
"Eemmmppp... !" Rara tergagap, ia gelagapan kini
Hadeuh...
Rara merasa sangat malu, ternyata ada orang lain melihat kelakuan mereka yang tak tahu tempat. Ia pun dengan cepat merapikan bajunya yang sempat tersingkap dan menampakkan sedikit perut ramping putih mulus itu dengan wajah yang memerah.
Sedangkan Bimo yang juga terkejut. Tetap bersikap biasa. Padahal ia juga sangat malu dengan kelakuannya sendiri.
"Ada apa Jenifer?" menatap Jenifer yang kini masih mematung tak jauh dari tempat mereka duduk.
Jenifer tak menanggapi ucapan Bimo. Matanya menatap heran Rara yang kini duduk di sebelah kirinya Bimo dengan menunduk, setelah selesai membenahi pakaiannya. Bahkan hijab instan yang dikenakan wanita itu, sudah oleng dari kepala.
"Jenifer..!" seru Bimo dengan suara keras.
Jenifer terperanjat, dengan wajah murung ia mendekati Bimo dan Rara.
"Aku sudah lama menunggu Abang di kantor. Tak kunjung datang, makanya aku datang ke sini. Ini harus Abang periksa." Memberikan dokumen kepada Bimo, dengan wajah murung penuh keputus asaan.
Dengan sok cool, seolah tak terjadi hal yang memalukan. Bimo meraih dokumen itu. Memeriksanya dengan serius.
Tatapan Jenifer tak pernah lepas dari Rara yang terlihat malu di sebelah Bimo.
"Bagus... Besok kita akan bayarkan tanah yang kita beli kepada masyarakat. Kita bertemu besok di kantor." Memberikan dokumen kepada Jenifer dengan ekspresi datar.
Jenifer yang bengong memperhatikan Rara. Tak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Bimo. Bahkan dokumen yang di tangan Bimo mengatung di udara.
"Hei.... Kamu kenapa?" memukul pelan dokumen itu ke lengannya Jenifer.
"Ouuwww... Apa.. ada apa?" ia kaget saat Bimo memukul pelan lengannya dengan Dokumen itu.
"Kamu dengar gak yang aku bilang? dari tadi seperti kesambet kamu?" kini Bimo tersenyum lebar. Ia ingin mencairkan suasana.
"Bukan kesambet lagi, tapi kena serangan jantung." Kalimat itu spontan keluar dari mulutnya Jenifer.
"Sudah tak usah kamu ingat ingat yang kamu lihat tadi. Sekarang kamu pulang, istirahat. Besok kita banyak kerjaan. Kita harus bayarkan segera tanah masyarakat yang akan kita beli. Proyek ini harus cepat selesai." Ujar Bimo serius menatap Jenifer yang kini berusaha tersenyum. Menutupi kegelisahan hatinya.
."Iya bang, saya permisi dulu." Ujarnya sopan, dengan senyum tipisnya. "Mari Rara..!" melirik Rara yang duduk gak tenang di sebelah Bimo.
"Ooh iya kak." Ia pun akhirnya menoleh ke arah Jenifer, membalas senyumnya Jenifer dengan perasaan tak enak.
"Iiiihh... Nyebelin.. Ngapain sih tadi minta cium!" Rara mencubit pinggangnya Bimo gemes. "Malu, malu tahu..!" Rara yang kesel, bicara dengan gigi yang rapat.
"Malu? kenapa harus malu. Kita kan pasangan sah." Menangkap tangan sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, tapi gak harus di sini kita melakukan itu.." Berontak agar tangannya dilepas sang suami. "Jangan-jangan Bi Sakinah, Pak Ahmad dan yang ada di rumah ini pasti lihat kita saat begituan!" Rara geram dengan Bimo, yang ternyata tak sealim yang dia bayangkan.
"Mereka pasti maklum, namanya juga pengantin baru." Mengecup jemari Rara yang dari tadi berontak ingin dilepas.
Kalau Bimo sudah bersikap penuh kasih seperti itu Rara jadi terdiam. Ia malah menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Tolong jelasin, hubungan Paman dan Jenifer seperti apa?" Bicara masih menyandar kepala di bahu Bimo. Tapi, mata melirik sang suami.
"Tak usah bahas Jenifer." bicara datar, membalas tatapan sang istri.
"Heran saja, kenapa kak Jenifer bisa kerja dengan paman. Paman tahu kan dulu, kak Jenifer dipecat dari perusahaan ayah, karena apa."
Hhuuffftt..
"Iya, saat itu ia lagi butuh uang. Gelapkan uang perusahaan dia saat diberi tanggung jawab bayar pajak "
"Tahu gitu, kenapa paman malah memberinya tanggung jawab sebesar itu. Dari pembicaraan tadi serta aku baca dokumen yang diberikannya. Paman memberi dia tugas menghandle pembayaran tanah yang akan dibeli. Kalau ia korupsi gimana?"
Bimo terlihat berfikir mendengar ucapan Rara.
"Ia, aku sudah berfikir ke arah itu. Jenifer kenal dengan pemilik tanah yang kita beli. Setelah ia bicara dengan pemilik tanah. Mereka pun akhirnya mau menjual Tanahnya ke kita. Padahal sebelumnya mereka tak setuju." Jelas Bimo dengan serius.
"Oohh...!" Rara mengangguk. Berarti suaminya itu mempekerjakan Jenifer karena, Jenifer berperan banyak dalam proyeknya.
"Masih penasaran aku tu, hubungan suami ku ini dengan kak Jenifer dulu seperti apa? bener kalian pacaran kan? karena waktu itu, saat aku pergi ke kantor ayah. Aku dengar ia suka paman. Dan paman juga suka sama dia." Rara bicara dengan wajah murung.
"Iihh... Bukannya dijelasin." Rara berontak saat Bimo menarik tangannya.
"Gak ada yang perlu dijelaskan juga. Kalau kamu dengarnya seperti itu, ya sudah. Intinya kan kita yang berjodoh." Merangkul sang istri dari samping, berjalan meninggalkan taman belakang.
"Iya sih, tapi ceritakan dulu suamiku!"
"Gak ada waktu bahas orang lain. Mending kita JJS naik sepeda. Ok!" mereka yang sudah sampai di garasi, langsung mengeluarkan sepeda.
Wajahnya Rara berbinar-binar. Ia sudah lama menginginkan moment ini dengan Bimo. Dulu juga saat ia kecil. Bimo selalu mengajak nya naik sepeda.
"Baiklah.. Suamiku...!" Rara sudah naik diboncengan. Duduk menyamping dan memeluk pinggang sang suami. Ia malah menyandarkan kepalanya di punggungnya Bimo yang bidang. Ia merasa bahagia sekali.
"Pegang genting yang erat ya istriku, istri kecilku..!" ujar Bimo semangat, melirik Rara diboncengan.
"Kecil? siapa juga yang kecil?" Rara tak suka dipanggil istri kecil.
"Ya kamulah, emang badan kamu besar?" pembicaraan ngaur, menemani perjalanan mereka menikmati indahnya perkebunan Bimo.
__ADS_1
"Eemmm... !" Rara tak mau membahas mengenai badan. Nanti malah ngaur hingga membahas organ organ tubuh. Suaminya itu pandai sekali memancing mancing.
Tak mendapat respon dari Rara, Bimo pun akhirnya bersenandung. Menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Celine Dion
I'll be waiting for you
Aku akan menunggumu
Here inside my heart
Di sini di dalam hatiku
I'm the one who wants to love you more
Akulah yang ingin lebih mencintaimu
You will see I can give you everything you need
Kamu akan melihat ku dapat memberikan semua yang kamu butuhkan
Let me be the one to love you more
***Biarkan aku menjadi orang yang lebih
mencintaimu***
Suara Bimo memang merdu dan syahdu. Ia memang pandai bernyanyi bahkan dengan nada tinggi sekalipun.
Tentu saja Rara dibuat baper dengan sang suami yang menyanyi seolah curahan hati Bimo untuknya.
Rara tersenyum penuh kebahagiaan. Ia juga ikut menyanyi berduet dengan sang suami.
"Sayang... Sebentar ya, kita ke cafe dulu. Aku kebelet pipis!" ujar Bimo, membelok kan sepedanya ke cafe miliknya. Ya mereka tengah melintas di depan cafe itu.
"Sebentar koq, kamu tunggu di sini saja." Bimo mengelus lembut bahu sang istri. Setelah keduanya turun dari sepeda.
"Iya sayang!" Rara tersenyum manis. Bimo pun berjalan cepat menuju cafe. Tentu saja saat ia masuk ke gedung cafe itu. Banyak karyawannya yang menyapa dan memberi hormat.
Tak sampai sepuluh ia sudah keluar dari gedung Cafe. Berjalan tergesa-gesa menuju sepeda terparkir.
"Astaga.... Anak itu, ngapain ganggu istriku!"
Bimo geram, melihat seorang pria mengajak Rara bicara
__ADS_1
TBC
Like coment vote hadiah nya dong.🙏🤭