
Rara tetap saja menggandeng tangannya Bi Sakina, mendekati Bimo yang duduk di kursi kerjanya dengan wajah telungkup di atas meja.
Dengan ragu ia memanggil suaminya itu. Ia jadi tak tenang kenapa suaminya itu malah terduduk di kursi dan telungkup wajah nya di atas meja. Tak mungkin kan suaminya itu mati?
"Sayang ..!"
Rara menggoyang pelan bahu sang suami. Tapi, tak ada respon. Dilihat dari gestur tubuhnya sih, tanda tanda orang hidup masih ada.
"Cinta....! bangun....!" terus menggoyang tubuhnya Bimo. Tapi, tetap pria itu tak memberi respon. Hal itu membuat Rara semakin kalut. "Pamann... Bangunnn..!" menggoyang tubuhnya Bimo lebih keras lagi.
Usaha terakhir membuahkan hasil. Bimo terbangun, dan langsung menoleh ke sang istri di sebelahnya dengan terkejut. Ia sampai terperanjat dari tempat duduknya.
"Rara, kamu di sini?" ujarnya heran dan bingung melihat sang istri di hadapannya. Mengucek ucek matanya, guna memperjelas penglihatannya. Kini kedua matanya Bimo memerah sudah.
Rara langsung memeluk suaminya itu. Wanita itu beranggapan suaminya itu sudah dicabut nyawanya oleh malaikat Izrail tadi
"Kenapa gak pulang? kenapa malah tidur di sini? aku itu sangat mengkhawatirkan kamu sayang!" bicara dengan penuh kekesalan dengan air mata yang mengucur deras jatuh membasahi pipi mulusnya. Rara sungguh dibuat tak tenang, karena suaminya itu tak ada kabar.
Bimo tak tega melihat kesedihan sang istri. Ia langsung menarik wanita itu kepelukannya. Dan Bi Sakinah keluar dari ruangan itu. Ia merasa jadi obat nyamuk.
"Maaf sudah membuatmu khawatir." mencium puncak kepala sang istri lembut. Aku tadinya sedang bekerja, gak tahunya malah tertidur." Ujarnya menampilkan ekspresi tegar. Wajar Bimo tertidur, karena semalam ia tak tidur bareng sedetikpun.
"Kalau kantuk, kenapa gak pulang dan tidur di rumah. Besok kan bisa dilanjutkan pekerjaan nya." Ujar Rara sedih, mendongak menatap sang suami, ia masih dalam dekapan Bimo.
"Iya, saking kantuknya. Aku malah gak tahu kalau sudah tertidur." Jawab Bimo dengan tersenyum manis, kemudian pria itu mencium lembut keningnya Rara.
Melihat kekhawatiran sang istri, membuatnya senang. Ternyata istrinya itu benar benar takut kehilangannya. Telat pulang langsung dicariin.
Lama Bimo memeluk Rara dengan mata terpejam. Ia merasa damai, setresnya hilang sudah dalam dekapan sang istri.
"Sampai kapan kita dalam posisi seperti ini?" ujar Rara menggoyang tubuhnya Bimo. Mereka masih berdiri dan Bimo memeluknya erat disisi meja kerjanya.
"Oohh iya, hehheh...Ayo kita pulang!" Bimo tak mau menunjukkan wajah kusutnya di hadapan sang istri. Ia tak mau istrinya itu terbebani pikirannya dengan masalah ini. Ia juga sangat malu dengan kelakuan bodohnya yang tak hati hati memberi kepercayaan pada orang lain. Sehingga ia kena tipu.
Sesampainya di rumah, memang benar Bimo sangat kantuk. Bahkan mengganti baju saja ia tak bisa menunggu lagi. Ia ambruk di ranjang empuk mereka dan langsung tertidur. Rara yang membuka baju kerja yang dikenakannya saja, tak mengusik tidurnya.
__ADS_1
"Sayang... Beneran sudah tidur?" Rara mentoel pipinya Bimo yang apabila diperhatikan dekat, terlihat tegang. Ada raut kecemasan di wajah sang suami.
"Ya beneran tidur. Apa sekantuk itu?" ujarnya, berbaring di sebelah Bimo. Ia kembali memperhatikan lekat wajah sang suami yang terlihat lelah dan penuh kecemasan, padahal sedang tertidur.
"Apa masalah cafe yang terbakar, membuat sehancur ini?" Rara bicara sendiri, masih memperhatikan lekat wajah sang suami. "Yang sabar ya sayang, aku akan tetap di sisimu, apapun yang akan terjadi." Mencium penuh penghayatan keningnya Bimo. Kemudian wanita itu memeluk erat sang suami.
***
Tiga hari pun berlalu. Rara merasa ada perubahan yang ekstrim dari sikap sang suami kepada nya. Bimo jarang mengajaknya bicara. Jikalau ia mengajak suaminya itu komunikasi, jawabnya sangat singkat. Dan akan menghindar. Bahkan Bimo sudah keluar rumah setelah sholat subuh dan akan pulang setelah pukul 10 malam ke atas. Disaat suaminya sudah pulang, ia sudah tertidur.
Anehnya ia juga tak pernah dibolehkan ikut ke kantor. Rara sedikit curiga. Tapi, ia menepis anggapan negatif tentang perubahan suaminya itu. Mungkin karena ada masalah cafe yang terbakar makanya Bimo jadi lebih sibuk.
Selama tiga hari itu, Rara sangat merasa bosan. Syukurlah ada momsky Zahra yang sering menelponnya minimal sekali sehari dalam kurung waktu tiga hari ini.
Rara melirik jam yang bertengger di dinding ruang tamu. Dari tadi ia menunggu sang suami pulang kerja. Pukul 20.35 Wib. Bimo sih mengangkat teleponnya. Katanya ia akan pulang setengah jam lagi. Tapi, lihatlah sudah pukul 10 malam, belum pulang juga.
"Dia kenapa sih? aku yakin ada yang tak beres ini." Rara bermonolog, mondar mandir hilir mudik di ruang tamu dengan perasaan tak tenang. "Aku akan menunggunya pulang, aku tak boleh ketiduran." Ujarnya, memilih duduk di sofa berwarna ungu itu. Capek juga ia dari tadi hilir mudik di ruangan itu.
Bosan menunggu eehh.. Rara malah tertidur di sofa. Ia pun terbangun, karena mendengar suara jam yang berbunyi setiap satu jam itu.
Hingga perhatiannya pun kini teralih, disaat mendengar suara deru mesin mobilnya Bimo memasuki halaman rumah mereka. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu utama itu. Langsung menghampiri Bimo yang baru saja turun dari mobilnya.
"Loh sayang, koq belum tidur?" tanya Bimo dengan ekspresi wajah lelahnya.
Bruuggkk..
Ia langsung memeluk Bimo. Sontak Bimo terkejut dengan kelakuan Rara.
"Napa, kamu kangen...?" menggoda Rara yang kini masih memeluknya erat. Sebenarnya Bimo sangat lelah. Ia ingin cepat istirahat, badannya sakit semua, seperti digebukin orang sekampung.
"Ia, kangen. Kangen banget pun!" ujarnya masih memeluk Bimo.
Cuupp
Bimo mengecup pelipis sang istri.
__ADS_1
"Sama.. Maaf ya, tiga hari ini aku tu sibuk sekali." Menggendong Rara ala bridal style. Perlakuan Bimo kali ini membuat nya senang. Senyum manis tak bisa disembunyikan lagi.
"Ia sayang aku bisa mengerti. Tapi aku heran sama perubahan sikapmu sayang. Kalau sibuk, kenapa aku dilarang ikut ke kantor. Kalau banyak pekerjaan, aku bisa bantu!" Tegas Rara, ia memperhatikan lekat wajah lelah nya sang suami yang masih menggendongnya sambil menaiki anak tangga.
"Kalau kamu ikut kerja, nanti kamu lelah, capek. Nanti aku minta pijit, kamunya pasti gak mau."
Mereka sudah sampai di kamar. Bimo mendudukkan Rara di tepi ranjang.
"Iihh koq gitu sih ngomongnya. Kalau mau dipijat bilang aja, gak usah nyindir kali sayang." Ujar Rara, bangkit dari duduknya, menghampiri Bimo yang kini sedang berganti pakaian. Ia bahkan ikut membantu sang suami melepas semua pakaian.
"Yang itu gak usah dilepas." Bimo menahan tangannya Rara untuk melepas kolornya.
"Kenapa jadi pemalu?" selidik Rara heran, biasanya juga suaminya itu sangat bangga memamerkan miliknya. Kini kenapa gak bisa dilihat?
"Hehehe.... Gak apa apa, ayo pijit " Titah Bimo langsung menelungkup tubuhnya di atas ranjang.
"Iya," Rara mengambil minyak zaitun di atas meja hiasnya. Ia pun mulai memijat punggung sang suami.
"Aku perhatikan kamu banyak berubah sayang?" masih memijat punggung nya Bimo yang berotot keras itu.
"Gak berasa, mending adek pijat pakai kaki saja deh. Adek berdiri di atas punggung. " bukannya menjawab pertanyaan Rara. Malah mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong jangan asal deh sayang. Apa kamu mau semua organ dalam mu keluar, dengan meminta ku menginjak kamu?" ujar Rara dengan herannya.
"Habis kamu bukannya memijat, kamu itu hanya mengelus elus. Buat geli tahu." Jawab Bimo dengan suara lemah, ia seperti nya sudah kantuk sekali.
"Emang sengaja." Jawab Rara tersenyum simpul. Ia memang kangen Bimo, sudah tiga hari mereka tidak mantap mantap
"Eemmm... Sebelum tidur, kita Sunnah rosul dulu yuk? ini malam Jumat loh!" ujarnya malu malu. Ia memberanikan diri meminta duluan. Dadanya berdebar hebat saat mengatakan itu. Ia sebenarnya malu, tapi ia memang sedang ingin.
Tak ada jawaban dari sang lawan bicara, yang membuat Rara penasaran. ia pun akhirnya melirik Bimo. "Ya ampun, ia sudah tertidur." Ucapannya pelan, menepuk jidat sendiri.
"Tadi paman dengar gak ya, aku yang meminta begitu an?" ucapnya, menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kalau ia dengar dan tak mau, itu kan memalukan sekali." Ucapnya yang hanya bisa didengar olehnya. "Seperti nya paman gak dengar. Syukurlah.. Aku bisa malu..!". Rara yang merasa malu sendiri itu, akhirnya memutuskan untuk tidur memeluk sang suami, yang terlihat sudah nyenyak tidur.
__ADS_1
TBC