GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Sholat idul adha


__ADS_3

Pukul enam pagi Pasangan suami istri itu sampai juga di kampung. Delapan jam perjalanan darat itu pun ditempuh. Tak pernah Rara berkendara selama itu seumur hidupnya. Ia dulu yang jadi anak orang kaya, kalau ada perjalanan memakan waktu lebih dari empat jam, pasti naik pesawat pribadi milik sang ayah. Sekarang kemewahan itu sudah jauh dari hidup nya. Karena ia sekarang dinikahi seorang pria biasa. Tapi, punya hati luar biasa.


Suaminya itu saja hanya memiliki satu unit mobil yaitu Mobil kijang Innova. Seumur hidup, sejak menikah dengan Bimo lah Rara menaiki mobil jenis itu. Walau ia terbiasa menaiki mobil mewah, tetap ia bersyukur dengan apa yang dimilikinya saat ini. Karena memang ia sudah ikhlas memulai hidup dari nol bersama Bimo.


"Sayang... Kita sudah sampai." Bimo membelai lembut wajah sang istri yang sudah sejak tiga jam terakhir tidur di pangkuannya. Ya selama perjalanan Rara tidur terus. Itu diakibatkan ia minum obat anti mual saat berkendara. Tadinya ia tidur di bahu sang suami. Tapi, saat berhenti di rest area. Ia menukar cara tidurnya car di pahanya Bimo.


Rara membuka matanya yang masih berat itu. Walau ia tidur nyenyak. Tapi, badannya pegal semua. Padahal ia sudah sangat safety. Pakai jaket, sepatu, selimut lagi.


"Akhirnya sampai juga, aku penasaran gimana kampungnya paman sekarang." Ujarnya pelan, ia bangkit dibantu sang suami.


."Emang kamu pernah ke kampungku?" tanya Bimo heran. Menatap sang istri yang mengucek ucek matanya.

__ADS_1


"Pernah, waktu aku berumur 8 tahun. Masak paman lupa. Dulu ke kampung paman gak masuk kenderaan. Masih naik kuda. Hahhaha..!" Rara tertawa kecil.


"Jangan ngarang kamu, kalau 10 tahun lalu sudah masuk kenderaan ya?" Bimo tak mau kampungnya dikucilkan.


"Masak sih?" Rara menatap lekat sang suami dengan senyum mengejek nya.


"Sudah, ayo turun." Bimo turun dari mobil. Saat kakinya menapak di tanah kelahirannya itu. Ia menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Merenggang kan otot ototnya yang kaku, karena dibuat Rara sebagai bantal. Istrinya itu tidur maunya harus dipeluk Bimo.


Tadi malam Bimo sudah menyampaikan kabar pada adiknya yang sudah menikah dan tinggal di kampung itu, kalau ia ingin pulang, mengenalkan istrinya dan akan ikut dalam berQurban. Yaitu berqurban satu ekor lembu.


"Ya ampun cinta, aku tak menyangka kita akan disambut sehangat itu " Ujar Rara excited. Ia merasa sangat dihargai dan disayang. Ditambah ia banyak dapat pujian. Katanya ia sangat cantik, sangat beruntung Bimo dapat istri seperti dia.

__ADS_1


"Ia cepat sedikit berpakaiannya. Tengah delapan kita akan menunaikan sholat idul adha." Bimo sedang menyisir rambutnya Serapi mungkin. Bimo itu sangat rapi orangnya. Kalau berpakaian saja kancing kemeja harus terkancing sampai ke leher, walau ia tak memakai dasi.


"Ia, tahu mau sholat idul adha, kita maunya beli baju yang couple." Ujar Rara memperhatikan Bimo, yang ganteng dengan baju Kokoh putih berbordir di dada serta sarung kotak kotak gradasi. Bagaimana pun sifat kekanak-kanakan Rara masih ada. Masih suka baju yang couple.


"Tahun depan saja kita pakai baju couple dengan anak kita yang kembar tiga." Ujarnya tersenyum tipis.


"Apa, kembar tiga?" ujar Rara bengong. Membayangkan ia hamil kembar tiga, perutnya sebesar apa?


"Iya, aku kan sudah umur 36. Pria usia segitu, anaknya biasanya paling sedikit sudah tiga itu. Makanya nanti anak kita harus kembar tiga." Ujar Bimo membuka pintu kamarnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2