GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Butuh bantuan


__ADS_3

Rara yang bete akhirnya memeriksa isi ke empat paper bag yang diberikan Bimo. Setiap paper bag isinya ternyata berbeda. Paperbag pertama berisi gamis, ada dua pacs. Gamis syar i tentunya lengkap dengan khimarnya. Rara mengerucutkan bibirnya melihat gamis itu. Seumur hidup, baru kali ini dia memegang pakaian yang namanya gamis.


Paper bag kedua berisi daster.


"Hahhaah... Dasar orang udik, seleranya tetap kampungan." Menertawakan Bimo, suaminya itu menyamakannya dengan ibu - ibu dikampungnya. Di rumah memakai daster.


"Eemm.... Cakep juga modelnya." Daster MIDI lengan pendek dengan model ruffle di bawah dan smoke di bagian dada. Daster midi itu ada enam pacs dengan motif berbeda semuanya. Mulai dari polkadot, bunga kecil, abstrak hingga corak Dior. "Lumayan bagus, nyaman lagi dipakai." Rara sudah mengenakan daster itu. Memperhatikan bayangannya di cermin. Ia jadi terlihat lebih dewasa tapi tetap menggoda.


"Pantes di sekolah dulu banyak cowok yang ngejar-ngejar, ternyata kecantikanku begitu paripurna." Ujarnya tersenyum tipis, kalau mengingat gombalan lara temen prianya, yang memuji-muji kecantikannya. Terkadang kita jadi besar telinga.


Dengan senyum mengembangnya Rara memeriksa lebih detail isi paperbag ketiga. "Astaga, apa paman pergi sepagi itu mau belanja dan membelikan ini semua untukku." Ujarnya merentangkan CD dan Bra yang dobelikan Bimo. "Koq ukurannya pas, terus modelnya aku suka." Ujarnya senang sekali. Ya setiap orang pasti senang dibelikan sesuatu.


"Ini, Oh my God..... Paman beli pembalut juga." Zara berdecak kagum, apa yang diperlukan berangsur - angsur dipenuhi suaminya itu. "Pembalut kainnya bagus juga." Masih dengan wajah senangnya, memperhatikan semua barang yang diberikan Bimo.


"Paman itu sebenarnya baik. Tapi, kenapa dia marah-marah terus samaku ya? apa dia menyesal telah menikah denganku? sepertinya iya. Kasihan banget sih kamu paman, menikah dengan wanita yang tak kamu dambakan? Tapi, tunggu. Paman itu pasti suka samaku. Buktinya ia mengkoleksi fotoku dari umur 0 bulan sampai 12 tahun." Rara bicara sendiri, memberi keyakinan dirinya atas perasaan Bimo padanya.


"Tapi, kalau dia suka sama ku, kenapa dia malah meninggalkanku?" Ucapnya lagi bingung. Pamannya itu misterius sekali. Kemarin ditanyain penyebab membenci, gak mau jujur. "Tahu akhh.. pusing, mending aku lakukan yang terbaik saja. Semoga ada keajaiban dalam hubungan ini. Kami akur seperti dulu. Penuh kasih sayang dan cinta.


Saat memikirkan itu semua, suara berisik terdengar di lantai bawah. Ia yang penasaran akhirnya keluar dari kamar. Ternyata lemari pakaian untuk nya sedang diangkat menuju kamarnya.

__ADS_1


Rara yang merasakan banyak perubahan dari Bimo, terkait sang suami yang mulai memenuhi kebutuhannya, merasa perlu berterima kasih pada suaminya itu. Dan perdebatan tadi, tak perlu dimasukkan dalam hati. Memang wajar jika suaminya itu marah, karena ia telah membongkar dokumen penting milik suaminya itu.


Rara mencari keberadaan Bimo di rumah itu. Tapi ia tak menemukan batang hidung suaminya itu.


Hingga sore hari, ia tetap menunggu Bimo. Tapi, Bimo belum pulang juga. Bahkan ia menunggu sampai malam, Bimo tak kunjung pulang hingga pukul 22.05 Wib. Rara yang dari tadi menyibukkan diri membaca buku yang diberikan Bimo, akhirnya tertidur di kamar lantai dua.


❤️❤️❤️


Rara yang ingin berterima kasih pada Bimo, karena sudah diberikan pakaian. Memutuskan untuk bangun cepat. Agar bisa bicara dengan suaminya itu, sebelum suaminya berangkat kerja.


Wanita itu pun memasang alarm. Benar saja usahanya sukses. Ia bangun lebih awal. Dan saat ia turun ke lantai bawah, berjalan ke ruang makan. Ia pun akhirnya bisa sarapan bareng dengan Bimo.


Dilihatnya Bimo tengah serius melahap sarapannya. Ia pun mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di hadapan sang suami.


"Iya sama-sama, itu bukan hal yang waaaww. Itu memang sudah kewajibanku." Sikapnya Bimo masih dingin.


Sabar.... Sabar.... Tunggu saja sampai satu bulan, kalau sikapnya masih sok cool dan buat penasaran seperti ini. Jangan harap, aku akan diam saja.


"Iya sih."

__ADS_1


Rara tak tahu mau bilang apa lagi. Berbasa basi pun, rasanya sudah basi duluan.


Hadeuhh....


Kalau seperti ini selama satu bulan apa enaknya. Mana ia selalu ditinggal di rumah. Karena sepertinya sang suami, lagi banyak pekerjaan di lapangan.


"Eemmm... Aku boleh gak pergi ke kebun kita yang dibuat jadi tempat wisata itu?" Rara dapat info dari BI Sakinah. Bahwa Bimo telah membuka perkebunan nya jadi tempat wisata. Jadi para pengunjung selain menikmati indahnya perkebunan sayur dan buah miliknya, juga bisa memanen sendiri buah dan sayur yang diinginkan. Dan di tempat wisata itu juga ada kuliner, karaokenya, serta taman bermain untuk anak-anak.


Ucapan Rara ternyata menyita perhatian sang suami. Ia pun melirik Rara dengan senyum tipis.


"Boleh, bahkan kamu boleh ikut kerja di sana. Karyawannya masih kurang. Terutama bagian Waitress." Mengucapkan tanpa merasa berdosa. Masak istri nya ditawari jadi waiters.


Rara menggeleng dengan tak percaya nya. Apa gak ada jabatan yang lebih baik untuknya. Misal jadi kasir.


"Oohh... Iya " Jawab Rara tak bersemangat.


"Napa? gak mau bantuin suami berusaha? makanya kamu harus mikir panjang untuk jadi istriku. Aku itu bukan orang kaya. Aku kasih kamu waktu sebulan, agar kamu gak nyesel nantinya." Tegas Bimo, malah menyudutkan dan menantang Rara.


"Bukan seperti itu, aku gak keberatan,"

__ADS_1


Rara menghentikan ucapannya. Karena melihat Bimo seolah tak tertarik bicara mendengar penjelasannya. Apalagi suaminya itu malah bangkit dari duduknya dan bersiap pergi bekerja.


"Gak usah banyak cerita. Kalau mau bantuin, gak usah nanya-nanya segala." Memberi peringatan dengan kode tangan. "Aku pergi duluan. Kamu bisa menyusul, kalau kamu gak mau jalan kaki. Kamu bisa naik sepeda motor, kan gak jauh. Hanya 1 Km dari rumah ini Kalau kamu gak bisa bawa motor. Kamu bisa naik sepeda. Ada sepeda di garasi." Setelah mengucapkan itu, Bimo langsung berangkat bekerja.


__ADS_2