
Duar....
Duar...
Duar....
Rara yang panik mencari keberadaan orang tuannya dikejutkan dengan suara kembang api bertaburan di langit, menghiasi malam yang cerah karena kerlap bintang, bertambah cerah karena nya, membuat orang yg melihat berdecak kagum. Mereka menyalakan kembang api dengan warna warni yang mengagumkan.
Waaauuuwwhhh..
Teriak para pengunjung pasar malam. Rara juga sempat dibuat kagum. Ia bahkan kini berdiri mematung melihat ke langit. Kembang api mengeluarkan warna warni yang indah.
indahnya buat terkejut dan tak bisa berkata-kata. Apalagi kembang api itu bertuliskan
Will you marry me?
Rara dibuat insecure, merasa iri dengan apa yang dilihatnya. Siapakah yang punya kerjaan seperti ini di pasar malam.
Rara yang penasaran akhirnya mempercepat langkahnya, menerobos kerumunan orang. Ingin melihat dengan jarak dekat. Pasangan yang sedang berbahagia itu, dilamar di depan khalayak ramai. Sungguh pria yang melakukan ini, pria yang romantis dan sangat mencintai pasangnya. Makanya dia mau melakukan hal gila, agar punya kenangan tersendiri.
"Air panas... Air panas...!" ujar Rara menerobos keramaian. Sontak orang minggir takut kena air panas yang dimaksud Rara. Padahal ia tak ada membawa air panas sama sekali.
Setelah sampai di depan antraksi lamaran norak, menurutnya. Ia kejutkan dengan si empunya kerjaan. Ada Ayah dan suaminya di tempat itu Tenyata Mamanya Rani sedang dilamar sang ayah.
__ADS_1
Saking asyiknya membantu sang ayah mertua buat surprise pada Rani. Bimo tak menyadari keberadaan Rara di tempat itu.
Terlihat Mama Rani panik, kalut, kesal dari ekspresi wajahnya. Tak mau menerima bunga yang diberikan pak Kusuma dan kini berlutut dihadapan Mama Rani dengan menekuk satu kaki, menyodorkan sebuah cincin berlian.
Rara dibuat tercengang melihat drama yang dimainkan ayah dan ibunya itu. Cukup norak, karena mereka bukanlah anak muda lagi. Orang bisa menebak, kalau mereka sudah berumur 40 tahun.
"Will you marry me?" ujar sang ayah dengan wajah yang berbinar binar.
Rara ingin teriakan kata, Terima.. Terima...!
Tapi ia mengurungkan niatnya itu. Karena melihat keberadaan Bimo di tempat itu. Ia masih sebel dengan sang suami. Kenapa gak aja dia dalam aksi lamaran ini.
Rara pun akhirnya menjauh dari tempat itu. Suaminya lebih semangat bantuin sang ayah dalam acara lamaran norak, dari pada menjumpai dia. Kalau dipikir-pikir, tentulah suaminya itu sudah ada di pasar malam, sebelum mereka datang. Karena sudah jelas Bimo yang menyiapkan semuanya.
Rara tipe cewek kakau setres atau kesel, pinginnya ngunyah.
Huuuhhhh...
Terdengar suara ribut dari orang orang yang menonton acara lamaran. Sepertinya ibunya itu sudah menerima lamaran ayahnya. Koq para penonton pada ribut.
"Eemmmm... Asyikan kisah Mama. Dilamar gitu, lah aku nikah digrebek massa. Apa enaknya, buat malu saja." Ujarnya lagi dengan kesalnya. Tiba tiba saja, ia merasa sedih.
"Koq jadi cengeng gini sih? suami loe gak mikirin loe? ya sudah kamu gak usah mikirin dia, BE GOkkk..!"
__ADS_1
"Apa....Adek bilang saya be gok..!"
Si penjual bakso bakar malah merasa dikatain be gokk!. Ya Rara masih berdiri di sebelah penjual bakso bakar.
"Idihh .. Si Abang, baper an lagi. Aku tu gak ngatain Abang. Tapi itu tu, orang yang buat acara lamaran. Norak...!" ujarnya dengan wajah masam.
Hehehe... Si penjual Bakso menggeser topi di kepala nya, karena salah tingkah dibalut Rara yang cantik tapi judes.
"Koq norak si dek? itu namanya romantis." Tegas penjual Bakso bakar.
"Tahu akkh... Norak...!"
Terlihat kerumunan orang di tempat sang ayah melakukan lamaran bubar.
Dan sang ibu juga terlihat berlari dari tempat itu, menutup mulut dengan jemarinya. Sepertinya Mama Rani sedang menangis.
"Mama kenapa?" Rara menghadang sang Mama, yang berlari hendak ke luar dari tempat itu.
"Ra... Rara sayang.. Ayo kita pergi dari sini.." Ujarnya dengan terisak, menarik tangan Rara. Sehingga mau tak mau Rara mengikuti langkahnya sang ibu.
Dan saat itu juga Pak Kusuma beserta Bimo mengejar kedua wanita itu.
TBC
__ADS_1