GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Emosi


__ADS_3

Pagi ini Rara kembali kehilangan sang suami. Ia sengaja menstel di otaknya agar cepat bangun. Ia ingin membicarakan sikap Bimo yang sangat berubah drastis itu. Tapi, ternyata suaminya sudah pergi sehabis sholat subuh.


Ia mulai kesal, habis sholat shubuh ia langsung menghubungi ponsel sang suami. Tapi, sudah sepuluh kali panggilan tak kunjung diangkat.


"Sebenarnya apaa yang terjadi?" ujarnya bingung dan terduduk penuh kekesalan di kursi meja riasnya. "Aku gak boleh diam begini, aku harus mencari tahu." Rara masuk ke kamar mandi. Ia akan menyusul Bimo ke kantornya.


Sesampainya di kantor sang suami, ia dibuat kembali heran dan bingung. Seperti tak ada aktivitas apapun di kantor itu. Pintu gedung itu masih terkunci, padahal sekarang sudah pukul 07.30 wib. Biasanya pukul 07.00 Wib sudah dibuka.


Rara yang penasaran menyeret kakinya ke areal lahan yang akan dibuat jadi agro wisata. Lagi lagi ia dibuat tercengang. Di tempat itu juga terlihat tak ada tanda tanda akan adanya pengerjaan proyek pembangunan.


"Apa yang terjadi?" ujarnya bingung dan panik. Ia merogoh tas Selempangnya dengan tak sabaran, ia akan menghubungi nomor ponsel sang suami.


"Ya Allah... Kenapa tak diangkat angkat juga?" Rara mulai panik, terlihat ia beberapa kali mengusap usap wajahnya.


Ia yang syok, memilih duduk di pondok yang ada di area perkantoran itu.


Huuffft


Ia berulang kali menghela napas berat. Rasanya dadanya sesak sekali mengetahui fakta ini. Pantas suaminya itu sikapnya berubah empat hari terakhir ini. Ternyata ada masalah besar dengan perusahaan.


Cinta.... Kamu di mana? kenapa dari tadi gak angkat angkat telepon?


Rara yang tak tenang, akhirnya memutuskan untuk mengirimkan pesan pada suaminya itu.


Setelah pesan terkirim. Ia dengan tak sabar nya menunggu balasan. Menatap terus layar ponselnya.


"Seperti nya suamiku tak akan membalasnya. Hhuuufft.... Apa yang terjadi?" ujarnya, melempar pandangannya menyoroti areal yang akan dibuat jadi agro wisata itu. "Kalai benar ada masalah, harus nya cerita. Kita cari solusinya." Rara tak henti hentinya bermonolog, masih memilih untuk berdiam diri di pondok itu. Menunggu orang akan datang ke tempat itu Dan ia akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Kenapa seperti tak beroperasi lagi.


Saat memikirkan itu semua. Ponsel yang masih dipegangnya bergetar. Nada dering itu ia tahu. Itu telepon dari suaminya.


"Sayang... Kamu di mana? kenapa dari tadi gak angkat angkat telepon ku?" cecar Rara ia sungguh penasaran dan dibuat tak tenang.


"Maaf sayang, aku sedang di perjalanan. Kami ke luar kota hari ini. Tadi hapeku di tas, di silent gak dengar kamu nelpon. Aku telat pulang. Kamu jangan nunggu aku seperti tadi malam ya? jangan lupa makan dan istirahat, Bobok siang. Eemmmuuaacchh.. Sudah ya, assalamualaikum..!"

__ADS_1


Tuuuutt


Panggilan terputus, Rara terhenyak dengan penjelasan sang suami yang tidak ada jeda itu. Ia bahkan tak diberi waktu untuk bicara


"Dia kenapa sih? buat kesal saja." Ucapnya mencoba menghubungi kembali nomor hape sang suami. "Sengaja gak mau angkat. koq buat kesal sih?" ia kembali mencoba menghubungi nomornya Bimo dan akhirnya diangkat.


."Kenapa lama sekali baru diangkat?" ucapnya dengan nada kesal.


"Ooohh... Iya Bu Rara, pak Bimo sedang menyetir. Ini aku Rafly."


"Berikan pada suamiku hapenya!"


"Speaker, speaker kan saja..!" Rara mendengar suara Bimo memerintahkan Rafly untuk mengaktifkan speaker. Jadi bener suaminya itu sedang tak bisa diganggu?


"Ya sayang... Nanti kita bicara di rumah ya? saya lagi sibuk ini. Sudah ya!" ujar Bimo dalam telepon.


"Eehh... tunggu, emang kalian mau ke mana?" tanya Rara.


"Nanti malam kita bicara, sudah ya Ra. Assalamualaikum...!" Rara tercengang di tempat, apalagi ia mendengar sang suami meminta Rafly mematikan teleponnya.


"Ngapain kamu di sini? mau meratapi kehancuran suamimu?" celetuk wanita yang selalu cari masalah dengannya. Siapa lagi kalau bukan Jenifer.


Sontak ucapan Jenifer membuat jantungnya Rara berdetak kuat. Ekspresi terkejut terlihat jelas.


Hancur? gumamnya.


Ia tak menjawab ucapan Jenifer. Ia sedang mengumpulkan kumpulan fuzle yang dari tadi di susunnya dalam pikirannya.


Jadi bener, suamiku dalam masalah besar. Apa bangkrut?


Dengan wajah sepelenya Jenifer mendudukkan bokongnya di sebelah Rara.


"Dari dulu sudah ku bilang, kamu itu pembawa sial untuk Abang Bimo. Lihatlah, ia hancur karena kamu jadi istrinya. Impiannya tak terwujud. Padahal, sebelum kalian menikah ia sudah mulai berkembang." Jelas Jenifer tanpa dipertanyakan.

__ADS_1


"Kalian itu tak cocok."


"Oohh jadi suamiku, cocoknya denganmu kak Jenifer? sudahlah, tak usah kamu kotori mulutmu itu dengan menghasutku. Aku tahu watakmu. Aku tahu kamu itu suka dengan suamiku." Ujar Rara menantang tatapan bengisnya Jenifer.


"Lebih baik kamu diam kak, daripada banyak bacot merusak mood orang. Dari dulu kamu terobsesi terus dengan paman Bimo. Kalau kamu sanggup bersaing denganku. Ayo kita bersaing. Kalau kau tak punya malu menginginkan suami orang."


"Emang kamu masih mau dengan Abang Bimo? dia sudah bangkrut? jangan bilang kamu gak tahu dia bangkrut. Hahaha...!" Jenifer tertawa lepas,.merasa kasihan dengan Rara, yang tak tahu apa apa.


"Awas kamu jadi gila, karena mikirin suami orang..!" Rara bangkit dari duduknya. Ia merasa tak ada guna meladeni si Jenifer bicara.


"Kamu yang awas jadi orang gila. Kamu kan biasa hidup enak dari kecil. Dan sebentar lagi, kamu akan jadi gembel." Ujar Jenifer dengan emosi.


Rara berbalik menantang Jenifer


"Kamu yang akan jadi gembel. Kembalikan uang 20 juta itu?"


"Heeii... itu bukan uangmu."


"Itu uang ku, uang suamiku ya uang ku juga." Tantang Rara ia benci Jenifer, sudah dibaikin, jadi ngelunjak dan tak tahu diri.


"Baru juga uang dua puluh juta sudah sombong. Mau uang itu, sebentar, aku ambilin. Aku ke sini emang mau balikin uang itu koq."


Jenifer berjalan ke arah sepeda motornya yang terparkir. Ia membuka bagasi sepeda motor itu, mengambil bungkusan yang berisi uang.


"Nah.... Lunas .... Itu uang kamu bisa buat jadi modal usaha gorengan.." menyodorkan uang yang disimpan dalam sebuah kantong plastik warna hitam.


"Ayo terima..!" menarik tangan Rara dan meletakkan yang itu di telapak tangan nya Rara.


"Lunas... Lunas kan? emang aku masih tertarik gitu dengan pria miskin. Makan itu si Bimo yang sok kecakapan dan sok pintar."


Ciihh


Ujar Jennifer merendahkan Rara.

__ADS_1


"Sabar... Sabar...!" Rara mengelus elus dadanya yang bergemuruh. Emosi sudah ia dibuat Jenifer pagi ini.


TBC


__ADS_2