GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Maaf


__ADS_3

"Napa bengong di situ, ayo masuk?!" ujar sang suani lembut tapi penuh ketegangan. Bimo heran melihat Rara yang mematung di ambang pintu. Sedangkan ia sudah masuk ke dalam kamar. Bahkan Bimo terlihat melepas jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, meletakkannya di atas nakas. Dan kini ia sedang membuka sepatu serta kaos kakinya, duduk dengan santai di tepi ranjang.


Rara merasa gelagat pamannya itu sedikit aneh di siang bolong begini. Syukur hawa udara di kota Berastagi dingin. Jadi di siang bolong, masih terasa adem ayem. Walau hati masih panas dan tegang.


"Ayo masuk, kenapa takut gitu? apa kamu takut untuk melakukannya? bukannya kamu sudah pernah melakukannya?"


Melakukan apa? emang dia mau apa? Dasar bujang lapuk, bicara selalu gak jelas.


Rara membatin masih menatap heran sang suami.


Bimo yang heran dengan sikap Rara yang terlihat kaget. Menyamperin istrinya itu, menarik lembut tangannya sang istri. Dan kini keduanya sudah duduk di tepi ranjang.


"Aku akan memenuhi semua fantasimu." Menjawir dagu sang istri dan memperhatikannya lekat. Tak dipungkiri wajahnya Rara memang sangat memikat.


Rara semakin bingung dengan arah pembicaraan sang suami.


"Fantasi? maksud paman apa?" menurunkan tangan sang suami dari dagunya. Ditatap dengan pandangan aneh itu, membuat Rara bergedik geli. Akhirnya Rara mengerti sedikit tujuan pembicaraan ini. Karena tatapan matanya Bimo yang mendamba. Tapi, yang ia heran. Kenapa suaminya itu mengatakan ingin memenuhi fantasinya.


"Katakan siapa pria itu?" Bicara dengan tangan mengelus - elus pahanya Rara yang ditutupi celana jeans. Perlakuan pamannya itu membuat Rara jadi membisu. Aneh saja, sepertinya pamannya itu mau merang-sangnya.


"Kamu sengaja diam, agar aku langsung menghukummu kan? kamu sudah tak tahan untuk seperti ini kan?"


Mematuk matukkan kedua jari telunjuk sendiri. Kode kalau ingin berciuman dan lanjut ketahap yang lebih intim.


Tentu saja Rara dibuat bingung dan merasa pamannya ini ada kelainan. Kelakuan Bimo rada aneh dan lucu. Tapi, suasana di kamar jadi tegang.


"Paman dari tadi sikapnya aneh. Mau menuduhku wanita ***-*** kan? bicara saja terus terang. Gak usah membuat perumpamaan perumpamaan yang membuat bingung seperti itu." Bicara tegas dengan nada kesal. Menjauhkan tangan sang suami dari atas pahanya.


"Aku bicara tegas. Tadi kan aku sudah bilang ingin memenuhi fantasimu. Aku yakin, kamu sudah sangat ingin berhubungan intim kan? makanya kamu dan pria itu bertemu. Kamu pikir aku gak bisa mencarimu." Bicara menatap lekat Rara.


Rara mulai terpancing, entah apa yang ada di otak pamannya itu. Sejak menikah ia dinilai seperti wanita genit saja.


"Bicara apa sih. Ngocok, ngaur!"


Rara bangkit dari duduknya. Malas sudah ia berdebat dengan Bimo.


"Jelaskan apa yang kamu inginkan. Aku bisa penuhi semuanya. Jangan kamu cari ke pria lain. Kamu tahu Ra, sifat ini yang ku takuti selama ini. Sifat ibumu turun ke kamu. Sifat genit nya yang tak puas dengan satu pria. Kamu ingin dipuaskan kan? aku sengaja tak mau menyentuhmu. Hanya ingin menilai, tahan gak kamu gak melakukan itu selama satu bulan. Ternyata kamu gak tahan, belum genap dua minggu kita menikah. Kamu sudah berani menghubungi laki-laki untuk bertemu denganmu."


Deg


Nyut...


Nyut..

__ADS_1


Sakit sekali tuduhan itu.


Rara mengelus dadanya yang bergemuruh hebat itu.


Sabar...


Sabar...


"Ayo sini duduk lagi, kita mulai dari bercumbu saja. Kamu kan lagi men-struasi.!" menarik lembut lengan Rara, dan ia pun terduduk dengan air mata yang menggenang di mata indah itu.


"Wanita yang lagi mens-truasi biasanya naf su nya meningkat, sebanding dengan hormon kewanitaan yang lagi melonjak juga." Bicara sambil membelai pipinya Rara.


Rara sudah tak tahan lagi dengan ucapan suaminya ini. Ia seperti wanita yang lagi kehausan untuk dilayani oleh seorang gi-golo saja.


"Paman yang lagi bernaf-su, Tapi, paman bicara seolah aku adalah wanita yang haus akan kepuasan itu. Paman membawa-bawa nama ibu dalam masalah kita. Kalau paman ragu denganku. Ragu akan diriku yang tak bisa jadi istri yang baik untuk paman. Ya sudah, lepaskan aku!"


Menjauhkan kuat tangan sang suami yang membelai wajahnya.


Dug


Bimo terhenyak dengan sikap kasarnya Rara.


"Sudah muak aku paman, dengan sikapmu yang selalu merendahkanku. Mengatakan aku genitlah, hamillah, pernah abor-si lah. Ada paman lihat dengan mata paman itu sendiri aku melakukan itu semua? Entah kebencian dari mana paman dapat kan, sehingga paman itu sinis padaku." Ujarnya tak mau menatap Bimo.


"Oohh begitu, mentang - mentang mantan cowokmu itu datang kesini. Kamu mau pergi dariku. Ohh.. tak bisa...!" mendekati Rara, meraih koper dan mengangkat koper itu ke atas lemari yang paling tinggi.


"Apa sih mau mu paman? aku capek seperti ini terus. Apa gunanya aku hidup kalau seperti ini. Lepaskan aku, biar aku kejar cita citaku. Kalau toh, paman tidak ikhlas menerimaku."


Kini air mata menggenang, ia tak tahan lagi hidup dengan Bimo yang tak jelas apa maunya.


"Betul pria itu bukan kekasihmu?"


Bimo malah membahas pria itu lagi.


"Aku gak kenal dia." menghentakkan kaki, geram sudah dengan sikapnya Bimo.


"Gak kenal, aku sudah perhatikan kamu dan dia sejak kemarin di perkebunan. Kamu dan dia berpelukan."


Hadeiuuhh..


"Cemburu, paman cemburu? bilang aja kalau cemburu. Jangan seperti anak kecil deh. Kalau ia pacarku, ngapain aku balik dengan paman. Aneh...!" bicara dengan muka masamnya.


Bimo terdiam, ia kena tembak dua belas pas.

__ADS_1


Ia memang cemburu.


"Kalau gak kenal, kenapa tadi kalian bicara terlihat serius dan akrab?"


"Dia menawarkan aku jadi model."


"Gak, gak boleh jadi model." Jawab Bimo cepat.


"Iya, aku tolak koq." merengut menatap malas Bimo.


"Benar dia bukan pacarmu?"


"Iya... Aku gak punya pacar. Mana ada orang yang mau samaku " Ketus Rara.


"Hei... Dia itu sedang mengejarmu. Kenapa kamu jadi terlihat polos begini?"


"Aku memang polos, makanya sering kena jebak." Sahutnya, mengangkat kursi, ia ingin meraih kopernya dari atas lemari.


"Ngapain angkat kursi?" mengambil alih kursi dari tangan Rara.


"Mau ambil koper, mau pergi dari sini."


Grapp..


"Jangan...!"


Rara terlonjak kaget, disaat Bimo sudah memeluk erat dirinya dari belakang.


"Iihh... apaan sih paman.. Lepas...!" entah kenapa Rara jadi salah tingkah karena dipeluk sang suami. Padahal ia suka, Bimo memeluknya. Pelukannya hangat.


"Maaf... Kalau sikapku membuatmu sakit hati. Aku, akui aku salah. Semua masalah ada pada diriku." Masih memeluk erat sang istri. Rasanya legah, setelah mengakui kesalahan.


Bimo telah menyadari sikapnya yang salah. Ia tak terima dengan Rara punya ibu yang punya sikap tak baik. Tapi, ia tak sanggup melepas wanita ini. Harusnya ia bisa menerima semua kekurangan Rara. Termasuk status Rara yang tak jelas.


"Kita mulai dari hari ini. Tak perlu menunggu sebulan. Aku akan berusaha jadi suami yang baik untukmu. Tapi, kamu harus janji, kamu harus setia pada suamimu ini. Jikalau ada yang tak memuaskanmu, langsung katakan. Jangan diam ya?"


"Apa sih? puas yang bagaimana?" Rara tak terima dikatakan genit. Ia langsung melepaskan tangan Bimo dari pinggangnya.


Tak terima dengan sikapnya Rara. Bimo membalik cepat tubuh sang istri. Ia menangkup wajahnya Rara. Dan mendaratkan bibirnya di bibir sang istri.


TBC


Banyak like vote dan hadiah kita grazy up

__ADS_1


__ADS_2