GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
POV Rara


__ADS_3

Malam ini aku merasa bahagia sekali. Aku jadi merasa punya keluarga yang utuh kembali. Punya orang tua yang baik. Ada ayah dan ibu mudaku. Ingin sekali aku memanggilnya Momsky .


Hihihi..


Lucu ya, dapat ibu yang seumuran dengan kita, rasanya seru banget. Apalagi kita ternyata satu server. Sama-sama menyukai film action dan suka tertawa cekikikan. Tiga jam kami menghabiskan waktu di mall. Nonton bareng ayah dan berbelanja. Sudah lama juga aku tak jalan-jalan bareng ayah.


Ehh dapat ibu baru. Hebohnya minta ampun, sangat seru jalan-jalan bareng Momsky Zahra. Suasana jadi hidup dan penuh suka cita. Sangat berbeda jikalau jalan-jalan dengan Mama Rani, yang ada buat BETE. Habis Mama Rani sibuk dengan dunianya sendiri kalau lagi jalan-jalan. Tertawaa saja gak boleh. Harus terlihat anggun.


Kesedihanku sesaat terlupakan karena malam jni sangat membahagiakan. Aku dan Zahra sudah berbaikan, rasanya sangat menentramkan jiwa. Ternyata ia anak yang sangat baik. Bodohnya aku dulu memusuhinya, hanya karena aku terobsesi pada Ferdy.


Aku tak bisa melihat seorang pria yang baik. Aku akan tertantang untuk mendapatkannya. Karena, aku ingin merasakan kebaikan dari pria itu. Kebaikan dan penuh kasih sayang, seperti yang pernah ku dapatkan dari paman Bimo.


Huuuftt...


Kenapa aku teringat lagi padanya?


Akhirnya terasa kantuk juga. Kami sedang diperjalanan menuju pulang ke rumah. Keasyikan nonton, berbelanja dan makan malam di luar membuat kami baru bisa pulang ke rumah setelah pukul 22.10 Wib.


Saat sampai di parkiran. Aku melihat mobilnya paman Bimo.


Dug dag dug dag


Jantungku langsung bermasalah. Entah kenapa aku jadi takut pada paman Bimo, yang sekarang sudah jadi suamiku. Aku merasa seperti pencuri yang ketangkap basah saat ini. Benar-benar takut, takut akan diinterogasi dan dimarahi.


"Itukan mobil Bimo. Apa aku bilang, dia pasti pulang." Ujar Momsky Zahra dan langsung merangkulku. Menuntunku untuk masuk ke dalam rumah. Karena saat ini, aku yakin. Momsky Zahra, tahu kalau aku sedang tegang dan penuh kekhawatiran.


Aku belum berani manggil Zahra dengan Momsky. Itu masih dalam angan-angan ku saja.


Sesampainya di dalam rumah. Kami tak menemukan Paman Bimo di ruang tamu, ataupun di ruang keluarga.


"Bik, di mana Bimo?" Ayah akhirnya bertanya dengan ekspresi wajah datar, pada kepala pelayan.


"Tuan Bimo di kamar non Rara tuan." Jawab Bik Magdah selaku kepala pelayan di rumah kami.


Dug


Mendengar jawaban Bik Magdah, membuat jantungku berdebar hebat. Sungguh membahas dirinya, sudah membuatku setegang ini.


Ia ada di kamarku.


"Sudah lama dia datang Bik?" Ayah yang tak puas dengan jawaban Bik Magdah, menanyakan kembali tentang paman Bimo.


"Sudah ada sekitar 30 menit Tuan." Bik Magdah masih menunduk penuh hormat, menjawab pertanyaan ayah.


Ayah menatapku dengan tatapan datar. Tatapan ayah itu, membuatku semakin ciut.


"Masuklah ke kamarmu sayang. Di sana suamimu sudah menunggu. Ingat, nanti jangan terbawa emosi ya?" Ujar Ayah lembut, mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Iya ayah." Sahutku lemah, aku melirik momsky Zahra di sebelah ku. Ia memberikan semangat padaku dengan senyumannya.


Dengan mencoba meredam rasa khawatir yang berlebihan ini, aku menyeret kakiku yang terasa sangat berat, seperti ditimpa gundukan tanah liat. Sungguh terasa sangat berat untuk melangkah. Jantungku juga berdebar-debar begitu hebatnya, yang membuatku jadi susah untuk menghela napas.


"Ya Allah... Kenapa jadi setegang ini. Kenapa aku jadi takut padanya? perasaan apa ini ya Allah... perasaan benci dan kecewa kah?"


Aku bermonolog, mengelus pelan dadaku yang masih bergemuruh hebat saat ini.


Huffftt...


Aku kembali menarik napas panjang. Aku perlu oksigen. Aku harus bisa rileks. Agar jantung yang berdebar-debar terus. Bisa berkurang ritmenya.


Lima menit sudah aku berada di depan pintu kamar ku. Mondar-mandir sambil mere mas tanganku yang sudah berkeringat. Sungguh aku tak sanggup untuk berhadapan dengan paman Bimo. Aku tak akan sanggup dengan sikap dinginnya nanti. Aku bisa lepas kontrol, dan melawan. Karena aku tak sanggup mendengar untuk disalahkan, diremehkan dan dimarahi. Yang aku inginkan saat ini dimengerti, diberi perhatian dan kasih sayang.


Huufft....


Aku kembali menarik napas panjang untuk terakhir kalinya. Masih Mengelus dadaku yang berdebar, walau ritme debarannya sudah berkurang.


Bismillahirrahmanirrahim


Ucapku dalam hati, sebelum tanganku menekan handle pintu kamarku.


Ceklek..


Duaaar..


Pintu terbuka, aku yang masih ketakutan, mulai mencari keberadaan paman Bimo di kamarku dengan penuh kewaspadaan.


Dan....


Dug


Dug


Dug


Jantungku kembali bermasalah. Aku merasa jantungku sudah copot. Aku lemas sudah, ingin ambruk disaat matanya menatap ke mataku. Matanya tajam seperti mata elang yang mencari mangsa dan siap menerkam.


Saat ini, paman Bimo tengah duduk di sofa sudut kamar dengan kakinya terbuka, menatapku tajam. Aku sampai merinding karena ketakutan. Ia seperti hantu saja, sangat menyeramkan.


Paman Bimo menautkan kedua tangannya di atas pah a nya yang terbuka lebar itu dan menempatkan nya di dagunya. Memijat-mijat dagunya, dan masih menatapku tajam. Ia seperti ingin menerkamku saja.


Aku Tak sanggup membalas tatapan tajamnya. Aku menunduk, kemudian menutup pintu kamar itu, dengan penuh ke hati-hatian. Aku gak tahu, apakah aku menutup pintu kamar ku dengan benar, atau tidak. Karena aku sudah tak konsentrasi lagi.


"Bisa ya kamu keluar dari rumah, tanpa memberi kabar terlebih dahulu dan pulang selarut ini!" Suaranya Paman Bimo terdengar penuh kekecewaan. Cara bicara nya sih lembut, tapi ekspresi wajah nya masam.


Dug

__ADS_1


Aku terlonjak kaget mendengar ucapan Paman Bimo. Aku pun kini hanya bisa mematung di hadapannya. Seperti penjahat, yang mengakui kesalahannya pada pak hakim.


"KUBERI WAKTU BERKEMAS 10 MENIT. !" Lagi-lagi ucapan paman Bimo yang tegas itu membuatku bingung


Berkemas?


berkemas apa?


mau ke mana kami malam-malam begini?


"Gak dengar? gak dengar yang aku bilang, hingga kamu terbengong disitu. Makanya hidup yang benar. Jangan nar Koba Mulu kamu pikirkan, mabuk mabuk an, nanton Por no, Du gem, dan lain sebagainya. Lihat dampaknya, kamu jadi oon, bodoh dan terlihat tuli. Karena selama ini yang kamu lakukan sudah merusak kinerja tubuhmu."


Seerrr


Darahku rasanya tumpah ruah mendengar umpatan suami mulut cabe rawit setan ini. Lemas sudah aku dapat sumpah serapah itu. Aku tak bisa menahan diri lagi. Rasanya dadaku sangat sakit, perih nyeri. Ucapannya kejam sekali.


Walau bener aku seperti itu. Kenapa harus diungkit lagi. Tak ada orang yang seneng kelemahannya dibahas lalu dipojokkan.


Jahat kau paman, jahat...!


"Kenapa masih bengong? cepat berkemas, ku beri waktu 10 menit."


Paman Bimo seolah tak mau tahu dengan keadaanku. Saking takut nya aku padanya kakiku benar-benar layu. Kakiku tak bisa diajak kompromi. Aku jadi seperti, menunduk dengan air mata yang mengucur deras. Bahkan berkata-kata pun mulutku terasa keluh.


"Waktu tersisa Lima menit lagi, betah sekali kamu jadi patung di situ? kalau batas waktu yang ku berikan tak kamu penuhi. Maka kamu akan ikut dengan saya, dengan pakaian yang melekat di tubuhmu saja. Dan, kamu tak akan ku izinkan lagi datang ke rumah ini, mengambil barang-barang penting milikmu. Karena, di rumah ini kamu tak ada hak. Kamu tahu kan siapa dirimu sekarang. Kamu bukan keturunan keluarga di rumah ini."


Hiks


Hiks


Hiks


"Ibu.."


Aku mengumpulkan semua tenagaku, menyeret kakiku yang terasa layu itu ke ruang ganti.


"Ibu.... Ibu ..!"


Walau semua orang bilang ibu jahat. Tapi, ibu Rani itu selalu penuh kasih memperlakukanku. Saking sayangnya, ibu tak pernah memarahiku.


Saat mempacking barang milikku ke dalam tas koper sedang. Aku mendengar pertengkaran antara paman Bimo dengan Momsky Zahra. Seperti nya Momsky Zahra sangat mengkhawatirkanku. Begitu juga dengan Ayah.


Ayah, yang bukan ayah biologisku itu tetap menganggapku sebagai darah dagingnya sendiri. Aku mendengar ia mengancam paman Bimo


TBC


Like coment dan vote. Beri semangat dong.

__ADS_1


__ADS_2