
Huuuffft...
Rara menghela napas panjang. Diklitikin sang suami membuatnya lelah.
Bimo yang masih memeluk Rara dari belakang, merasakan tarikan napas istrinya itu. Istrinya perlu dimanja. Ia pun mulai berniat melanjutkan aksinya. Ia tahu, Rara masih mengeluh sakit. Tapi, apa salahnya dicoba lagi, siapa tahu istri nya itu merasakan enak juga. Atau gak usah penyatuan, saling bercumbu saja pun tak masalah.
"I Love you..!" bisik Bimo di daun telinga Rara. Rara meras geli dengan sapuan napasnya Bimo. Ia mengangkat bahunya, tak tahan dengan lidah dan bibir nakalnya Bimo memainkan telinga.
"Iiiih ... Geli sayang..!" ujarnya tersenyum bahagia.
"Bener nih gak usah ke Dokter?" ujar Bimo kini memasrahkan kepalanya di bahu sang istri. Tangan yang memeluk dari belakang sudah mulai mendaki gunung kembar.
"Ke Dokter? yakin kita periksa ke dokter cinta?" Rara melirik Bimo.
Bimo nampak berfikir. "Kalau kamu masih merasa sakit, kita periksa ke medis lah sayang."
"Nanti ditanyain dokter, keluhannya apa. Terus jawabnya apa coba. Paman aneh-aneh saja " Rara mulai merasa kantuk. Ia berontak dari pelukan Bimo. Menepis tangan Bimo yang memainkan gunung kembarnya. Ia sebenarnya sudah mulai bergairah lagi. Tapi, takut kena sodok lagi. Takut masih sakit.
"Iya juga ya, gak mungkin juga karena malam pertama. Hihihi.. " Bimo yang gemes, langsung merebahkan Rara. Menatap sang istri dengan penuh cinta.
"Jangan tatap seperti itu paman."
"Jangan panggil paman dong!" Bimo cemberut.
"Iya deh cintaku." Rara menjepit gemes hidungnya Bimo. Bimo menangkap tangan sang istri, dan mengecupinnya. Dari tadi bibir suaminya itu nyosor Mulu.
"Mau ya sayang, kita lanjut kan lagi, satu kali saja sebelum tidur.!?" Bisik Bimo, lalu gigi-giginya nakal menggigiti daun telinga Rara dengan lembut.
“Ahh.... Cinta .” Gerutu Rara dengan suara manjanya. Mau ditolak, tapi penasaran juga.
“Kita lanjutkan saja, Baby... Honey.... Sweety sya la la la..?” Bisiknya, dengan deru nafas yang membuat tengkuk leher Rara bergidik geli. Sekligus merasa lucu dengan kalimat yang keluar dari mulut sang suami.
__ADS_1
“Bukannya tadi sudah dua jam, ini masih sakit Cinta." Gerutu Rara, menunjuk ke bagian intinya
Bimo tersenyum nakal, ia malah berpindah posisi ke bagian bawahnya Rara. Ia angkat kedua kaki jenjang putih mulusnya Rara kemudian ia buka kedua paha mulus itu lebih lebar, lalu ia benamkan wajahnya disitu.
“Ooowwh..” Erangnya, Bola mata Rara mengerjap, mulutnya menganga, kepalanya mendongak lalu erangannya menggema di kamar itu. Bagaimana tidak, bagian yang perih tadi telah dijil-ati Bimo dengan lembut. Ia merasa lidahnya Bimo telah menutup luka goresan itu. Seperti ada lem, menutup lukanya. Yang tadinya sakit dan perih, kini jadi enak dan buat menggila.
“Ehmm. Eemmmmhhpppp.. , Ahhkkk..” Desah Rara lagi. Wajahnya Bimo masih terbenam di lembah indah itu. Sedangkan tangannya Rara sibuk menjambaki rambutnya Bimo. Ia tak tahan lagi dengan sensasi nikmat yang tengah menjalar di sekujur tubuhnya.
Ia menarik kuat kepala nya Bimo ke arahnya, agar berhenti bermain di sana. Tak tahan lagi wanita itu. Tentu saja reaksinya Rara yang sangat menikmati membuat Bimo semakin tersulut Bira hi nya.
Bibirnya kembali melahap habis bibirnya Rara. Lidahnya membelit lidahnya Rara. Dan tangan kiri, meremas gundukan kembar yang kenyal dan hangat. Sedangkan tangan kanan dibuat Bimo sebagai penopang tubuhnya agar tak menimpa tubuh Rara kuat.
Deru napas keduanya semakin memacu. Hasrat bergelora menjalar menenggelamkan keduanya dalam lautan Bira hi.
Bibirnya Bimo kembali menyedot setiap inchi lehernya Rara. Habis sudah leher putih mulus itu berubah warna merah maroon.
Rara ingin lebih. Ia menarik kuat tubuhnya Bimo, menindihnya dan memeluknya erat sang suami. Kuku menancap kuat di punggungnya Bimo. Tahu apa yang diinginkan Rara. Bimo kembali memasukkan miliknya yang besar panjang dan keras itu.
"Ouuwwhh..!" leguh Rara mengerang kenikmatan. Masih sakit, sakitnya seperti tubuh dibelah, tapi lama lama menimbulkan letupan letupan kenikmatan yang tak bisa dijabarkan. Disaat pinggulnya Bimo bergerak perlahan dan dalam.
Erangan Rara membuat Bimo semakin bergairah. Ia memperkuat sodokan dan goyangannya.
"Aakkhh.. Aakkhh... Uwuh..... " Desah Rara lalu kembali meraih rahangnya Bimo. Menabrakkan bibir mungilnya pada bibir suami, yang membuat si empunya bibir menyambut dengan sangat antusias. Mereka kembali bertukar Saliva dan menahan Desa Han, meski beberapa ada yang lolos.
Kuku panjang Rara masih menancap kuat pada punggung sang suami. Menahan Gelagar nikmat tak tergantikan dan menderu tubuhnya.
"Bersama sama ya istriku..!" Desa h Bimo sambil menekan kuat pinggulnya semakin dalam. Tubuh kekar suaminya tengah bergerak maju mundur di atas tubuhnya Gerakan tubuh mereka seirama, sembari terus berciuman panas untuk menambah gairah bercinta malam ini. Sudah empat hari mereka menahan hasrat untuk penyatuan ini dan ini harus disalurkan.
“Baby, milikmu hangat sekali” Erang Bimo dengan tubuh yang sudah penuh akan peluh. Saat melakukan kegiatan panas, mereka memang tidak pernah menyalakan pendingin udara, karena memang di kota Berastagi terkenal dingin.
“Ahhhh Oowwhh Cinta...” Desah Rara sembari terus meremas sprei berbahan sutra yang baru saja tadi diganti Bimo, setelah pecah selaput darah. Rara menatap penuh takjub dengan kekuatan suaminya, ia ikuti irama bercinta Bimp sembari menjamah tubuh sempurna ini dengan jemari lentiknya.
__ADS_1
“Ahh Suamiku, Oh sayang enak... !” Erang Rara, saat gerakan tubuh suaminya semakin cepat mengguncang kewanitaannya yang ada dibawah sana.
“Ahhkkh.!”
Desa han keduanya saling mengalun kasar hampir mencapai pelepasan. Mengalun alun alun di udara memenuhi setiap sudut ruang kamar itu. Dan dalam satu hentakan kuat, benih benih kepemilikan Bimo sudah bersemayam nyaman di dalam rahim sang istri memberi sensasi hangat yang membuat keduanya lelah sekaligus legah.
Bimo ambruk di atas tubuh sang istri. Membenamkam wajah di ceruk lehernya Rara dengan napas tersengal-sengal. Permainan kedua lebih nikmat dari permainan pertama. Mungkin karena Rara sudah menikmati dan nyaman saat penyatuan mereka.
"Sayang.... Berat...!" keluh Rara, karena Bimo masih menimpanya.
",Oouuuhhh.. !" Bimo mengangkat kepalanya dan menggerakkan nya ke kanan dan ke kiri. Kedua tangan nya bertumpu di sebelah Rara dia tas ranjang. Milik nya yang masih di dalam intinya Rara, kembali di sodok sodok kan nya. Karena memang masih keras.
"Iihh.. Sudah dong...! becek, gak mau...!" Keluh Rara, ia tak suka mendengar suara miliknya yang sudah basah dimainkan milik suaminya itu.
"Nikmati sayang, sekali lagi." Pinta Bimo.
Rara terdiam, Bimo kembali memaju mundurkan miliknya.
"Ngilu... Ngilu...!" keluh Rara.
"Ia kah.?"
Bimo mencabut miliknya dengan mata terpejam. Milik nya Rara masih sempit. Rara saja bisa merasakan saat Bimo menarik pentungan nya itu.
Aakakkk..
"Kenapa buat nagih? tapi koq tadi ngilu." Ujarnya bingung.
"Mungkin reaksinya sayang." Bimo menggulingkan tubuhnya di sebelah Rara. Tangannya sibuk meraih tisu di nakas. Ya mereka sudah menyiapkan semuanya. Ia membersihkan miliknya. Kemudian kembali duduk melap cairan sang istri.
TBC
__ADS_1
Like coment positif vote say