
"Gak usah marah, saya bicara fakta. Ngaca.... Dong ..!"
Pria itu menatap rendah Bimo, beranjak dari duduknya, meninggalkan tempat itu.
Darahnya Bimo mendidih sudah naik ke ubun ubun. Ia direndahkan di hadapan istri sendiri. Harga dirinya diinjak-injak.
"Heiii... Berhenti...!" tangannya Bimo menjulur ke arah Alva yang sudah beranjak dari Gazebo. Amarah telah menguasainya.
"Heiii kamu, urusan kita belum selesai..!"
Bimo semakin naik pitam. Ucapannya tak diindahkan Alva. Dadanya naik turun karena emosi. Rahangnya mengeras dan tangan sudah mengepal kuat. Ia harus meluapkan emosinya. Kalau tidak ia bisa kena serangan jantung. Ia pun mengejar Alva. Tentu saja Rara berusaha mencegahnya dengan menahan tangan suaminya itu. Tapi, usahanya sia sia untuk mencegah Bimo agar tak terpancing.
Grapp
Bimo mencengkeram Hoodie yang dikenakan Alva dari belakang. Menarik kuat pakaian pria itu, auto Alva membalik badan dan
Puk
puk
Dua tinju mendarat di kedua pipinya Alva secara beruntun. Alva sedang tak siap, ia tak tahu akan dapat serangan. Saat tinju ketiga, Alva akhirnya bisa menangkisnya dan membalas serangan Bimo dengan berusaha menendang pahanya. Tapi, Bimo yang pandai ilmu bela diri tentu saja bisa menghindari tendangan Alva.
__ADS_1
Bimo yang emosi kesetanan karena harga dirinya direndahkan, melancarkan serangan lagi dengan menendang perut Alva. Dan Alva tersungkur.
"SiAl an kamu, mau cari mati.. Haahhh...!"
Bimo bicara penuh emosi, membuat ancang - ancang ingin menyerang Alva yang berusaha bangkit dan melap darah yang ada di sudut bibirnya.
"Berani sekali kamu merendahkan saya?" masih meluapkan emosi dengan mengeluarkan uneg uneg.
Rara sudah panik, ia pun berusaha mendekati Bimo, agar menyudahi perkelahian ini. Tapi, tatapan tajamnya Bimo membuatnya takut.
"Dasar kamu gak punya otak! Ayo maju, aku tak mau menyerang musuh yang tak siap." Memberi kode dengan tangan nya agar Alva cepat bangun dan perkelahian dilanjutkan.
"Dasar pria labil, tersinggung dengan ucapanku? makanya punya istri dijaga baik-baik. Baru tahu aku ada pria yang punya usaha agro wisata dan cafe, membuat istrinya jadi waiters. GAK PUNYA OTAk LOE...!'"
Alva meludah di hadapan Bimo.
Asap rasanya sudah keluar dari kedua kupingnya Bimo yang panas. Kepalanya juga rasanya sudah mengeluarkan tanduk. Seperti banteng yang siap menyeruduk.
Bimo tak bisa menahan emosi lagi. Ubun ubun nya sudah mendidih 1000 derajat Celcius. Dadanya berdebar-debar, karena emosi.
Perkelahian kembali terjadi. Setiap serangan dari Bimo kini berhasil di tangkis Alva.
__ADS_1
Dan
Puk
Pak
Bug
Bimo yang emosional lelah sendiri. Ia pun kena serangannya Alva di kedua pipi dan perut.
"Tolong ... Tolong....!"
Rara yang tak bisa melerai pertengkaran, bertetiak histeris. Tempat mereka yang ada di pojokan membuat orang tak mengetahui pertengkaran itu.
Bimo tak mau memalukan dirinya dengan kekalahan di depan sang istri. Semangat untuk menang bertambah berkali kali lipat. Setiap serangan Alva bisa ditangkisnya. Bahkan kini Alva yang kini babak belur di tangan Bimo. Dan disaat itu datang seorang pria berbadan besar membantu Alva. Pria itu bahkan kini ikut menyerang Bimo.
Rara sudah kalang kabut. Merasa tak kunjung mendapatkan bantuan. Ia berlari ke gedung cafe. Meminta bantuan pada karyawan Bimo lainnya.
Karyawannya Bimo berdatangan. Melerai pertengkaran itu. Kedua kubu berhasil dipisahkan.
Amarah masih tercetak jelas di wajah keduanya. Rara langsung mendekap Bimo dengan menangis tersedu-sedu. Ia tak mau terjadi sesuatu kepada sang suami. Karena saat ini, hanya Bimo yang dia miliki.
__ADS_1
TBC