
"Paman, paman lagi." Bimo merajuk, ia menurunkan sang istri dari gendongannya.
Kedua keningnya Rara tertaut melihat ekspresi sang suami. Masak gar gara dipanggil paman merajuk gitu.
"Mau ke mana cinta? sini dibantuin buka bajunya..!" Rara menahan tangan sang suami dengan senyum manisnya. Ia harus jadi istri yang baik, membuat suaminya senang akan sikapnya. Suami nya sudah lelah bekerja, wajar jadi sensitif dan cemberut.
Ucapan lembutnya Zahra seperti angin segar di sore hari. Sudut bibir tertarik ke samping menghabiskan senyum yang tertahan.
"Gak usah mandi juga tetap wangi." Syur.. Darahnya Bimo berdesir hebat, saat merasakan bibir lembut sang istri mendarat di dada bidangnya yang dihiasi bulu halus rapi itu.
Ada sepuluh kecupan mendarat lembut. Hilanglah sudah rasa letih bekerja seharian ini. Rara perlahan melepas kemeja yang digunakan sang suami. Tak ada satupun yang lewat dari pengawasan Bimo.
Rara menunduk melepas sabuknya Bimo yang membelit di pinggangnya. Auto miliknya langsung on dibalik celana. Rara tertawa kecil mengetahui itu. Ia langsung menutup mulutnya dengan satu tangan. Takut Bimo tersinggung lagi.
"Eemmm... Sana cepat mandi. Nanti waktunya lewat !" mendorong pelan sang suami yang masih terbengong. Rara ngacir ke lantai bawah. Sebaiknya ia berwudhu di bawah saja.
"Astaga.... Sudah berani ia menggodaku, lihat saja nanti gak bisa jalan ku buat." Ujar Bimo merinding geli. Membayangkan kegiatan intim mereka akhir akhir ini. Ia pun akhirnya memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Saat Bimo sudah keluar dari kamar mandi. Rara sudah siap dengan mukenanya. Tentu saja Bimo senang melihat sang istri yang menunggu nya sholat berjamaah.
Mereka pun akhirnya sholat berjamaah dengan khusuk. Setiap doa yang dipanjatkan Bimo di akhir sholat nya membuat Rara tersentuh. Suaminya itu meminta kebahagiaan untuk istrinya. Keluarga yang sakinah mawadah warohmah, diberi limpahan rezeki dan meminta keturunan.
Rara menjulurkan tangannya dan disambut hangat oleh sang suami. Ia pun mengaku tangan sang suami menempelkannya di dahi dan menciuminya. Setelah itu Bimo mencium kening sang istri.
Syurr..
Hatinya Bomo damai sekali rasanya. Ia sangat bahagia dan bersyukur. Ternyata Rara sikapnya masih seperti Rara kecil yang dulu. Yang memang benar sayang padanya dan pandai mengambil hatinya. Betapa bodohnya ia menjauhi Rara dulu, karena kesalahan kecil yang tak sengaja dilakukan oleh sang istri.
"Eemm...Mau bulan madu ke mana?" tanya Bimo, mereka kini sedang berada di atas ranjang. Bimo merasa lelah sekali. Ia meminta bermanja tidur di paha sang istri. Sedangkan Rara membelai lembut rambut dan wajah sang suami. Yang terlihat tampan dengan baju kokoh dan sarung yang masih ia kenakan
"Eemmm... Rencananya habis pesta si bos. Kita akan bulan madu. Ya pekerjaan penting tinggal sikit lagi. Lagian sudah aku bagi bagi pada karyawan." Jelas Bimo lembut, tangannya bergerak ke bibir Rara mengelus lembut bibir tipis menggoda itu.
"Iijh... geli tahu." Rara menurunkan tangan sang suami.
"Mau bulan madu ke mana?" Bimo kembali mengulang pertanyaan.
__ADS_1
"Di sini saja cinta. Ini sudah seperti sedang bulan madu koq. Ini rumah sudah seperti hotel, pemandangannya bagus, hawa di sini sejuk, buat pingin mengeram terus." Ujar Rara menahan senyum. Mana mungkin ia minta pergi bulan madu ke luar negeri. Suaminya itu lagi perlu uang banyak, karena sedang membuka usahanya. Tapi, lihatlah gengsi sang suami, ngajak mau bulan madu segala.
"Eeemm... Jangan remehkan aku ya istriku. Aku itu masih ada simpanan untuk buat kamu senang." Bimo menatap lekat Bimo.
"Gini saja sudah seneng koq cinta." Mengapit gemes hidung mancungnya Bimo.
Bimo terpancing, ia mengubah posisinya jadi duduk di hadapan sang istri. Ngapain lagi, kalau bukan mau ciu-man.
Tok
Tok
Tok
"Tuan, tuan, ada tamu..!"
Shitt...
__ADS_1
Saat asyik-asyiknya menjelajahi leher sang istri. Lagi lagi ada gangguan. Seperti nya mereka harus mengungsi, agar tak ada gangguan. Ini ni yang buat kepala makin sakit
TBC