut.
Menurut islam seorang istri boleh menolak ajakan suami untuk bercinta dengan ketentuan istri sedang Haid, istri sedang hamil, istri sedang lelah, dan sedang sakit. Bolehlah seorang istri menolak ajakan suami ketika dia sedang ada di fase itu.
Bimo sudah selesai membaca buku.
__ADS_1
Ia kembali mendekati Rara. Memeluknya dari belakang.
"Eemmm... Dari semua point yang diperbolehkan menolak ajakan suami. Tak ada satupun poin yang sedang adek alami saat ini." Ujarnya lembut di telinga nya Rara, yang membuat Rara bergidik geli.
Rara yang kegelian, mengubah posisinya jadi terlentang. Ia meminta Bimo sedikit menjauh darinya. Menatap tajam Bimo yang eskpresi mukanya terlihat tak bersalah.
"Oohh... Gak ada semua point itu yang aku alami? ada, ada paman. Di sini, di sini sakit." Mengelus elus dadanya yang naik turun karena emosi. "Aku itu sakit hati. Itukan sakit juga namanya." Ketusnya dengan wajah masamnya. Sikap Rara malam ini, sungguh terasa lucu buat Bimo. Masak gara gara pengakuan suka pada Anin, jadi panjang lebar begini masalahnya.
"Ya sudah, sini Aku obati." Tangan nya tergerak untuk membuka kancing piyama nya Rara.
Pukk
Rara memukul kuat tangan sang suami yang menjulur untuk membuka bajunya.
"Ya ampun... Ini KDRT namanya (Kekerasan dalam raih tet-ek)"
Seketika kedua matanya Rara membola mendengar kepanjangan dari KDRT. Bisa bisanya suaminya itu mengatakan hal yang tak sopan seperti itu.
Tapi dalam keterkejutan nya, sebenarnya Rara ingin tertawa. Ia merasa lucu dengan istilah yang keluar dari mulut sang suami.
"Mau ini, mau ini, Nahhhhh....!" Rara dengan cepat melepas pakaian yang melekat ditubuhnya. Kemudian wanita itu membuka lebar pahanya.
Glek...
Gluk..
Gluk..
Haiikk yahhk...
Bimo menjulurkan lidahnyaa, menjilat bibirnya dan memasukkan cepat lidahnya ke mulut nya. Menampilkan ekspresi wajah senang, karena akan mendapatkan apa yang ia mau.
"Paman....!" Rara yang geram, menimpuk kuat kepalanya Bimo dengan bantal. Jadilah mereka berantem di kamar itu. Bantal hancur sudah, kapas berserak di mana mana.
__ADS_1
Bahkan tubuh polos nya Rara sudah ditutupi sebagian kapas.
TBC