
Dua jam Rara memikirkan tawarannya Bimo. Akhirnya ia pun memutuskan untuk ikut membantu sang suami. Apalagi katanya, di sana sedang kekurangan karyawan. Tak apalah ia jadi waiters. Semoga dengan dirinya bekerja di tempat itu. Pengunjung jadi ramai.
Rara yang ingin menikmati indahnya pemandangan perkebunan miliknya Bimo, akhirnya memutuskan naik sepeda saja. Hitung - hitung oleh raga.
Sepanjang jalan mata disuguhkan dengan view yang asri. Yang buat mata segar dan hati bahagia. Tatanan perkebunan Bimo memang sangat cantik. Tak hanya susunan tanaman buah dan sayur yang buat gemes. Tatanan ber-bagai bunga di perkebunan itu juga sangat indah. Ditambah di setiap sudut perkebunan ada spot foto.
Saat asyik bersepeda menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Rara melihat mobilnya Bimo melaju di hadapannya. Entah kenapa ia jadi salah tingkah, antara mau menyapa atau tidak. Tangannya sudah mau terangkat untuk melambai. Tapi, syukur sekali ia tak melakukan itu, tidak menyapa suaminya yang sedang melintas itu. Karena, sang suami pun sedikit pun tak ada basa basi menyapanya. Tak mungkin kan, Bimo tak melihatnya. Orang saat itu jalannya sepi.
Seorang istri berpapasan dengan sang suami, tak ditegur. Teman atau tetangga saja, jika berpapasan kita say hello.!
"Dasar kutu kulkas, buta kali matanya gak melihatku di hadapannya. Baru kutahu sifat aslimu paman. Kau itu angkuh, sombong, sok kecakapan lagi. Kalau gak ingat kamu baik padaku saat kecil. Aku pun tak akan bersikap baik seperti saat ini. Jatuh terus harga diriku kau buat...!" Rara menggerutu sepanjang jalan. Wajahnya terlihat penuh amarah. Dadanya sesak, karena merasa dikucilkan.
"Emang kamu saja yang bisa bersikap sok gak kenal. Lihat saja nanti. Orang ada batas kesabarannya." Wanita itu tak henti-hentinya mendumel. Wajah putih cantiknya kini memerah sudah.
Aaaarrggghhh...
__ADS_1
Rara berteriak, meluapkan kekesalan di hatinya.
"Tak boleh menangis... Rara kamu harus kuat. Ini tak seberapa. Kehidupan lebih kejam sudah kamu lalui. Bahkan kamu sudah merasakan di tahan di jeruji besi selama dua hari. Harusnya kamu itu tahan banting. Mulai dari sekarang, tak usah berharap dicintai lagi..!" ujarnya dengan frustasinya.
Wanita yang lagi emosional itu mendongak, menatap langit yang biru cerah. Ia sedang menahan air matanya agar tak tumpah saat ini.
Aaarrgghhh....
Huufftt...
Rara memotivasi dirinya sendiri. Ia pun mengubah raut wajahnya. Mencoba tersenyum, karena saat ini ia sudah sampai di tempat objek wisata milik sang suami.
"Jam segini sudah ramai?" Rara yang baru pertama kali datang ke tempat itu, tak henti-hentinya berdecak kagum. Memang tempat objek wisata miliknya Bimo sangat bagus. Tempat nya adem, sejuk, buat suasana hati senang di tempat itu.
Di sebelah Utara ada tanaman jeruk, marquisa, di sebelah timur ada semua jenis sayuran. Bahkan ada berbagai jenis bawang serta cabe.
__ADS_1
Di sebelah selatan ternyata lebih di fokuskan untuk tanaman stroberi. Bahkan spot di bagian itu sangat banyak. Di tempat itu juga ada Tugu strawberry nya.
"Ya ampun keren banget objek wisata kebunnnya Paman." Ujarnya membaca nama kebunnya Bimo. OBJEK WISATA KEBUN CINTA MANIS.
Preett...
Rara mau muntah membaca nama kebun milik sang suami. Namanya itu loh bertolak belakang dengan karakter si empu nya.
Huuuuffftt
"Indah sekali... kalau begini tempatnya gak apa-apa lah aku kerja gak digaji. Asal bisa maka buah strawberry nya satu kilo setiap hari." Ujarnya berdecak kagum, menatap ke arah barat. Di bagian itu ada taman bunga dengan warna yang cerah merona.
Rara yang melihat wisatawan semakin banyak, akhirnya menyeret kakinya ke dalam. Ternyata untuk masuk ke obyek wisata miliknya Bimo tak dipungut biaya masuk, bahkan tempat parkir gratis. Inilah mungkin yang jadi salah satu daya tarik utama, sehingga banyak wisatawan yang berkunjung. Walau obyek wisata itu baru dibuka dua Minggu.
TBC
__ADS_1
Banyak vote dan hadiah, kita grazy up😀