GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Pria idaman


__ADS_3

Bimo saat ini sedang keteteran, ia hendak memakai CD nya. Ia yang tadinya sedang berjoget-joget ringan dalam keadaan polos, tanpa sehelai kain di tubuhnya, agar tubuh nya sedikit hangat sehabis mandi. Handuk baru saja dilepas. Kedua tangan siap memasang sarung ular kobra. Dan pawang betina baru masuk sarang ular.


Bimo dengan cepat berbalik badan, dengan perasaan tak karuan.


"Aku gak lihat, aku gak lihat..!" Rara masih heboh sendiri. Ia menutup matanya dengan satu tangannya di mana jemarinya terbuka dan satu tangan lagi asyik menunjuk-nunjuk ke arah Bimo, yang tak jadi memasang CDnya, yang sudah naik setengah tiang itu.


Bimo terlihat panik dan bingung, ia merasa kesusahan meraih handuknya yang ada di hadapannya, tepat di atas ranjangnya, dengan satu tangan berusaha menutup bokongnya. Setelah mendapatkan handuknya. Bimo dengan cepat membelit kan handuknya itu ke pinggangnya.


Ia berjalan dengan susah payah menuju kam ar man di. Karena CD yang dipakainya sudah naik setengah tiang.


Hahahahha ...


Rara tertawa cekikikan, kenapa suaminya itu bodoh sekali. Kenapa malah melarikan diri dan masuk ke kamar man di, yang jalannya terlihat kesusahan, karena CDnya jadi penghalang di betisnya.


Kekwkwkw...


"Gak pandai pakai celana atau buka cela -na ya paman..?" teriak Rara sambil menahan perutnya yang terasa kram, karena terlalu keras yang tertawa.


"Keluar.... Keluar dari kamarku!" sahut Bimo dengan suara meninggi. Kejadian ini membuatnya sangat malu.


"Gak..!" Jawab Rara tegas.


"Keluar....!" suara Bimo terdengar penuh kebencian dari dalam.


"Paman itu aneh, kita sudah menikah. Kenapa paman jadi malu seperti itu? Aku gak akan keluar, sebelum paman memberikan baju untukku." Ujar Rara dengan bingungnya.

__ADS_1


Baju? ohhh bajunya basah semua?


Bimo membathin.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan? kalau kamu sadar, kenapa kamu malah ingin pergi." Ujar Bimo, menunggu jawaban Rara dari dalam kamar man di.


Bimo sangat malu saat ini. Aset berharga miliknya dilihat Rara.


"Aku lagi malah bahas itu. Aku ambil baju paman ya?"


"Jangan bongkar lemari. Kamu ambil saja baju yang ada di ruang laundry. Sekarang kamu keluar Rara...!" Bimo sudah kedinginan di dalam kamar man di. Ia gak tahan lagi, kalau gak berpakaian.


"Di ruang laundry, di dekat dapur dong? gak mau, aku takut pergi ke situ. Pasti ada hantu di dapur." Ujarnya dengan bergidik ngeri.


Ia yang merasa kedinginan, memutuskan untuk menghangatkan tubuhnya dibalik selimut nya Bimo yang lembut dan sangat tebal itu. Rara pun membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya Bimo. Ia yang hanya memakai handuk, menutup seluruh tubuhnya.


Hening


Tak ada sahutan. Hanya terdengar suara petir dan suara rintikan air hujan di genteng.


"Rara..!" Bimo ingin memastikan apakah Rara sudah keluar dari kamar itu atau tidak.


Tak ada jawaban.


Ia sudah keluar.

__ADS_1


Bimo membathin, mulai menekan handle pintu kamarnya. Celingak-celinguk menyoroti sudut kamarnya yang berukuran 3x4 meter itu.


Huffft


Bimo menghela napas berat. Mengelus dadanya yang masih berdebar-debar. Ia heran dengan dirinya. Kenapa ia sekarang merasa sangat enggan pada Rara. Apa karena mereka sudah lama tak komunikasi?


"Ia sudah pergi, syukurlah."


Bimo lebih waspada. Ia tak melepas lagi handuk yang membelit pinggangnya saat hendak memakai pakaiannya.


Semua yang dilakukan Bimo saat ini sedang dalam pengawasan Rara yang mengintip dari balik selimut. Bimo tak kepikiran kalau Rara masih ada di kamar itu.


Rara memperhatikan cara Bimo yang memakai pakaian itu. Pamannya itu memang sangat rupawan. Kulitnya bersih, putih, dengan otot-otot tubuhnya yang bagus dan liat. Pamannya itu juga selalu wangi. Waktu kecil, pamannya itu dulu, sering mengapit kepalanya di ketek sang paman. Disaat ia berontak, ia akan menggantung di lengan sang paman. Dan Bimo akan mengangkat tubuhnya dengan satu tangan ala- ala atlet.


Rara merasa sedih mengingat semua kenangan manisnya bersama Bimo. Seandainya pamannya itu kembali bersikap sehangat dulu. Mungkin ia akan semangat lagi menjalani hidup ini.


Kini Bimo sudah selesai berpakaian, kaos warna hitam di mix dengan celana jeans. suaminya itu melangkah ke arah kaca besar yang bertengger di dinding kamar itu. Ada rak kosmetik di sebelah cermin besar itu. Bimo mulai merapikan rambutnya dengan pomade, sehingga terlihat rapi banget dan klimis.


Suaminya itu memang tipe pria yang suka dengan penampilan rapi dan wangi. Siapa sih yang tak akan terpesona karenanya.


Hoopp


Rara dengan cepat menutup wajahnya dengan selimut. Tadi ia sempat mengintip dan arah matanya Bimo kepadanya.


Tak berselang berapa detik, ia merasakan ranjang itu bergoyang. Apa pamannya itu naik ke atas ranjang?

__ADS_1


TBC


Like, coment dan vote ya say. Kita ada give away di akhir bulan loh


__ADS_2