
Hamil..?" Bi Sakinah bingung di ambang pintu. Ia mendengar pertengkaran keduanya.
"Non Rara belum hamil tuan. Non Rara hanya mengalami senggugut." Jelas Bi Sakinah mendekati Rara dan menenangkannya. BI Sakinah sudah menganggap Rara sebagai anak.
"Senggugut, apa itu senggugut?" tanya Bimo dengan penasarannnya. "Apa itu penyakit berbahaya? apa efek dari pernah menggugurkan kandungan?" menjejar Bi Sakinah dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Kening Bi Sakinah mengerut mendengar pertanyaan yang banyak itu. Dia melihat kekhawatiran di wajahnya Bimo.
"Soal itu aku kurang ngerti tuan. Wajar seorang wanita mengalami sakit perut saat haid. Orang sering bilangnya senggugut. Nyeri dan kram dibagian perut bawah. Non Rara sedang mengalami itu tuan." Jelas Bi Sakinah sopan.
Bimo terhenyak mendengar ucapan Bi Sakinah. Ia telah menuduh istrinya yang macam-macam. Ia menuduh istrinya berzina.
Perlakuannya kali ini termasuk dosa besar yang membinasakan.
"Astaghfirullah....!" Bimo mengusap wajahnya kasar. Menghela napas berat dan terduduk lemah di tepi ranjang. Menatap Rara yang teduduk dalam dekapan Bi Sakina.
Kebencian telah menutup mata hatinya. Kebencian yang tak beralasan. Ia yang membenci dirinya akan perasaannya pada Rara telah membuat gadisnya menderita. Ia telah salah mengambil sikap dalam memperlakukan Rara.
"BI Sakinah, tinggalkan kami berdua." Ujarnya dengan nada lembut. Ia perlu bicara dengan Rara. Ucapan tadi, sangat disadari salah. Ia menuduh istrinya hamil, sebelum mereka menikah.
Bi Sakinah melirik Bimo yang duduk di tepi ranjang. Kemudian ia mengusap lembut punggungnya Rara. "Bibi keluar dulu. Malam ini Bibi akan tidur di sini. Siapa tahu kamu perlu bantuan." Ujar Bi Sakinah lembut. Keluar dari kamar itu dengan penuh tanda tanya.
BI Sakinah heran, dengan konsep rumah tangga majikannya itu. Katanya istrinya, tapi kamar terpisah.
"Kalau kamu sakit, kenapa gak pergi ke dokter."
Nyut....
Lagi-lagi ucapan Bimo membuat hatinya Rara sakit seperti diiris dan ditetesi air jeruk. Bukannya diajak ke dokter. Malah disuru pergi ke dokter.
"Paman keluarlah, aku ingin istirahat." Rara sedang tak punya tenaga berdebat. Lebih baik pria itu pergi. Ia sudah muak.
"Baiklah... Berarti tak ada yang seriuskan?" pria itu berdiri. Ia tahu, kalau ia salah bicara lagi. Memang sebaiknya ia pergi saja dari kamarnya Rara. Atmosfer di kamar itu sedang menguap. Terjadi pemanasan global.
Rara terdiam, merasa tak ada gunanya menjawab pertanyaan bodoh itu.
__ADS_1
Dasar gak peka, gak perhatian, gak ada kasih sayangnya. Sangat berbeda dengan paman Bimo yang dulu. Rara membathin, melirik Bimo yang keluar dari kamar itu.
Bruuggkk...
Rara menghempaskan tubuhnya kasar ke atas ranjang. Memeluk bantal dan menumpahkan kesedihan di hatinya dengan menangis histeris. Kenapa suaminya itu menuduhnya hamil dan seperti menuduhnya pernah abor si?
Hua... Hua.... Hua...
"Mama....! kenapa kamu lahirkan aku ke dunia ini mama?"
Air mata terus saja mengucur deras. Ia menyesali dirinya yang terlahir ke dunia. Ia ingin sekali kembali dalam pelukan sang ibu.
***
Bimo menyusul Bi Sakinah ke dapur. Ia penasaran dengan penyakit yang dialami sang istri.
"Iya tuan, nona itu sedang datang bulan. Gak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawaban Bi Sakinah kurang akurat.
Bimo masuk ke dalam kamarnya. Mengambil hape dan langsung mencari informasi tentang haid di mbak Gugel. Mendapatkan informasinya. Ia kembali ke dapur.
"BI, antarkan ke kamar nya Rara air putih yang hangat sebanyak dua liter. Dia harus minum banyak, agar perutnya gak sakit lagi." Titahnya tegas pada Bi sakinah. "Jangan bilang, aku yang suruh Bibi." Ujarnya dengan wajah bodohnya.
'Ada pria yang gengsi menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada wanitanya.' Bi Sakinah menggeleng dan tersenyum sinis. Ia merasa aneh dengan sikap sang majikan.
Satu jam pun berlalu. Bi Sakinah akhirnya keluar dari kamarnya Rara. Bimo sudah bosan menunggu di dapur.
"Lama kali bibi di kamar nya Rara?"
"Astaghfirullah..." Bi Sakinah, mengelus dadanya yang berdebar-debar itu. Ia terkejut mendapati Bimo masih di dapur.
"Iya tuan, Non Rara minta dipijat." Jawab Bi Sakinah mencoba menahan tawa.
"Keadaannya sudah bagaimana Bi?" Tanya Bimo dengan penuh kekhawatiran.
"Sudah baikan tuan. Kata nona sudah gak sakit lagi." Jawab Bi Sakinah, ia harus bisa jadi perantara yang baik untuk pasangan yang beda karakter ini. Harus bisa mengucapkan kata-kata yang membuat keduanya tenang dan senang saat mendengarnya.
__ADS_1
"Berkat minum air putih yang banyak dan dipijat mungkin tuan, makanya nyeri haidnya Nona berkurang " Jelas Bi Sakinah, menatap lekat wajah Bimo yang terlihat sudah rileks.
"Ooohh... Terima kasih Bi. Besok, cepat buatkan sarapan untuknya ya!" ujar Bimo ramah. Ia pun menyeret kakinya menuju kamarnya.
❤️❤️❤️
Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah dan mengalah bukan berarti kalah.
Bimo sudah terlihat rapi dan siap berangkat kerja pagi ini. Ia kini melangkah ke ruang makan. Sesama di sana, Ia tak menemukan Bi Sakinah di tempat itu.
"Apa Bi Sakinah masih ada di kamar nya Rara?" ujarnya sendiri, mulai sarapan sendiri. Karena Bi Sakinah sudah menyiapkan semuanya di atas meja makan. "Seperti nya ia ." Bimo bicara sendiri seperti orang bodoh. Semalaman ini dia memikirkan hubungan nya dengan Rara. Ia sadar, sikapnya salah. Ia bahkan tak bisa tidur, hingga pukul dua pagi.
Sikap dan ucapan kasarnya gentayangan di pikiran nya. Dia setres memikirkan itu. Menyalahkan diri yang bicara pedas pada sang istri. Dan puncaknya adalah tadi malam.
Cara ia memberi pelajaran pada Rara tak tepat. Saat anak memasuki umur 15 sampai 21 tahun, sebaiknya orangtua atau orang dewasa sudah mulai menjalin pendekatan yang bersifat perkawanan, diskusi, serta membicarakan tentang sesuatu yang membahayakan dan sesuatu yang bermanfaat kepada anak. Tapi, kali ini Bimo salah bersikap.
"Maaf tuan, aku tadi sedang bantu nona Rara di kamarnya. Jadinya tuan sarapan gak ada yang layani." Ujar Bi Sakina ramah di hadapan Bimo.
"Gak apa-apa Bi. Gimana keadaan Rara?" tanya kepo, tak sabar menunggu jawaban dari BI Sakinah. Ia bahkan menghentikan acara makannya.
"Sudah jauh lebih baik tuan. Khasiat air putih itu ternyata lebih manjur dari jamu yang aku buat." BI Sakinah mulai mengerjakan pekerjaannya.
BI Sakinah sebenarnya kepo dengan rumah tangga nya Bimo. Tapi, ia takut banyak tanya. Sikap Bimo ini aneh. Gengsinya tinggi.
"Ia Bi, makasih ya? ini tambah jajannya bibi." Meletakkan yang 100 ribu di atas meja makan.
Dan Bimo pun naik ke lantai dua, tepatnya ke kamar Rara. Saat sampai di depan kamar itu, ia bingung dan takut untuk masuk ke dalam. Takut, Rara masih marah padanya.
Sepuluh menit ia mondar-mandir didepan kamarnya Rara.
"Baiklah!" ujarnya semangat, menjentikkan jarinya. Ia berjalan ke meja yang ada di dekat kamar Rara. Mengambil kertas HVS dan pena di tempat pinsil.
Selamat pagi 🙂
Hari ini, kamu istirahat di rumah saja. Gak usah pergi kerja. 🙂
__ADS_1
Itulah yang ditulis kan Bimo di kertas putih HVS. Ia melipatnya, kemudian memasukkannya dari celah pintu kamarnya Rara di bagian bawah.
TBC