GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Berdamai dengan diri sendiri


__ADS_3

Ezra memang sosok ayah yang baik. Rara dijemput menggunakan jet pribadinya. Hanya memakan waktu 45 menit. Rara sudah di rumah mereka yang di kampung. Acara temu kangen berlangsung dengan haru biru. Terutama saat Rara menjumpai sang nenek yang sudah lumpuh.


Mereka terakhir bertemu saat Rara masih sekolah di kampung. Kira kira tiga bulan yang lalu. Sang nenek sangat menyayangi Rara, begitu juga dengan Rara.


"Nenek kangen sama Mamamu sayang?" ujar sang nenek menatap lekat Rara yang kini bersimpuh di hadapan nya. Sang nenek hanya bisa terduduk di kursi roda.


"Iya nek, ini Rara mau jemput Mama." Sahutnya tersenyum manis. Mencium tangan sang nenek.


Zahra ikut terharu melihat keakraban Rara dan Neneknya. Yang sekarang sudah jadi ibu mertuanya. Ternyata Rara itu anaknya baik.


"Semoga Mamamu mau datang ke sini. Nenek kangen dengan pijatannya." Ujar Sang nenek tersenyum tipis.


Ya Rani pandai sekali memijat, siapa yang kena sentuhan pijat nya langsung melayang ke alam mimpi, saking enaknya.


"Ya ampun, nenek kangen dipijat toh. Itu menantu nenek yang baru juga pandai memijat." Menunjuk Rara yang duduk di sofa. Tak jauh dari mereka.


Kedua bola mata Zahra membulat mendengar celotehan Rara yang menganggapnya seperti kawan.


Nek Ifah menggeleng. Nenek takut memintanya memijat nenek. Nanti badan nenek remuk red, tulang nenek patah semua. Ibumu yang satu itu kan jago silat." Ujar nenek mengulum senyum, ia sedang bercanda.


Hahhaha...


"Iiihh.. Nenek, Mana berani momsky Zahra berbuat kasar seperti itu. Bisa bisa ayah mendepaknya jauh ke kutub Utara " Ujar Rara melirik momskynya yang kini wajahnya sudah memerah karena diledekin terus.


"Kau ini Rara. Ayahmu itu tak berkutik di hadapanku." Rara beranjak dari duduknya menghampiri sang ibu mertua dan Rara.


"Tu kan kamu dengar sendiri. Ayahmu sudah di setirnya. Sudah dikendalikan nya." Ujar nenek serius.


"Iihh.. Apaan sih Bou? koq ledekin aku terus dihadapan anak alay ini." Mentoel bahunya Rara. Kemudian tangan Zahra menjulur ke bahu sang ibu mertua. Zahra pun akhirnya memijat ibu mertuanya.


"Lihatlah, harus disindir baru mau minat ibu mertuanya."


"Iihh... Bou, jangan meledek terus dong. Nanti meledak loh!" ujar Rara mulai sedikit kesal. Karena merasa diolok-olok sang ibu mertua dan Rara.


"Ya ampun.. yang punya mantu baru. Tahunya ngengas mulu. Baiklah, aku pamit ya nek." Menyalam sang dan memeluknya penuh dengan kasih sayang.

__ADS_1


"Nenek senang, kalian sudah berubah jadi baik semua. Ini terus yang nenek doakan di setiap akhir sholat ku, dari dulu. Semoga anak cucuku, selalu dalam lindungan - Nya." Menangis saat membalas pelukan Rara.


"Iya Nek, terima kasih masih mau menerima ku di keluarga ini." Ujarnya dengan terisak. Rara sangat terharu. Ternyata masih banyak yang menyayanginya.


***


Pukul dua siang, Rara akhirnya sampai di tempat mondok Ibunya Rani. Ia diantar oleh supir. Sebenarnya Rara mengajaknya momsky nya. Tapi, Zahra menolak ikut. Dengan alasan masih cemburu pada Rani. Tentu saja Rara tertawa terbahak-bahak mendengar alasan aneh ibu tirinya itu.


Ngapain cemburuin ibunya Rani. Toh sudah bercerai juga.


Saat sampai di area pondok itu. Terlihat pelataran pondok sepi. Seperti nya jemaah sedang berada di dalam pondok masing masing.


Rara menjumpai pos untuk melapor. Menanyakan pondok sang ibu. Tadi saat di rumah, Zahra sudah memberikan sedikit pandangan tentang keadaan pondok yang sangat sederhana. Jadi, saat sampai di tempat itu, Rara tak terkejut lagi. Hanya saja, ia tak percaya kalau sang ibu, mau mondok di tempat yang sangat sederhana ini. Setahu dia ibunya itu suka hidup mewah.


Saat sampai di depan pondok sang ibu. Rara mendengar suara ibunya sedang mengaji. Ia pun jadi takut mengetuk pintu. Takut kedatangan nya mengganggu sang ibu dalam beribadah.


Rara pun akhirnya menunggu di depan pondok sang ibu. Yang halamannya dipenuhi oleh tanaman bunga. Sungguh pondok ibunya sangat berbeda dengan pondok lainnya. Setengah jam ia duduk di atas batu, halaman pondok sang ibu. Mendengarkan suara merdu sang ibu dalam melantunkan ayat suci.


Tak terasa, air matanya menetes membasahi pipinya. Ia sedang merefleksikan semua kesalahan dan kejahatan yang ia lakukan. Tiba tiba saja, hatinya merasa seperti dicubit. Dadanya sesak mengingat semua kehidupan kelam itu.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum...!"


"Walaikum salam...!" terdengar sahutan dari dalam dengan berat. Seperti nya sang ibu sedang menangis.


Rani dengan cepat membuka pintu pondok nya, karena ia sudah tahu siapa yang datang Ia kenal betul suara anaknya.


"Rara anakku..!" Melap cepat air mata yang masih tersisa di pelupuk mata.


"Mama..!" Mereka pun berpelukan, saat itu juga Rani celingak-celinguk, mencari sosok lain yang datang bersama Rara. Tapi ia tak menemukan orang lain di depan pondok nya.

__ADS_1


"Kamu sendiri sayang? mana suami mu?" tanyanya dengan penasaran. Menuntun Rara masuk ke pondok.


"Aku ke sini sendiri Ma."


Hua... Hua.... Hua. ..


Rara malah menangis histeris, merasa terharu dengan perubahan sang ibu.


"Kamu kenapa?" memperhatikan lekat wajah sang putri, ia jadi khawatir. "Kamu bertengkar dengan suamimu?" Bimo yang tak ikut ke pondok, membuat Rani berkesimpulan putrinya itu pasti sedang bertengkar dengan suaminya.


"Gak ma." Menggeleng kan kepalanya kuat.


"Mama jahat, kenapa menyembunyikan keberadaan mama." Ujarnya kesal.


Sang mama mengusap lembut punggung sang anak.


"Mama sedang menembus dosa sayang. Mama dulu berbuat dosa besar. Tak langsung bertaubat, malah menipu Abang Ezra, agar jadi suamiku. Dengan memanfaatkan nenekmu yang sangat sayang padaku. Mama pikir akan bahagia. Nyatanya menderita sayang. Jadi, di sisa hidup ini, mama mau bertaubat, berdamai dengan hati. Menerima dengan ikhlas semua kekhilafan yang pernah mama buat." Jelas Rani dengan Mata berkaca-kaca.


"Ya tapi gak menghilang juga ma "


"Mama tak mau berjumpa lagi dengan ayahmu nak. Walau sudah belasan tahun berlalu. Sakit yang diberikannya pada mama tak kunjung sembuh. Mama sedang belajar ikhlas dan sabar sekarang. Jadi, jika suatu saat bertemu dengan ayahmu. Mama bisa tenang." Ujarnya dengan berurai air mata.


Dicampakkan dikhianati, itu rasanya sakit sekali. Dan tiba tiba muncul, minta balikan. Itu sungguh tak etis.


"Iya ma, tapi kenapa mama malah menghindar dariku?" ekspresi wajah Rara sungguh penuh kekecewaan


"Mama tak mau mengganggu mu sayang. Kamu baru menikah. Mama tak mau jadi beban buat kalian. Apalagi ayahmu selalu mengusik kalian, karena masalah kami." Jelas Rani, melap air mata sang putri dengan jemarinya.


"Kamu gak bocorin sama ayahmu kan, kalau Mama ada di sini?" tanyanya menatap lekat sang putri.


"Gak ma," menggeleng-gelengkan kepalanya lemah. "Tapi, tak tahu deh, kalau suamiku akan membocorkannya pada ayah." Jelas Rara dengan mengerutkan dahi


"Oalah... Rara..!" Rani terduduk lemas.


TBC

__ADS_1


__ADS_2