GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Cantik bahaya


__ADS_3

Pondok Nek Ifah dan Rani bersebelahan. Melihat sang cucu singgah di pondok nya Rani, akhirnya Nek Ifah ikut nimbrung di pondoknya Rani.


"Ya ampun gak menyangka bakal ketemu di sini." Ujar Zahra dengan semangat. Memperhatikan penampilan Rani yang berubah drastis.


Ia akan menyampaikan kabar baik ini pada Rara. Tiga hari yang lalu Rara curhat melalui telpon pada Zahra. Rara bercerita kalau ibunya tiba tiba menghilang. Tak mau memberi tahu keberadaannya. Dan hari ini Zahra menemukan keberadaan Rani. Ini pasti akan jadi kabar yang sangat membahagiakan untuk Rara.


"Nenek, Zahra kangen Nek." Zahra yang melihat sang nenek menghampiri mereka, menyambut kedatangan sang nenek dengan antusias. Berlari kecil menghampiri nenek nya itu.


Ia langsung memeluk Nek Ifah dan mencium pipinya. Dan mencium tangan nya setelah bersalaman.


"Kangen..!" Ujarnya dengan sumringah.


"Sama, nenek juga kangen." Nek Ifah kembali menarik Zahra dalam pelukannya. "Gimana kabar mu dan ibumu?"


"Ibu sehat nek. Kalau aku, nenek bisa lihat sendiri, akunya gimana?"


"Syukurlah," Menatap ke arah Rani yang terlihat gugup itu.


"Kenal? kalian kenal dengan Rani?" tanya Nek Ifah dengan penasaran nya.


Ya Nek Ifah tidak begitu mengenal Rani, sebagai mantan istrinya Ezra. Ia tahu jika istri pertamanya Ezra namanya Rani. Tapi, ia tak pernah bertemu sebelumnya.


"Kenal Nek. Kak Rani ini," Rara mendekatkan mulutnya ke telinga sang nenek. "Kak Rani ini ibunya Rara." Ujarnya berbisik, auto Nek Ifah langsung melirik Ezra yang berdiri dengan ekspresi cukup terkejut juga. Apalagi ia mendapati sang mantan istri durhaka di pondok itu.


"Boohhh....!" keluar kamus bataknya Nek Ifah. Wanita tua itu sangat terkejut mendengar berita itu.


"Ini ibunya Rara? Rara yang kawin terpaksa dengan si Bimo? anak ya Ezra?" tanya Nek Ifah dengan herannya. Setahu di Rani itu wanita gak bener. Makanya Ezra menceraikannya.


"Iya nek, iihh... Nenek sudah mondok tapi cara ngomongnya masih saja gak di filter." Ujar Rara bergelayut manja di lengan sang nenek. Kalau sudah jumpa dengan neneknya, sang suami pun tak digubrisnya lagi.


Eehhmmm... Ehhmm...!" Ezra berdehem ddngan kuat, ia merasa diabaikan sudah.


"Ayo, ayo kita masuk dulu.!" Tawar Rani sopan, sesekali ia melirik sang mantan suami yang baru saja berdehem panjang berdiri di hadapan mereka.

__ADS_1


Zahra melirik sang suami yang kini terlihat enggan untuk masuk. Mana mungkin ia masuk ke pondok para wanita.


"Aku tunggu di pelataran Mesjid saja " Ujar Ezra. Tanpa menunggu jawaban Zahra pria itu sudah melangkah kakinya menuju pelataran Mesjid.


Kini Rani kedatangan tamu, yaitu Istri dari mantan suaminya. Jangan ditanya bagaimana perasaan Rani saat ini. Ia merasa sangat malu, tegang dan takut. Gimana tak takut, ia pernah mengancam Zahra saat di bandara. Tepatnya di toilet bandara.


"Maaf, hanya bisa berikan air putih." Rani menuangkan air ke dalam gelas.


"Gak apa apa, ini minuman yang paling menyehatkan." Jawab Zahra menepuk pelan paha sang nenek.


Nek Ifah saat ini masih terbengong-bengong. Koq bisa ia tak tahu, kalau tetangganya di pondok ini adalah mantan istrinya Ezra.


"Zahra kamu mengangetkan nenek." Nek Ifah menjauhkan tangan Rara dari atas pahanya.


"Masih bisa kaget toh nek. Kirain sudah gak bisa terkejut lagi. Habis nenek seperti orang linglung kulihat." Jawab Zahra menatap lekat sang nenek, yang masih bingung bin heran.


"Gimana gak linglung, ternyata aku tetanggaan dengan mantan istrinya suamimu." Jawab Nek Ifah dengan ekspresi wajah herannya.


Rani tahu, apa yang ada dipikiran orang yang duduk di hadapannya. Mereka pasti tak percaya kalau Rani yang berusia 40 tahun itu, ada di pondok ini. Apalagi Rani kan dulunya terkenal dengan gaya hidup Hedon nya.


"Iya ya Nek. Aku juga gak nyangka. Kak Rani banyak berubah. Padahal baru juga sebulan yang lalu, kita berantem di pos satpam ya kan kak?" Ujar Rara frontal yang membuat Rani malu sendiri.


"Nak Rani tergolong manusia yang beruntung karena dapat Hidayah dari Allah. Ia diberi bimbingan atau petunjuk, berupa terbukanya hati dan lapangnya dada untuk meyakini kebenaran agama Islam." Ujar Nek Ifah serius.


"Iya Nek, semoga Istikomah." Sahut Rani sopan dan terlihat masih enggan kepada Zahra. Secara ia sudah pernah jahat pada wanita itu.


Satu jam Zahra dan Nek Ifah berada di pondoknya Rani. Kebanyakan mereka membahas tentang ajaran agama. Zahra yang suka belajar tentang saja senang dapat ilmu dari Nek Ifah dan Rani.


Ezra yang sudah bosan menunggu di Mesjid. Akhirnya memutuskan. Mendatangi sang istri ke pondoknya Rani. Zahra akhirnya berpamitan pada sang nenek dan Rani. Mereka harus pulang, karena waktu magrib sudah hampir tiba.


"Masyaallah, koq bisa kak Rani berubah drastis seperti itu? mana dia cantik sekali pakai hijab." Ujar Zahra dengan takjubnya. Menggeleng dengan heran, atas perubahan Rani. Sang mantan istrinya Ezra.


Ezra hanya tersenyum menanggapi ucapan Zahra yang terkesan lebay itu.

__ADS_1


"Iya kan Hubby, Kak Rani cantik bangat kan pakai hijab?" tanya Rara memperhatikan lekat sang suami yang pandangannya lurus ke depan.


"Iya." Jawab Ezra cepat.


"Jadi Hubby setuju kalau kak Rani cantik?" tanya Zahra lagi ingin memperjelas pengakuan sang suami.


"Iya, Rani kan memang cantik."


"Apa..?" Zahra melototkan kedua matanya. Tiba tiba saja ia tak suka mendengar suaminya itu memuji sang mantan istri.


"Jadi, dimata Hubby Kak Rani masih cantik?" tanya nya lagi dengan kesal.


Ezra yang heran dengan sikapnya Zahara yang tiba tiba berubah ketus, menatap bingung sang istri.


"Arah pembicaraan mu ke mana sih sayang? tadikan kamu yang pertama bilangnya Rani itu cantik. Ya aku jawab iya. Kan ia memang cantik." Jelas Ezra.


"Tapi, tadi aku menilai Hubby itu seperti kagum gitu pada Kak Rani." Ujarnya dengan muka masamnya.


"Ya jujur aku kagum pada Rani yang sekarang. Akhirnya ia kembali ke jati dirinya yang dulu. Ia memang dulunya setahuku wanita yang Sholehah. Dia kembang desa di kampung kita. Kalau gak baik, mana mau aku dulu dipaksa nikah sama orangtuaku. Walau di awal mau nikah, aku rada curiga gitu. Karena ia sering masuk ke kamarku." Jelas Ezra.


"Apa.. apa..? jangan bilang Hubby sekarang nyesel cerai dengan kak Rani?" Rara terlihat emosi. Wajah cantik nan putih kini memerah.


"Kamu kenapa sih sayang? kamu cemburu?" membelai kepala sang istri dengan senyam senyum. Ezra merasa tingkah Zahra lucu.


"Cemburu? siapa juga yang cemburu." Jawabnya sewot


"Kalau gak cemburu, terus ini namanya apa?" mencubit gemes kedua pipi sang istri yang memerah.


"Iihh... Sakit... Lepas..!" menghentakkan kuat tangan Ezra. Dan istri yang ngambek membuang wajah.


Huufft..


"Gitu aja ngambek. Ya namanya wanita ya pasti cantik." Ujar Ezra, memilih tak mau membujuk sang istri. Ia malah kini sibuk dengan laptopnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2