GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Ke kantor polisi


__ADS_3

Rara yang tak terbiasa bangun cepat. Akhirnya hari ini bisa bangun cepat juga, karena Ia sudah tak sabar untuk menjenguk sang suami ke kantor polisi. Ia dan Bi Sakinah sedang di dapur memasak banyak makanan untuk sang suami. Termasuk olahan dari telur. Karena Bimo sangat suka makan telur.


"Non, biar aku aja saja yang menyiapkan semuanya. Non bersiap siap saja dulu. Dandan yang cantik untuk tuan." Ujar Bi Sakinah melirik Rara Yang menata makanan di rantang.


"Dandan, mana kepikiran lagi untuk dandan Bi. Sekarang aku sedang memikirkan, haruskah aku minta bantuan pada ayah, mengurus semua ini. Tapi, harus berdiskusi dengan Paman." Ujar Rara sedih, masih terus melanjutkan kegiatannya.


"Ia non didiskusikan dulu. Nanti malah salah paham lagi. Ya sudah sana non siap siap. Ini bisa ku kerjakan." BI Sakinah mendorong Rara agar masuk ke kamarnya. Toh di dapur juga, Rara tak bisa ngapa-ngapain. Ia hanya bisa masak air, telor ceplok dan masak mie instan.


Setengah jam akhirnya Rara turun dari lantai dua, langsung menuju dapur. Biasanya juga ia membutuhkan waktu lama untuk dandan. Ini karena waktu yang mendesak, semua kebiasaan lama yang berhela Hela, harus ditinggalkan. Ia sekarang bukan lagi anak konglomerat. Ia sudah jadi istri dari pria biasa. Yang sedang merintis usaha dari nol.


Semua makanan dan perlengkapan untuk keperluan Bimo sudah disiapkan Bi Sakinah. Termasuk pakaiannya. Siapa tahu Bimo membutuhkan baju ganti di tahanan.


"Bi, aku pergi dulu. Jikalau ada orang datang ke rumah. Menanyakan tentang paman dan aku, bilang bibi gak tahu kemana kami pergi ya!" ujar Rara menatap lekat Bi Sakinah.


"Ia non, Bibi doa kan masalah cepat selesai dan tuan tidak masuk penjara." BI sakinah terlihat sedih. Ia merasa Bimo orangnya sangat baik. Ia sangat menyayangkan kejadian ini.


"Ia Bi." Rara menyeret langkah nya ke mobilnya Bimo yang akan membawanya ke kantor polisi. Saat hendak masuk ke dalam mobil. Perhatian nya teralihkan ke sebuah mobil mewah sport merk Lamborghini warna merah, berhenti tepat di depan mobilnya Bimo, menghalangi mobil yang akan ditumpangi Rara.

__ADS_1


Terlihat seorang pria bertubuh tegap turun dari mobil mewah itu, memakai pakaian casual dipadu jaket jeans. Memakai topi, serta kaca mataonochrom. Berjalan ke arah nya Rara dengan ekspresi wajah datarnya.


"Mau ke kantor polisi?" ujarnya ramah, membuka kaca matanya, sehingga Rara sedikit terkejut dengan pria yang mengajaknya bicara. "Kita pergi bareng saja!' tawar pria itu masih dengan ekspresi wajah ramahnya.


"Kamu gak ada kerjaan usik hidupku." Rara mulai tak suka dengan pria di hadapannya. Gara gara kehadiran pria ini dalam hidupnya. Ia jadi banyak masalah.


"Hei, siapa yang ingin mengusik hidupmu. Aku hanya mau menawarkan kebahagiaan saja untuk mu. Bukan penderitaan seperti yang diberikan suami mu itu!" Alva tertawa kecil, ia merasa lucu dengan Rara yang tetap membela sang suami, padahal suaminya sudah bersikap jahat padanya.


"Gak usah ikut campur. Kamu harus cabut laporan itu, sebelum aku balas kamu." Rara yang kesal, menujuk Alva.


"Bukan aku yang laporkan, ini aku mau ke kantor polisi. Kalau kamu bersikap baik padaku. Aku akan bantu suamimu lepas dari jeratan hukum." Ujar pria itu penuh percaya diri.


"Ini kamu ngengas Mulu." Ujar Alva enteng. Merasa lucu, Rara yang emosi.


"Aku tak butuh bantuanmu. Kamu pikir aku bodoh, aku akan buat laporan, kalau kamu menguntitku. Mengambil fotoku secara diam diam, tanpa persetujuan."


Ucapan Rara tentu saja ditertawakan Alva. "Kalau hanya di foto saja, ya gak masalah kali. Kecuali tadi aku sebarkan ke media sosial, baru salah."

__ADS_1


Rara terdiam, bener yang dikatakan Alva. Ia yang tak mau buang buang waktu, masuk ke dalam mobil mobilnya.


Ia yakin, ini pasti ulah Alva. Siapa lagi coba yang laporin kalau bukan dia. Kan lawannya Bimo si Alva.


Mobil yang ditumpangi Rara melaju dengan kecepatan sedang. Dan Alva membuntuti mobil itu.


Sesampainya di kantor polisi, Rara bergegas masuk ke dalam. Melapor pada piket, menanyakan kasus tentang suaminya. Saat membaca laporan itu, Rara dibuat terkejut karena memang bukan nama Alva sebagai pelapor.


"Pak, suami saya gak bersalah. Aku saksi ditempat itu. Aku bisa jelaskan semuanya pak!" ujar Rara berapi rapi, padahal pak Polisi tak memerlukan penjelasan dari Rara lagi, karena bukti yang terkumpul kuat. Ada hasil visumnya Alva, foto, serta video kekerasan dilakukan Bimo. Karena, di video itu, terlihat Bimo terlebih dahulu menyerang Alva.


"Tu kan bukan aku yang laporin, jangan main tuduh loe Ra!" Alva yang sudah ada di tempat itu, membaca laporan kasus itu.


Rara mendengus kesal.


"Ini korbannya pak. Korbannya saja gak keberatan dengan pertengkaran itu. Kenapa malah ada orang yang keberatan. Wajah suami saya juga babak belur. Bahkan suami saya lebih parah lukanya. Kalau ada kasus diusut dengan bijak dong! jangan karena kami orang tak punya, hukum tumpul ke atas runcing ke bawah" Entah keberanian dari mana yang didapatkan Rara. Ia malah sok bijak dihadapan pak polisi.


"Adek, gak ada gunanya adek ribut ribut di sini. Yang penting itu nanti di pengadilan. Kalau pihak suami ibu bisa buktikan tak bersalah, ya sudah kasus tutup." Jawab Pak polisi sopan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2