GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Tarik tambang


__ADS_3

Suara keributan yang terdengar di dapur, terdengar jelas ke tempat Bimo berada saat ini. Ia yang penasaran berlari cepat ke arah dapur.


Ia pun dikejutkan dengan Rara yang menangis, sambil memegangi kakinya yang sudah memerah karena tersiram air panas.


"Sengaja mau hancurkan barang-barang di rumah ini? emang ya kamu itu bisanya merusak saja."


Dug


Kini tangannya Rara sudah berpindah ke dadanya. Ia mengelus-elus dadanya yang terasa ngilu dan sesak itu. Tega sekali suaminya itu berkata seperti itu. Kakinya tersiram air panas, bukannya ditolongi, malah dimarahi. Segitu bencinya Bimo padanya.


Rara masih menatap Bimo nanar. Suaminya itu kini sedang membersihkan lantai rumahnya dari pecahan gelas dan gula putih yang tertumpah di lantai . Suaminya itu tak henti-hentinya merepet.


"Buat teh saja gak bisa. Dapur jadi berantakan kamu buat. Kamu mau rupanya membersihkannya ha...hhh?"


Rara dengan cepat meninggalkan tempat itu, saat Bimo yang merepet menoleh kepadanya. Ia sedang tak ingin dimarahi. Ia tahu, ia salah. Kenapa termos itu bisa lepas dari tangannya. Dan tangan nya yang satu lagi malah menyenggol cangkir berisi gila dan bubuk teh nya. Ya jadilah cangkir lalu jatuh dan pecah. Dan gula yang ada di cangkir berserak di lantai.


Rara benci dengan sikap suaminya ini. Tadi ia sudah semangat untuk memulai hidup baru dengan Bimo. Tapi, kalau tiap hari disepelekan seperti ini, siapa yang tahan.

__ADS_1


Rara menaiki anak tangga dari kayu itu, sambil menahan perih, panas dan sakit di kakinya yang kena air panas.


Bimo terdiam, ia sadar sikapnya itu salah. Tak seharusnya ia marah kepada Rara. Tapi, ia bingung dengan dirinya. Ingin dia bersikap normal. Tapi, entah kenapa Rara yang tidak pakai dalaman pagi ini membuatnya jadi uring-uringan.


Bimo beranggapan anak itu sengaja buat ulah, untuk cari perhatian dengannya.


Huufftt..


Bimo menarik napas kasar. Ia yang sudah membersihkan dapurnya memilih untuk duduk di kursi meja makan. Memikirkan sikap apa yang harus diambilnya saat ini.


"Ya Tuhan.... Beri ketenangan dan keikhlasan pada hatiku. Aku bisa gila kalau begini terus. Kenapa sih, dia itu kelakuannya aneh terus. Berkeliaran gak pakai dalaman lah, gak tahu dia kalau miliknya itu jadi terlihat, aaakkkhh... Aku juga aneh, ngapain mikirin itu. Ini gara-gara mimpi sialan itu, aku jadi kepikiran terus." Bimo bicara pelan, yang hanya bisa didengar nya. Dengan ekspresi wajah setresnya. Bingung sudah ia gimana harus bersikap pada Rara.


Ia bangkit dari duduknya, mengambil kotak P3K, ia tak boleh bersikap kejam, dengan membiarkan istrinya itu menahan kesakitan karena kena siram air panas. Ia yakin Kaki istrinya itu pasti melepuh saat ini. Air itu baru saja dimasaknya tadi.


"Ini aku Bimo, aku masuk sekarang!" ujar pria itu, dibalik pintu kamar.


"Rara... Aku masuk sekarang!" tegasnya lagi kesal, karena tak ada sahutan dari dalam.

__ADS_1


Koq gak dijawab, apa dia marah?


Bimo yang penasaran, akhirnya membuka pintu kamar itu, tanpa menunggu persetujuan dari Rara. Dengan hati yang berdebar-debar. Ia seperti pencuri saja. Padahal itu kan kamarnya.


Saat masuk ke kamar itu, ia tak menemukan sang istri. Tapi, ia mendengar suara air dari dalam ka mar man di. Ia pun menyeret kakinya ke sana.


"Ngapain kamu?"


Aawwuuuggghh...


Rara terkejut mendengar suara Bimo, ia memutar tubuhnya. Dan selang kran air yang dipegangnya ikut memutar tepat ke arah Bimo. Tentu saja Bimo jadi basah. Rara sedang menyiram kakinya yang terasa panas karena terbakar.


"Rara... jangan menyiramku...!"


Rara yang panik, malah kebingungan, tangannya malah terus mengikuti ke mana Bimo berlari, sehingga Bimo sudah seperti bunga yang perlu disiram di pagi hari.


"Rara... Hentikan, aku sudah mandi..!" teriak Bimo, ia yang kesal. Akhirnya menghampiri Rara. Menarik selang kran air dari tangan Rara. Tapi, anehnya Rara menahannya. Bimo kembali mencoba menarik selang kran air itu. Akhirnya mereka tarik menarik kran air itu.

__ADS_1


TBC


Like, coment vote hadiah say.


__ADS_2