
Saat Rara masuk ke cafe konsep outdoor itu. Para karyawan dan manager cafe menyambut hangat Rara. Ia bahkan dipersilahkan masuk ke ruangan privatnya Bimo.
Ooowww... Dia sudah mengatakan pada karyawannya, kalau aku akan ke sini?
Rara membathin, masuk ke ruangan kerjanya Bimo dengan ramah dan penuh semangat. Sesampainya di ruangan itu, tentu saja ia sedang menilai ruang kerjanya Bimo yang desain interiornya minimalis. Dan ruangan itu jendelanya menggunakan kaca - kaca besar. Sehingga view perkebunan bisa dinikmati dari dalam ruang kerja sang suami.
"Aku kan ke sini mau kerja. Ngapain masuk ke ruangannya? dari pada kena semprot, lebih baik aku langsung terjun ke lapangan." Ucapnya sendiri, keluar dari ruang kerjanya Bimo, Ia mengambil daftar menu, dan menghampiri para pengunjung.
Baru juga keluar dari gedung cafe. Salah satu pengunjung di meja paling depan memanggilnya. Tentu saja ingin memesan makanan. Rara melayani wisatawan dengan ramahnya. Saking ramahnya, ia jadi pusat perhatian di tempat itu. Mana Rara pakaian lumayan menarik perhatian dari karyawan lainnya.
Ia hanya memakai crop lengan panjang dengan celana cutbray Highwaist. Tentu saja disaat tertentu, perut putih rampingnya Rara terlihat.
Rara yang biasa dengan pakaian sedikit terbuka, tetap percaya diri dengan penampilannya. Walau ia juga merasa, bahwa semua mata karyawan nya Bimo tertuju padanya.
Rara tak mau ambil pusing dengan tatapan aneh lara karyawannya Bimo. Karena, ia merasa pakaian cukup sopan. Hingga ia pun sudah dua jam menjadi Waiters. Akhirnya ia mendapatkan teguran dari Bimo, yang baru saja datang ke tempat itu.
"Kamu gak lihat penampilan para karyawan di sini pada sopan?" Bimo menegur Rara, yang hendak berjalan ke meja wisatawan yang ingin memesan makanan.
__ADS_1
Rara melirik sang suami sekilas. Kemudian memperhatikan karyawan lainnya. Ya penampilan karyawannya Bimo sopan semua. Bahkan wanita diwajibkan pakai hijab, dan baju mereka adalah seragam dengan logo Kebun Cinta Manis.
"Iya maaf!" Rara yang tak mau berdebat. Memilih meninggalkan sang suami. Ia menjumpai manager cafe itu. Meminta baju seragam seperti yang dipakai karyawan lainnya.
Tentu saja Bimo heran melihat sikap istrinya itu. Biasanya juga setiap mereka komunikasi pasti bertengkar. Tapi, kali ini istrinya itu kalem. Bahkan bersikap seolah mereka tak saling kenal.
Sepuluh menit, Rara sudah mengenakan baju seragam warna ungu itu. Karena hijab tidak disediakan. Maka, Rara tak memakai hijab saat melayani pengunjung. Agar terlihat lebih rapi. Ia mengikat cepol rambutnya. Sehingga kini leher jenjang putih mulus itu terekspos indah. Tadinya Rara hanya mengikat kuncir setengah kuda rambutnya.
Rara kembali melayani para wisatawan. Yang semakin sore, pengunjung nya semakin banyak. Ia mulai merasa kelelahan. Karena mondar-mandir seharian.
Rara yang merasa kakinya mulai terasa sakit itu, memutuskan untuk duduk di bangku kayu yang ada di kebun stroberi. Ia bersantai sejenak, sambil menikmati buah stroberi yang manis dan segar itu. Sesaat ia merasakan lelahnya hilang. Karena memakan stroberi segar itu, membuat pikirannya tenang.
Rara terkejut, ia pun melirik Bimo yang ada di sebelahnya, suaminya itu malah memarahinya yang lagi istirahat. Sejak ia datang ke tempat itu. Ia hanya istirahat saat makan siang saja. Itupun hanya 20 menit. Setelah itu ia kembali bekerja. Kali ini, ia merasa kakinya mulai pegal. Makanya ia sedang beristirahat, mengumpulkan tenaga.
"Iya." Jawabnya pendek dengan ekspresi wajah datarnya. Ia meninggalkan Bimo yang tercengang.
"Sudah tahu kan gimana capeknya cari uang? dulu kamu seenaknya saja, berfoya-foya."
__ADS_1
Rara geram dengan ucapan sang suami. Wajahnya terlihat mengeras. Saat ini ia sedang tak ingin disalahkan. Kalau menasehatinya dengan cara begini. Ini namanya membully.
"Apa paman gak ada kerjaan, masih merepet padaku? aku tahu, paman itu tak menganggap ku istri. Makanya paman buat ketentuan training selama sebulan. Tenang saja, aku akan kerja keras. Agar setimpal dengan apa yang ku makan dan membayar barang-barang yang paman berikan semalam." Ujarnya dengan ekspresi serius. Ia pun berbalik badan, melangkah dengan merapatkan giginya. Seolah ingin memakan suaminya itu hidup-hidup.
"Kamu memang gak bis,"
Rara memutar tubuhnya cepat dengan tatapan tajam. Sikap Rara membuat Bimo terhenyak.
"Gak usah mengajak ngobrol saya, kalau hanya untuk menyudutkan dan menyalahkan." Ujarnya kesal, dan melanjutkan langkahnya dengan perasaan dongkol.
"Lama-lama aku koq jadi ilfeel. Jadi orang koq merasa paling sempurna saja." Rara menggerutu, melangkah kakinya lebar. Ya, kalau kita sedang emosi, pasti langkah kakinya jadi semakin lebar dan cepat.
"Dia kenapa? kesambet penghuni perkebunan ini kali? tak biasanya ia bersikap seperti itu? biasanya juga cengengesan." Bimo bicara sendiri, menatap lekat Rara, yang kini kembali melayani wisatawan.
Bimo pun kembali masuk ke ruang kerjanya. Dari ruang kerjanya ia bisa melihat aktivitas di cafe itu, Karena ruang kerjanya kebanyakan terbuat dari kaca. Tentu saja, semua yang dilakukan Rara tak lepas dari pantauannya.
TBC
__ADS_1
"