GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Sama saja


__ADS_3

"Oouuwwhhh..!" karena tak hati hati, pisau di tangan melukai jarinya dengan pisau kater yang tajam nya setajam silet itu.


"Rara...,! kamu kenapa..?"


Suara yang ia kenal terdengar penuh kekhawatiran di ruang dapur. Rara menoleh ke asal suara, dengan menekan jari telunjuknya yang terluka dan mengeluarkan banyak darah.


Rara juga heran, darah yang keluar dari jarinya yang terluka sangat banyak, bahkan mengucur deras.


Zahra... Momsky....!" ujarnya dengan wajah yang berbinar-binar. Ia kaget bercampur senang melihat Zahra ada di rumah itu. kenapa Zahra datang ke rumah orang tuanya Bimo?


"Kamu kenapa?" Zahra terlihat khawatir, memperhatikan Rara yang menekan lukanya. Agar darah berhenti. Tapi, nyatanya tak kunjung berhenti.


"Ya ampun....!" dengan hebohnya, Zahra mengambil tisu dari tasnya. Ia melap, membersihkan darah yang terus mengucur itu.


"Sakit..?" tanya Zahra dengan panik dan penuh kekhawatiran. Apalagi kini matanya Rara sudah mengeluarkan air mata. Zahra beranggapan Rara menangis karena tangannya kena sayat.


"iya." Jawab nya sendu.


"Ya ampun..." Tuti yang tadi masih di ruang tamu, bicara dengan Ezra. Kini dibuat syok melihat sang kakak ipar terluka.


"Tadi sudah saya bilang, eda di kamar saja. Lihatlah tangannya jadi kena sayat." Ucapnya penuh kekhawatiran. Mengambil air seember dari kamar mandi. Ia langsung membasuh tangannya Rara yang masih mengeluarkan darah itu.


"Ucokk... Ambilkan handuk dulu... Betadin juga di lemari... " teriaknya pada sang anak. Si Tuti takut bensin saat ini, tadi sebelum Bimo pergi bersama suaminya. Abangnya itu berpesan menjaga istrinya. Dilayani baik baik, karena Rara orang baru di keluarga mereka dan baru kali oni datang ke rumah mereka. Jangan disuruh nyuci piring, masak atau bekerja. Dan melihat Rara yang terluka. Ia tak mau Bimo salah paham.


"Masih sakit Raa?" Zahra memperhatikan interaksi Rara dengan adik iparnya. Terlihat rukun, karena iparnya Rara terlihat sangat mengkhawatirkan Rara.


"Iya, perih juga." Jawabnya meringis. Memang rasanya sakit sekali.

__ADS_1


"Gak apa apa koq, gak dalam. Memang kalau jari telunjuk kita yang luka, banyak itu mengeluarkan darah. Sebentar lagi, darahnya akan berhenti. Kecuali tadi eda punya penyakit hemofilia. Baru aku khawatir." Jelas Tuti, yang sebenarnya berprofesi sebagai Bidan. Tepat nya Bidan desa di kampung itu.


"Ini mak!" anaknya Tuti menyerahkan handuk dan betadin.


"Mana kain kasanya nak, plester mana?" Tuti merasa anaknya gak cekatan. Sudah di bilang di lemari, ya harusnya membawa semua peralatan medis. Anaknya Tuti sudah kelas 7.


Bayangin saja, adiknya aja sudah punya anak kelas 7. Eehh... Si Bimo baru kawin.


"Tadi mamak hanya bilang handuk dan Betadine. Mana ada bilang kain kasa dan plester." Elak si anak, tak mau disalahkan.


"Ya sudah cepat ambilkan!" titah Tuti pada sang anak.


"Kamu menangis Ra? apa ibot Bimo menyiksamu di sini?" tanya Zahra dengan raut wajah heran. Kenapa pula Rara terlihat seperti baru saja menangis.


"Gak, Abang gak ada menyiksanya. Kami semua baik padanya." Sahut Tuti cepat dengan ekspresi wajah takutnya.


"Terus ini kenapa putriku jadi mengeluarkan air mata, tangannya juga luka?" pertanyaan Zahra membuat Tuti terkejut.


"Gak apa apa koq momsky, tadi itu aku gak hati hati saat mengiris bawang. Ya tersayat deh. Terus ini air mata, bukan air mata penderitaan. Ini air mata buaya!" ujarnya tertawa kecil.


"Kau ini, ada ada saja." Zahra memperhatikan adiknya Bimo yang sedang membalut luka di jarinya Rara.


"Sudah, eda ke ruang tamu saja. Biar aku buatin minuman dulu." Ujar Tuti dengan perasaan tidak enak hati pada Zahra.


"Maaf ya Nantulang. Kami gak bisa menyambut nantulang dengan baik. Maunya tadi dikabari, kalau mau datang " Ujar Tuti enggan, menatap Zahra. Jangan sempat penilaian orang tuanya Rara buruk pada keluarga Bimo.


"Iya, gak apa apa koq bere, santai saja " Jawab Zahra tersenyum tipis.

__ADS_1


Rara dan Zahra akhirnya menghampiri Ezra di ruang tamu.


Saat melihat ayahnya itu, Rara langsung memeluknya. Matanya yang sembab karena mengiris bawang, kini beneran mengeluarkan air mata.


"Kamu sehatkan sayang?" ujar Ezra masih memeluk Rara yang sudah dianggap nya sebagai anak kandung sendiri.


"Iya ayah, sehat " Jawabnya dengan terisak, bahkan air matanya sudah membasahi bajunya Ezra.


"Aku itu kangen banget sama ayah dan Momsky Zahra." Ujarnya mendudukkan bokongnya di sebelah kiri Zahra di sofa yang sama dengan yang di duduki Zahra.


"Bilang kangen, tapi gak pernah nelpon. Ke pesta pernikahan pun gak datang " Ujar Zahra cemberut.


Rara yang merasa tak enak hati, langsung meraih jemari Zahra. "Maaf momsky, bukannya gak mau datang kemarin. Kami mendadak pulang ke sini. Terus paman Bimo bilang, di kampung juga ada resepsi. Jadi, kami datangnya saat resepsi di kampung saja." Bicara dengan raut wajah merasa bersalah.


"Ia gak apa apa koq." Memperhatikan Rara lekat. penampilannya banyak berubah.


"Kamu pakai hijab, beneran dari hati, dapat hidayah atau karena hal lain?" tanya Zahra heran serta penasaran dengan Rara yang kini memakai hijab.


Ezra tersenyum tipis mendengar pertanyaan Zahra.


"Tentu Rara dapat hidayah. Bukan seperti kamu sayang, yang memakai hijab, karena alasan tertentu."


Pukkk


Bantal sofa melayang sudah ke arah Ezra. Tentu saja pria itu menangkapnya dengan indah.


Rara dibuat terhenyak dengan kelakuan orang tuanya, yang ternyata lebih semarak dari tingkah nya bersama Bimo.

__ADS_1


TBC


Tinggalkan jejak, like coment, vote dan hadiah dong say..!πŸ€­β˜ΊοΈπŸ˜πŸ™


__ADS_2