GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Sok berkuasa


__ADS_3

"Yang mana namanya Rara dan Pak Bimo?'" tanya sang tamu dengan ekspresi sok berkuasa.


Bimo sudah merasa ada yang tak beres dengan tamu yang datang ini. Seenaknya saja bicara tak sopan di rumahnya.


"Ada keperluan apa anda dengan mereka?' Bimo menghampiri pria yang dijaga medua bodyguard itu. Bimo bicara seolah ia bukanlah Bimo.


"Saya nanya anda balik nanya?" ketus si tamu.


"Anda salah alamat, sebaiknya keluar dari rumah ini, kalau yang ingin anda temui tak anda kenal." Tegas Bimo dengan kewibawaannya.


"Sombong sekali anda. Saya ingin menemui pak Bimo, yang punya perkebunan Cinta Manis."


"Saya orangnya." Tantang Bimo, ia sudah tahu, ini pasti ayahnya Alva. Apa kekuatan uang mereka gak mempan, hingga harus ke sini.


"Oouuuwww anda, anda memang bernyali sekali ternyata. Boleh saya duduk?"


Hihihi..


Ingin rasanya Bimo tertawa. Ayahnya Alva lari segaris seperti nya. Terlalu PD.


"Anda tidak boleh duduk, kami sedang ada urusan penting. Sebaiknya anda dan kacung kacung anda, keluar dari rumah ini, sebelum anda juga menyusul anak anda masuk kantor polisi. Karena mengganggu ketentraman hidup orang." Bimo menunjuk pintu keluar dengan jempolnya. Ekspresi nya juga jadi ikut sombong.

__ADS_1


"Sombong, lihat saja apa yang bisa ku lakukan untuk kamu..!" Ayahnya Alva merasa tak dihargai. Ia diusir.


"Anda yang sombong, gak sadar sikap anda tadi sok berkuasa?" pungkas Bimo kesal. "Anda sedang berada di rumah saya "


"Gimana saya tak mau menunjukkan kekuasaan. Anak saya dijemput paksa tengah malam di rumahnya." Benar tamu itu adalah ayahnya Alva.


"Berarti anda belum dikatakan berkuasa. Buktinya anak anda bisa ditangkap. Kalau anda benar berkuasa. Anak anda gak akan bisa ditangkap. Sudah ya pak, lebih baik anda pulang. Karena kami juga ingin ke rumah sakit. Yang melaporkan anak anda bukan kami, jadi anda salah alamat datang kesini." Tegas Bimo dengan sopannya.


"Iya yang melaporkan mertua Anda. Si Ezra, ia sengaja. Karena ia ada dendam padaku." Ayahnya Alva semakin kesal.


"It urusan anda. Tak perlu anda curhat di sini. Curhatan anda tak dibutuhkan." Jawab Bimo datar.


Rara memperhatikan lekat ayahnya Alva, ada rasa kasihan juga sebenarnya. Tapi, ia kesal juga. Karena suaminya sempat ditahan sehari.


"Berkas sudah naik ke pengadilan pak. " Jelas Bimo. "Silakan cari pengacara yang bisa bela anak anda. Ok!"


Bimo menarik tangannya Rara dan merangkul nya cepat. Keluar dari rumah itu menuju mobilnya yang diparkir. Tentu saja Jenifer mengekori mereka.


"Tunggu dulu, ini istri anda. Wanita yang bernama Rara itu?" Ayah Alva menghadang Bimo dan Rara. Ia menatap lekat Rara, yang terlihat menunduk.


"Sekali lagi anda atau istri anda datang kemari. Saya juga akan laporkan anda, karena menggangu ketentraman hidup kami." Menunjuk ayahnya Alva tegas. Bosan juga Bimo, tiap jam didatangi. Katanya orang kaya, ya sudah siapkan pengacara saja yang bisa buktikan kalau anaknya tak bersalah.

__ADS_1


"Setelah mengenal wanita yang bernama Rara. Ayahnya Alva terdiam.


Bimo membuka pintu mobil untuk Rara. Ia duduk di kursi sebelah kemudi. Dan Jenifer dengan cepat naik di kursi baris kedua.


Ayahnya Alva hanya bisa memperhatikan mobilnya Bimo keluar dari pekarangan rumah.


"Bos, kenapa diam saja?" tanya si bodyguard geram. Kedua bodyguard itu tak diberdayagunakan tadi.


"Benar kata ibunya Alva, mereka susah diajak kompromi dan tak takut gertakan. Ayo kita pulang saja " Memberi kode dengan tangannya agar meninggalkan rumah itu.


Sesampainya di mesin ATM di area rumah sakit. Bimo memarkir mobilnya dan meminta Jenifer turun.


Bimo mengajak Rara mengambil uang itu. Sedangkan Jenifer menunggu di luar.


Mereka masuk ke rumah sakit, berjalan ke bagian administrasi. Bimo menyelesaikan administrasi untuk operasi ibunya Jenifer.


"Kamu saya beri cuti satu minggu. Kamu baik baik jaga ibumu ya? kami pamit dulu, maaf ya Jen, tak bisa berlama-lama di rumah sakit ini." Langsung menarik tangannya Rara lembut. Menggandeng sang istri mesra, yang membuat Jenifer terhenyak dengan tontonan mesra di hadapannya.


Ia tak boleh berharap lebih. Sepertinya Bimo tak bisa dimasuki lagi. Pria itu punya prinsip yang kuat.


Jenifer menyapu air matanya yang membasahi pipinya dengan jemarinya. Ia harus bisa mengikhlaskan Bimo. Rasanya sakit sekali. Dadanya terasa nyut nyut an. Kenapa ia terus berharap pada pria itu.

__ADS_1


Kini Bimo sedang mengendarai mobil untuk pulang. Bimo terlihat sibuk menelpon, sambil menyetir. Rara tahu yang dibahas suaminya itu ditelepon itu adalah mengenai pekerjaan kepada bawahannya. Orang Kepercayaannya selain Jenifer. Bahkan sepanjang jalan Bimo terus saja bicara di telepon. Kelakuan sang suami saat menyetir sungguh membuat Rara khawatir. Karena menelpon saat mengendarai itu sangat berbahaya. Bahkan bisa kena sanksi jika ketahuan pihak berwajib.


TBC


__ADS_2