
"Haaahhhhh....! Rara terperanjat melihat sosok yang ada di luar pintu rumah itu. "Suamiku." ujarnya tak percaya, membuka pintu dengan hebohnya.
"Assalamualaikum.... .!" suara Bimo mengucapkan salam terdengar tak sabaran.
"Iya, iya sayang... Rara heboh sendiri. Kunci yang ada di tangannya malah terjatuh ke lantai. Saking tak semangatnya mendapati sang suami sudah bebas.
"Kenapa belum dibuka? gak boleh ya aku masuk?" Kini Bimo sudah frustasi di luar pintu. Lama sekali istri nya itu membuka pintu nya.
"Ini lagi diusahakan. Kuncinya macet!" keluhnya bingung dengan kuncinya yang tiba tiba macet. "Kuncinya grogi sayang!" ujar Rara lagi dengan tak tenang. Kenapa pula kuncinya yang grogi.
Terlihat Bi Sakinah menghampiri Rara.
"Bi, gimana sih buka nya?" keluhnya pada Bi Sakinah. Ia memberi ruang, agar Bi Sakinah membuka pintu itu.
Ceklek, ceklek. Dengan mudahnya Bi Sakinah memutar kunci itu
Pintu terbuka d
Brugggkk
Rara langsung meloncat memeluk Bimo. Syukur Bimo kuat, sehingga ia yang lelah masih bisa menopang tubuh sang istri yang kini sudah dalam gendongannya. Kedua kakinya Rara membelit kuat di pinggangnya, tangannya memeluk erat leher sang suami.
"Aduuhh... Rara, kamu mencekikku!" keluh Bimo, karena Rara terlalu erat memeluk sang suami. Ia terlalu bersemangat karena suaminya sudah keluar dari tahanan.
"Iya kah, maaf .!" kini kedua tangannya hanya memegang pundak sang suami. Menatap sang suami dengan berbinar-binar.
Cup
Bibir lembutnya Rara, mendarat indah di pipinya.
Deg
__ADS_1
Syur...
Bimo terkejut dengan tingkah agresifnya sang istri. Kedua bola matanya membulat penuh. Tak menyangka Rara menciumnya. Ciuman kilat, tapi sangat membekas.
Bi Sakinah yang ikut senang melihat sang majikan sudah bebas. Tersipu malu melihat kelakuan pasangan di hadapannya. Ia menggeleng dan berlalu dari tempat itu.
"Ada bibi, koq main nyosor." Bimo memperhatikan lekat wajah sang istri yang sangat bahagia itu. Saking bahagianya terlihat berbinar binar.
"Iya ya, hadeuhhh... Terlalu senang, jadi lupa daratan." Ujarnya cekikikan. Mendekatkan jidatnya ke keningnya Bimo.
Rasa lelah gundah gulana saat ditahanan, kini menguap sudah karena disambut dengan penuh suka cita oleh sang istri.
"Kita makan dulu, tadi kami sedang makan bersama Bibi." Ujar Rara, ia masih dalam gendongan sang suami.
"Iya nih, lapar banget." Walau wajah sang suami sedikit kusam, tapi tetap terlihat tampan.
Masih dalam gendongan Bimo. Rara terus saja menatap sang suami. Hingga kini ia diturunkan Bimo di sebuah kursi makan.
Bi Sakinah sudah menyiapkan makanan untuk Bimo. Tepat di sebelahnya Rara.
Badai telah berlalu. Dan mereka bisa melewatinya. Badai hadir tidak untuk menghancurkan kehidupan kita, namun juga untuk membasuh dan membersihkan kita. Selalu ada hal positif yang bisa kita petik, dari terpaan badai sekalipun.
Dengan kejadian ini, membuat keduanya saling mengerti dan sadar. Kalau mereka saling mencintai.
***
"Eemmm... Kamu kenapa gak pernah dengar kata kataku sih sayang?" menjepit hidung mancungnya Rara dengan jempol dan telunjuknya.
Kini pasangan suami istri itu sudah bersiap-siap untuk tidur. Rara membuat lengannya Bimo sebagai bantal. Bergelayut manja dalam dekapan sang suami.
"Maksudnya apa Cinta?" kini Rara sudah membuat panggilan sayang pada Bimo, yaitu Cinta. keduanya beradu pandang.
__ADS_1
"Aku malu sayang, lagi lagi bos Ezra turun tangan, sehingga suamimu ini bisa bebas dari jeratan hukum?
"Apa..?" Rara yang terkejut langsung terduduk.
Ia pikir Alva yang membebaskan suaminya itu. "Aku gak mengadu pada ayah cinta." Kembali berbaring dan memeluk Bimo.
Dasar Alva sialan, apa sih maksud ia mendekatiku terus. Mau menghancurkanku? aku pikir ia yang membebaskan suamiku.
"Ia kah? ternyata Bos benar benar masih memantauku."
"Sore tadi kata bibi, ayah dan Momsky Zahra datang kemari." Masih mendongak menatap wajah sang suami.
"Eemm...Emang kamu gak di rumah tadi, sepulang dari kantor polisi?"
Rara mengangguk.
"Kamu pergi ke mana?" Bimo penasaran tentang aktifitas istrinya sepulang dari kantor polisi.
"Ke kantor." Jawab Rara santai.
"Kantor siapa?"
"Ya ke kantormu lah cinta."
Rara yang tak mau diinterogasi panjang kali lebar. Langsung saja naik ke atas tubuhnya Bimo.
"Heii... Sayang, apa datang bulannya sudah habis?" tanyanya semangat memeluk tubuh nya Rara erat.
"Belum..!"
Pelukan itu melonggar.
__ADS_1
"Astaga... Kamu itu selalu menyiksaku!" keluh Bimo frustasi . Menggaruk kepalanya yang gatal dan panas.
TBC