GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Kekeluargaan


__ADS_3

Alva bener bener membuntuti Rara. Tapi, saat masuk ke kantor sederhananya Bimo yang masih terbuat dari papan itu. Ia memilih menunggu di luar tepatnya di tepi jalan. Rara tak menyadari kalau Alva membuntutinya.


Saat masuk ke kantor miliknya Bimo. Jenifer terlihat sibuk beserta karyawan lainnya sedang mencairkan uang ke pemilik tanah yang dibeli oleh Bimo.


"Rara, ka, kamu ke sini?" ujar Jenifer sedikit tergagap. Karena terkejut mendapati Rara di tempat itu.


"Iya kak." Jawab Rara dengan tersenyum tipis. Walau ia sedang banyak pikiran. Ia tak boleh terlihat tertekan di depan banyak orang. Ia pun mendudukkan bokongnya tepat di sebelah Jenifer. Karena ada kursi kosong.


Rara memperhatikan cara kerja Jenifer. sedikit pun tak ada yang mencurigakan. Wanita itu kerja dengan sangat cekatan dan profesional. Tutur pada clien sangat sopan. Hingga dapat waktu istirahat. Rara pun meminta waktu untuk berbicara.


Jenifer mengiyakannya, Ia pun mengajak Rara ke sebuah pondok di sebelah kantor daruratnya Bimo itu. Pondok itu tempat beristirahat.


Keduanya duduk bersebelahan bersandar di dindingnya pondok yang setengah tertutup itu.


Jenifer terlihat membuka tas bekalnya, mengeluarkan bontot makan siangnya. Rara cukup terkejut melihat Jenifer yang terlihat sederhana.

__ADS_1


Dia bawa bekal makan siang?


Rara memperhatikan lekat Jenifer yang sedang menyiapkan bekal makan siangnya itu.


"Lapar! banyak sekali pekerjaan hari ini. Mana warga yang kita beli tanahnya mendesak pagi ini harus dibayarkan." Ujar Jenifer serius, memberikan satu kotak bekal makanan untuk Rara.


Rara yang heran dengan sikap Jenifer, tetap saja menerima bontot itu.


"Aku gak tahu, kalau Abang Bimo ditahan. Tadinya ini makanan untuk dia." Bicara seolah tak ada yang salah. Padahal Rara sudah panas mendengarnya. Berarti selama ini, Bimo sering makan siang dari bekal yang dibawa oleh Jenifer.


"Napa terlihat kaget gitu? apa kamu cemburu dengan ucapan ku tadi? aku sengaja bawa makanan banyak. Karena hari ini jadwal kerjaan padat Prepare aja, siapa tahu Abang Bimo dan aku gak bisa makan di cafe." Ujarnya masih dengan senyum tipisnya.


Memberi penjelasan tanpa ditanya.


Rara masih terdiam, dia belum mengerti dengan sifatnya Jenifer ini.

__ADS_1


"Ayo makan, nanti kamu sakit lagi." Menoleh ke bekal yang ada di hadapan Rara.


"Apa kakak sudah menghubungi pengacara yang dikatakan suamiku?" Tak mau membahas soal cemburu karena makanan. Yang terpenting sekarang tentang Bimo yang harus bebas.


Jenifer cukup terkejut dengan sikap Rara yang terlihat dewasa dan tak terpancing. Fokus membahas hal penting.


"Sudah, tapi besok pagi beliau baru bisa ke sini. Ia pas lagi di luar kota. " Ujar Jenifer kembali memasukkan makanan ke mulutnya. "Menurutku sih, masalah ini dibicarakan secara kekeluargaan saja. Coba kamu datangi keluarga yang melapor." menatap serius Rara.


"Kalau gak bisa secara kekeluargaan. Coba minta bantuan ayahmu. Ayahmu kan kaya, Bimo bisa dibebaskan dengan jaminan."


"Suamiku gak mau dibantu oleh ayah." Jawab Rara lesuh. Dia sepemikiran dengan Jenifer. Tapi, Bimo tak mau hal ini diketahui Ezra.


"Eehhmm... Oalahh... Koq bisa bisanya Abang Bimo dipenjara, mana katanya gara gara cewek, yaitu kamu. Heran saja, kamu itu selalu saja buat masalah untuknya." Kini cara bicara Jenifer tak bersahabat. Mukanya berubah jadi bete dan kesal.


TBC

__ADS_1


Like coment vote hadiah dong.


__ADS_2