GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Kita Menikah


__ADS_3

Rani merasa jijik dengan pria yang memeluknya. Apa ia serendah itu di penilaian pria ini. Hingga pria beristri ini masih berani memeluknya.


"Lepas.... Berani sekali kamu memelukku..!"


Kyukk...


Rani menyikut kuat perut Pak Kusuma.


"Aaauuwwwu... Kamu gak berubah, tenagamu masih kuat menganiayaku."


Kini tangan yang dari tadi memeluk pinggang Rani sudah beralih memegang perut sendiri, yang terasa sakit karena dapat serangan mendadak dari Rani.


"Sakit yang kamu rasakan itu tak seberapa dengan sakit kamu yang kamu berikan padaku. Masih kena sikut, sudah mengaduh kesakitan, dasar anak manja." Umpat Rani menatap kesal Pak Kusuma yang tersenyum tipis. Ia merasa lucu dikatain anak manja. Ia kan bukan anak anak lagi.


"Maaf ya! kita bicara sekarang. Aku gak bisa hidup tenang sampai saat ini. Mungkin inilah jawaban atas doa doa ku selama ini. Akhirnya kita dipertemukan juga." Pak Kusuma mendekati Rani yang kini ada di dekat pintu keluar.


Rani membuang wajah, masih kesal dengan pria yang memberinya luka teramat dalam itu.


"Ayo kita duduk dulu." Tangannya langsung ditepis oleh Rani.


Huuffftt..


Pak Kusuma menghela napas berat.


"Apa sih mau mu?" melirik Pak Kusuma yang terlihat tertekan.


"Ayo kita duduk dulu, aku akan katakan apa mauku. Dan semoga kamu mengabulkannya." Ujarnya lembut, ekspresi wajah penuh harap. Rani dibuat penasaran apa mau mantan tercintanya itu. Ia pun akhirnya mendudukkan bokongnya di kursi, masih dengan wajah masamnya.

__ADS_1


Tak mau menatap Pak Kusuma yang kini sudah duduk di hadapannya. Keduanya di batasi oleh meja berbentuk bulat, yang terbuat dari kayu.


"Aku baru saja berjumpa dengan Ezra. Mantan suamimu, sungguh ia pria yang begitu baik. Menjaga anak kita dengan penuh tanggung jawab."


"Jangan bicara ngawur. Anak siapa yang kamu maksud." Sahut Rani cepat, ia masih tak mau mengakui kalau pria dihadapannya adalah ayah dari putrinya.


"Kamu itu tetap keras kepala, sok pintar, merasa hebat, karena merasa bisa menipu pak Ezra."


"Kamu bicara apa? jangan sok baik kau jadi orang, menyebalkan!" ketus Rani dengan kesalnya. Apa sih maunya pria ini.


"Aku itu harus berterima kasih banyak pada Ezra, yang telah menjaga kalian. Kamu tahu Rani, Pak Ezra dari awal kalian menikah sudah tahu tentang dirimu, kalau Rara bukanlah darah dagingnya. Tapi, itu semua ditutupinya, serapat rapat nya. Hingga datanglah sang asisten yang sok pahlawan, mengungkapkan kalau Rara bukanlah anak kandungnya."


Plakkk...


Rani menggebrak meja dengan penuh emosi. Wajah cantik nan putih mulus itu kini merah padam. Naik darah sudah ia mendengar ucapan pria di hadapannya.


"Aku gak menyalahkanmu. Aku hanya memuji Ezra, dia memang pria yang luar biasa. Punya hati yang sangat baik." Sahut Pak Kusuma cepat.


"Dan kamu pria kurang ajar. Yang tega tinggalkan wanitanya setelah kamu menghisap madunya." Menunjuk Pak Kusuma dengan Mata melotot. Entah apa maksud pria dihadapannya, membahas kebaikan Ezra.


"Iya, untuk itu maafkan aku." Masih dengan wajah memelas.


"Kesalahanmu tak akan pernah ku maafkan!" beranjak dari duduknya dengan penuh emosi.


Pak Kusuma dengan cepat meraih tangan Rani yang ingin melangkah kan kakinya dari ruangan itu.


"Rani, jangan pergi dulu. Kita bicarakn masalah ini baik baik. Aku juga ingin hidup tenang."

__ADS_1


"Memaafkan bukanlah perkara yang mudah. Rasa sakit hati karena dikhianati, dilukai sampai sekarang terus membekas. Seperti vas bunga yang sudah terlanjur pecah, sulit untuk bisa mengembalikannya ke bentuknya semula." Ujar Rani tegas, mencoba melepas rengkuhan tangannya Pak Kusuma di tangan nya.


"Memaafkan mungkin tak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi memaafkan bisa mengobati semua luka yang ada di dalam hati Rani." Ujar Pak Kusuma tulus. Matanya terlihat berkaca kaca mengatakan itu.


"Iya aku maafkan, puas....! lepaskan tanganmu..!" Berontak agar tangannya lepas dari rengkuhan pria yang masih dicintainya itu.


"Kita menikah!"


Haaaahhh


"Gila, kamu gila..!" ujar Rani tersenyum kecut.


Hahahaha,..


Kemudian wanita itu tertawa dengan sekuat kuatnya. Tubuhnya bergetar hebat karena menertawakan diri sendiri.


"Kamu memang selalu sukses buatku gila." Ujarnya masih berusaha melepaskan tangannya dari rengkuhan Pak Kusuma.


"Aku serius Rani."


"Aku tak mau!" tegas Rani, siapa juga yang mau dibuat jadi istri simpanan.


"Aku akan memaksa. Ayo kita pulang..!" Menarik kuat tangannya Rani, mau tak mau wanita itu mengikuti langkah pria yang selalu sukses memporak porandakan hatinya hingga saat ini.


"Apa sih mau mu? kenapa gak dulu kamu memaksa untuk menikah." Bicara histeris, melewati para pelanggan cafe, yang kini menonton drama yang mereka mainkan.


Pak Kusuma membisu. Merasa tak ada gunanya menjawab kemarahan Rani.

__ADS_1


TBC


__ADS_2