
Sesampainya di dalam kamar. Rara langsung ambruk di atas ranjangnya. Rasanya tubuh nya remuk redam. Ternyata jadi waiters sangat melelahkan. Kaki terasa kram, karena mondar-mandir saat melayani pengunjung.
"Oh my God, kakiku sakit sekali." Ujarnya, mendudukkan tubuhnya, ia memijat betisnya yang terasa kram dan sakit itu. "Ternyata cari uang itu susah juga ya?" lirihnya, air mata kini menggenang di mata lelahnya. Ia menyesali semua tingkahnya yang dulu, yang menghambur-burkan uang Ayahnya Ezra.
Mencari uang kalau hanya mengandalkan otot itu capek. Makanya orang bersekolah dengan baik. Agar bisa menggunakan otak, cari uang dengan menggunakan pikiran bukan otot seperti ini. Tapi, bagaimana dengan nasibnya. Dipenghujung kelulusan, ia malah terkena masalah besar. Sehingga ia tak bisa ikuti ujian akhir sebagai tanda lulusan di tingkat SMA.
Mungkin ia akan mengambil paket C saja, agar mempunyai ijazah tingkat SMA.
Huuffftt...
Memikirkan tentang perjalanan hidupnya yang menyakitkan itu membuatnya semakin sedih saja.
Rara yang merasa kelelahan itu, memutuskan untuk mandi. Ia akan berendam air hangat. Semoga otot-otot nya yang tegang bisa rileks setelah setelah berendam air hangat.
Lelahnya tubuh karena baru kali ini digunakan untuk bekerja keras, membuatnya malah ketiduran saat berendam. Hingga ia pun terbangun disaat mendengar suara berisik dari dalam kamar itu.
Rara mempercepat acara mandinya. Apalagi air yang tadinya hangat sudah terasa dingin. Wanita itu memakai jubah ma ndi. Keluar dari kam ar ma ndi dengan rambut basah yang tergerai. Tentu saja ia dikejutkan oleh Bimo, yang terlihat sibuk membongkar berkas yang ada lemarinya.
Rara melirik Bimo sekilas. Suasana hatinya sedang melow saat ini. Jadi ia mengurungkan niatnya untuk berbasa basi dengan Bimo. Toh, nanti saat disapa, ia akan kena semprot. Jadi lebih baik, menganggap pria itu sedang tak ada di ruangan itu.
Rara yang menganggap Bimo tak ada di ruangan itu, malah memakai baju di kamar itu juga. Tepat di depan lemari yang baru saja dibelikan Bimo. Toh, ia merasa Bimo tak akan menatap ke arahnya. Karena suaminya itu sedang sibuk memeriksa dokumen. Rara melakukan itu, karena di kamar itu tak ada ruang gantinya.
Rara telah sukses memakai CD nya. Ia yang terbiasa memakai bra dengan tubuh polos, kini melepas jubah man di yang tadi melekat di tubuhnya. Tentu saja, Bimo yang kini mencuri-curi pandang ke arah Rara. Dibuat syok, sat melihat tubuh mulus putih dan menggoda iman terpampang nyata di hadapannya.
Kedua matanya Bimo membulat penuh, dengan mulutnya yang menganga. Ia merasa kesusahan menghela napas di ruangan itu. Tubuh Rara sangat proporsional. Betis dan paha sangat ideal. Bo kong padat dan mon tok, pinggang ramping tanpa lemak, dan punggung mulus itu terlihat semakin menggoda, karena terlihat sedikit tonjolan gunung kembar saat Rara sibuk memakai Br a nya.
Sial an.... Apa ia sengaja menggodaku? tak mungkin kan ia tak melihat ku di sini?
Bimo kini tak konsentrasi lagi memeriksa dokumennya. Ia sedang mencuri-curi pandang kepada Rara yang terlihat santai memakai bajunya. Tak dilihat sayang, itu pemandangan langkah. Tapi, kalau dilihat ia jadi nelangsa.
__ADS_1
Arrrgghh.....
Tingkahnya kenapa buat setres sih?
Bimo pun dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Rara. Disaat melihat sang istri yang sudah selesai memakai baju, kini berjalan ke ranjang.
Ia yakin, Rara mengetahui keberadaannya di kamar itu. Tapi, kenapa istrinya itu diam saja.
Rara kini sudah naik ke atas ranjang empuknya. Ia mulai membaca- baca buku yang diberikan Bimo tempo hari.
Eeehmmmm
Bimo berdehem, melirik Rara dengan ekor matanya. Ternyata sang istri tak merespon kode darinya.
Apa dehemanku gak kedengaran?
Eehmmmmmmm.....
Rara yang merasa aneh dengan deheman sang suami, akhirnya memutar lehernya menatap ke arah Bimo yang juga menatapnya.
"Sengaja ya berpakaian di depanku? mau menggodaku?" ujar Bimo sok kecakapan.
Ciiihh... Dasar, cowok muna.
Rara membathin, menatap jengah Bimo. Bahkan bibir sebelah kanannya Rara naik ke atas. Sebagai ekspresi sudah tak tertarik berdebat dengan Bimo.
"Apa maksudnya tatapanmu itu?" Bimo semakin kesal saja, karena sikap nya Rara yang acuh, membuatnya tersinggung.
"Ini sudah jadi kamarku kan? jadi suka-suka aku dong, mau pakai baju dimana? kalau paman merasa aku sedang menggoda paman. Itu urusan paman." Jawabnya dengan ekspresi wajah tak suka Tentu saja sikap Rara yang berubah acuh tak acuh itu, membuat Bimo jadi bingung dan penasaran.
__ADS_1
"Ya kamu gak sopan saja berpakaian seperti itu?"
"Gak sopan? di mana letak tak sopannya? kalau aku tadi berpakaian seperti itu di depan umum. Baru tak sopan namanya. Aneh..!" Menekuk bibir.
Ciihh...
Buat Bete aja
Kamu gak lihat, aku tadi di sini. Kenapa kamu malah berpakaian dengan cara seperti itu?"
Bimo terlihat bodoh saat ini.
"Terserah paman mau menilai aku seperti apa. Yang jelas, aku tak ada niat menggoda paman. Aku memang, kalau berpakaian seperti itu. Bukannya paman lebih parah, berpakaian dengan tubuh polos sambil berjoget - joget lagi." Ujar Rara sinis, tentu saja Bimo jadi malu.
"Sebaiknya itu lemari, paman pindahkan ke kamar paman yang di bawah. Aku merasa dokumen - dokumen itu, hanya sebagai alasan, agar paman bisa masuk ke kamar ku?" ujar Rara datar, meletakkan buku di atas ranjangnya. Ia pun beranjak dari ranjang.
"Kamu bicara apa?" Bimo menyusul Rara yang keluar dari kamar itu.
Rara memutar tubuhnya, menatap serius Bimo yang berdiri dengan salah tingkah di hadapannya.
"Aku lagi malas berdebat. Kalau Paman bicara denganku, hanya untuk menyalahkan. Lebih baik paman diam. Aku sudah capek, capek dengan sikapnya paman, yang tak menghargaiku. Aku selalu berusaha dekat dengan Paman, tapi paman selalu bersikap memusuhiku. Selalu disudutkan, disalahkan dan diremehkan. Mulai dari sekarang, seperti nya kita tak usah komunikasi. Mau nunggu sebulan kan? Kita tunggu saja bulan depan, baru kita bicara. Mau lanjut atau END!"
Ujar Rara tegas, memutar tubuh nya dengan menghela nafas kasar. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. Rasanya ia lelah sekali.
Sesampainya di ruang makan, Rara menyiapkan makan malam mereka. Tentu saja Bimo dibuat tercengang dengan sikap nya Rara.
Rara memberi kode dengan tangannya, mengajak Bimo makan bareng. Mereka pun makan bareng dengan mode silent.
Rara sudah mulai melakukan tugas sebagai istri yang baik. Mulai melayani sang suami, dengan menyiapkan makanannya.
__ADS_1
TBC
Like vote hadiah ditunggu🤭❤️