
Saat ini Rani hanya bisa pasrah. Kemana sang putri membawanya. Ia hanya bisa berdoa, semoga ia tak ketimpa masalah lagi malam ini. Seperti acara lamaran tak berfaedah yang terjadi di pasar malam.
"Paman, ini beneran rumah ayah?" ujarnya memperhatikan lekat rumah megah berlantai tiga di hadapannya.
"Ia sayang, ayo turun!" Ujar Bimo semangat, membuka pintu mobil untuk istri dan ibu mertuanya.
Saat ini bukan Rara saja yang tercengang. Rani lebih tercengang lagi. Setahu dia Pak Kusuma itu bukanlah dari kalangan orang kaya. Dulu saja saat kuliah mantan kekasih nya itu harus kerja sehabis kuliah untuk bertahan hidup di kota Medan.
"Pantes Ibunya Alva gak mau lepasin ayah. Ternyata ayah orang kaya." Ujar Rara berdecak kagum.
"Ma, terima ayah lagi ya? gak usah takut diteror ibu Dewi. Nanti kita siapkan bodyguard untuk Mama." Ujar Rara tersenyum lebar. Ia jadi semangat untuk menikah ibunya malam ini. Karena tadi ia sempat menolak idenya Bimo. Menikahkan Rani dan Pak Kusuma.
Pak Kusuma yang juga sudah sampai di pekarangan rumah nya. Langsung menghampiri mereka yang masih berdiri di halaman rumah.
"Ayo kita bicara sebentar sayang..!" Bimo menarik lembut tangan sang istri. Agar menjauh dari Rani. Ia tersenyum pada kedua mertua nya itu.
"Malam ini ayah dan ibu harus menikah. Kamu jangan coba coba menggagalkannya." Ujar Bimo pelan, tapi penuh penekanan.
Rara heran dengan ucapan sang suami. Tadi, suaminya itu sudah setuju. Jangan memaksa ibunya Rani menikah malam ini. Tapi, koq sekarang rencana berubah.
"Kenapa harus malam ini? besok besok kan bisa. Ibu belum tenang itu, jangan dibuat syok lagi dengan nikah mendadak. Ibu harus tahu dulu." Jelas Rara tak setuju ibunya Rani menikah malam ini. Kan bisa dilaksanakan besok. Ia perlu membujuk ibunya itu terlebih dahulu.
"Harus malam ini sayang? kalau besok besok, aku yang setres.." ujar Bimo frustasi.
Rara tertawa kecil, merasa lucu dengan ekspresi suaminya yang terlihat panik dan kalut itu.
"Koq setres?" tanya Rara bingung.
"Ya setres lah. Kalau ibu Rani gak nikah dengan pak Kusuma malam ini. Kamu pasti tidur sekamar dengan ibu Rani."
Hahhha..
"Emang aku mau tidur dengan mama?!" ujar Rara tertawa penuh kemenangan.
"Rara...!" Bimo mengejar Rara yang menghampiri ibu dan ayahnya.
__ADS_1
"Apa?" ujarnya memutar lehernya menatap Bimo yang kini sudah ada di sebelahnya.
"Gak ada." Jawabnya cepat.
Pak Kusuma sudah memberi kode. Bahwa Rani akan dijebak malam ini.
"Ayo dek, ini sekarang jadi rumah mu." Ujar Pak Kusuma tanpa sadar.
"Apa?" Rani menghentikan langkahnya, ia sudah merasa ada yang tak beres.
Hehehe..
"Kalau gak mau, ya gak apa apa. Nanti aku kasih sama Rara saja. Iya kan nak?" menatap Rara yang kini terlihat tegang.
Rara takut sang ibu kembali marah marah dan tak mau menikah, seperti saat tadi acara lamaran di pasar malam.
"Ra..?" Bimo menggoyang lengan sang istri. "Ditanyain ayah tu?" ujarnya
"Iya ayah. Aku mau! heheheh..!" Rara cengir.
"Ayo masuk...!" Pak Kusuma melebar kan tangannya, mempersilahkan semuanya untuk masuk.
"Rumah ayah bagus, di sini yang tinggal siapa saja yah?" tanya Rara menyoroti setiap sudut ruang tamu.
"Rumah ini yang nempati hanya ART. Kalau ayah pas ke kota ini, ya hanya ayah saja." Ujar Pak Kusuma dengan senyum mengembang. Tapi, mata menoleh ke arah Bimo dengan tatapan penuh maksud.
"Oouuww.. Nanti Mama yang tinggal di sini. Hehehe...!" Rara kembali cengir. Mencoba ngelawak untuk mencairkan suasana. Karena ibunya nampak tegang sekali.
"Pinginnya sih gitu. Ya kan dek?" melirik Rani dengan senyum manis.
Rara tak menanggapi ucapan pak Kusuma. Ekspresi wajahnya masih sama, takut dan penuh kekhawatiran. Ia sedang merasa akan terjadi sesuatu di luar kendalinya.
"Ayo duduk dek!" mempersilahkan Rani duduk di sofa warna coklat tua. Rani duduk masih dengan bahasa tubuh tak tenang.
"Ra, ayo ke dapur. Kita minta sama Bibi buatkan minum dan makanan." Ujar Bimo, langsung merangkul sang istri. Ia sudah sangat kangen istri nya itu.
__ADS_1
"Iihh.. Gak usah peluk peluk Napa? mau ke dapur aja koq." ketus Rara menjauhkan tangan Bimo dari pinggang nya.
"Oouuhh iya lupa, kita mau ke dapur. Kirain mau ke kamar. Hehhe..!"
Rara membulatkan kedua matanya. Ekspresi wajah nya bingung terlihat jelas. Ia heran dengan sikap sang suami, yang seperti korselt itu. Ucapannya pada ngaur.
"Ayo..!" Bimo akhirnya menarik tangannya Rara sedikit kuat. Mau tak mau Rara terpaksa mengikuti sang suami ke ruang dapur. Tapi, ternyata mereka bukannya berjalan ke arah dapur.
Tapi, ke ruang keluarga. Dan di sana sudah ada sekumpulan orang. Rara pun tersadar.
"Ayo kamu kenalan dulu sama pamanmu yang sesungguhnya, ini Pak Ibrahim, saudara laki laki dari ibu Rani. Tapi, bukan kandung. Ayah paman ini, dengan ayah ibumu Rani adalah kakak beradik." Ujar Bimo serius.
Rara kurang ngerti dengan silsilah yang diucapkan sang suami. Tapi, ia enggeh enggeh aja. Menyalim pria yang dikatakan pamannya itu dan semua orang yang ada di tempat itu.
"Ini pernikahan harus jadi. Sekarang kamu ke ruang tamu. Bicara bagus bagus sama ibu, agar dia gak lari lagi seperti tadi." Bisik Bimo pada Rara, yang terlihat ragu untuk mengatakan ide gila dan mendadak ini pada ibunya. Ia takut ibunya marah.
"Ayo cepat sayang..!" Bimo mendorong pelan tubuh sang istri, agar melangkah ke ruang tamu.
"Saat sampai di ruang tamu. Rara kembali dibuat kaget. Dengan penampakan sang ayah sedang bersiimpuh di hadapan sang ibu.
"Dek Rani, maafkan aku..! terima lah pernikahan ini. Semuanya sudah disiapkan. Aku berjanji akan membahagiakanmu. Akan menebus semua kesalahan yang ku perbuat padamu dulu." Ujar Pak Kusuma dengan suara bergetar.
Siapa pun yang melihat pak Kusuma menyembah seperti itu, akan dibuat baper. Terlihat pak Kusuma sangat tulus.
Rani masih diam seribu bahasa. Ia sudah berapa kali menolak Pak Kusuma. Tapi, pria ini tetap memaksa.
"Ma... Gak ada alasan untuk menolak ayah. Aku juga ingin merasakan sebuah keluarga yang utuh. Ada ayah dan mama nya Ma. Terima ayah ma? aku memohon!"
Kini Rara ikut bersimpuh di hadapan Rani. Tentu saja hal itu membuatnya esmosional.
Ia pun tak tahan lagi menahan air mata yang dari tadi mendesak untuk keluar.
"Bangun Nak..!" Meraih bahu Rara, menuntunnya untuk bangkit.
"Mama... Terima ayah ma..!" Memeluk sang ibu dengan Isak tangis.
__ADS_1
Pak Kusuma juga ikut menangis. Ia teringat cerita Bimo. Yang mengatakan Rara sempat salah jalan sebelum menikah dengannya. Ia mengutuk dirinya yang selama ini, membiarkan anak dan istrinya menderita. Karena ia yang salah ambil sikap, saat meninggalkan Rani dalam keadaan hamil.
TBC