
"Hahaha... tamatlah riwayat mu Rara ..!" balok besar sudah siap untuk menghantam ke kepalanya Rara.
"Ooowwhh.. Tidak...!"
Ia bergerak cepat ke kiri, sehingga serangan itu melesat. Dan Jenifer kembali melancarkan serangannya dan lagi lagi meleset. Jenifer dibuat geram, serangannya selalu meleset.
"Kali ini tamatlah riwayatmu Rara..!" menarik balok sekuat tenaga dan setinggi-tingginya, bersiap menghantam Rara
Tin
Tin
Tin
Sebuah mobil yang melintas menyelamatkan Rara.
Tahu aksinya ketahuan. Jenifer berlari cepat kebelakang, dan membuang balok yang digunakannya tadi untuk menyerang Rara.
Huuufftt... Huuuuhhh..
Rara ngos ngosan, capek sudah ia yang berlari. Ia pun terduduk lemas di atas aspal itu. Walau dada naik turun karena kelelahan. Kedua mata tertarik untuk melihat siapa penumpang di dalam mobil yang kini berhenti di hadapannya.
__ADS_1
Sontak kedua matanya Rara membulat melihat sosok wanita yang kini menghampirinya dengan wajah penuh kekhawatiran itu.
"Putriku sayang... Rara.....!"
Wanita itu dengan suara pilunya, mendekati Rara yang masih tercengang di tempat.
"Mama....!" ujarnya dengan perasaan yang bergejolak. Sedih, bahagia serta kaget bercampur jadi satu. Ia juga sangat merindukan ibunya itu. Sudah dua bulan ia putus komunikasi dengan sang ibu. Ia tak tahu nomor kontak sang ibu.
"Rara, putriku..!" kamu, kamu kenapa? kenapa wanita itu menyerangmu?" Jejar Rani, memperhatikan lekat sang putri yang sudah banyak perubahan dalam hal penampilan.
Ia yang kaget mendapati Rara dalam keadaan memprihatinkan, membuatnya sedih. Air mata kembali mengucur deras. Menarik Rara kepekukannya.
"Anakku, maafkan mama ya?" Rani merasa sedih, ia sebagai ibu tak bisa membuat sang putri bahagia. Itu semua karena ulahnya yang tak becus jadi orang tua.
Seburuk apapun penilaian orang terhadap ibu kita. Kita tetap menganggap ibu kita adalah wanita yang baik. Karena wanita itulah yang melahirkan kita ke dunia ini.
"Sayang... Kamu baik baik saja kan?" memeriksa Rara dari kepala hingga ujung kaki. Ya kini mereka sudah berdiri disisi mobilnya Rani.
"Iya ma, saya baik baik saja." Jawabnya dengan perasaan haru. Ia sangat bersyukur dalam keadaan terpuruk, bisa bertemu dengan sang ibu.
"Syukurlah..." Rani kembali memeluk sang putri. Menciumi wajah dan kepalanya dengan bertubi tubi. Mencurahkan rindu yang membuncah.
__ADS_1
"Ayo," menuntun Rara naik ke dalam mobil.
"Ma, motorku di sana." menunjuk ke arah kantor nya Bimo.
"Nanti saja dijemput, ayo kita pulang." Ujar Rani lembut. Rara pun menuruti ucapin sang ibu.
Mereka kini sudah duduk di kursi belakang supir.
"Pak kita ke kota, ke kantor polisi." Titah Rani pada supirnya.
Rara terkejut mendengar ucapan sang ibu.
"Gak usah ke kantor polisi ma." Rara terlihat panik.
"Wanita tadi sudah melakukan kejahatan. Ia harus dilaporkan. Mama yang akan jadi saksi. Dari kejauhan tadi, mama sempat merekam pertengkaran kalian. Mama gak mengenali kamu, karena kamu pakai hijab. Saat mama turun dari mobil. Kamu tahu sayang, jantung mama copot rasanya, melihat kamu wanita yang dianiaya nya." Jelas Rani dengan kesal. Siapa juga yang tak emosi, melihat anak sendiri diciderai.
"Gak usah dilapor Ma. Nanti jadi panjang urusannya. Saat ini lagi banyak masalah Ma." Ujar Rara dengan memelas. Ia sedang tak mau berurusan dengan pihak berwajib. Masalah masih ada yang belum tertuntaskan terkait sang suami yang bangkrut.
"Gak sayang, dia harus dilaporkan!" Rani kekeuh dengan keputusannya. Kalau ibunya sudah ngotot seperti itu, tak ada gunanya dibantah.
Rara pun akhirnya pasrah dengan keputusan sang ibu. melaporkan Jenifer yang menyerang Rara ke pihak berwajib.
__ADS_1
Kini mereka sudah sampai di kantor polisi. Melaporkan kepada Piket, tentang aduan pencobaan pembunuhan. Bukti sudah ada berupa rekaman video saat Jenifer ingin menghantamkan balok kepada Rara.
TBC