
"Apa sih? puas yang bagaimana?" Rara tak terima dikatakan genit. Ia langsung melepaskan tangan Bimo dari pinggangnya.
Tak terima dengan sikapnya Rara. Bimo membalik cepat tubuh sang istri. Ia menangkup wajahnya Rara. Dan mendaratkan bibirnya di bibir sang istri.
Syur...
Deg
Deg
Deg
Jantungnya keduanya semakin berdegup kencang, darahnya berdesir hebat. Seperti mendapat sengatan listrik bertegangan tinggi.
Kedua bola mata Rara membulat mendapatkan perlakuan spontannya Bimo. Begitu juga dengan Bimo, yang tak percaya, dirinya berani melakukan itu.
Ia tak tahu, kenapa ia ingin memiliki Rara saat ini.
Kedua bibir kenyal lembut itu, rasanya bertemu di tumpukan salju. Jadi dingin dan kaku. Sehingga bibir keduanya malah mentok di tempat tak ada pergerakan hingga kesekian detik.
Tok
Tok
Tok
"Tuan.... Ada tamu."
Suara Bi Sakinah mengejutkan pasangan suami istri itu. Ciuman tanpa pergerakan berakhir sudah.
Rara tampak menunduk, sedangkan Bimo bingung harus apa. Antara ingin bicara dengan Rara atau ingin menyahuti Bi Sakinah yang ada di balik pintu.
"A.. Ada tamu, nan--ti nanti kita lanjut lagi. Belum puas saya!"
Bimo tergagap, ia salah tingkah. Kedua tangannya bergerak ke arah Rara dan ke arah pintu secara bergantian.
Sedangkan Rara dibuat semakin bingung dengan ucapan sang suami.
Belum puas?
__ADS_1
Belum puas ciu-man?
Rara tersipu malu. Ia merasa ciuman mereka sangat lucu dan aneh.
"Ada tamu, tunggu di sini!"
Bimo juga tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya saat ini. Rasanya begitu plong, bisa mendaratkan bibirnya di bibir sang istri kecilnya itu. Karena diawal, ia merasa tak sanggup menyentuh Rara. Yang diakibatkan karena ia yang menjaga istrinya itu sejak dari kecil.
"Iya." Bicara lembut dengan menundukkan kepalanya dengan senyam senyum tak jelas.
Bimo yang salah tingkah, berjalan ke arah pintu kamar. Membuka pintu itu dengan mengusap wajah kasar. Ia merasa kelakuannya sangat bodoh. Kenapa ia jadi tegang begini.
"Ada tamu tuan."
Ujar Bi Sakinah, setelah Bimo membuka pintu.
"Iya Bi, ini mau turun!" melirik sayang istri dengan senyum manis. Rasa ciuman kaku itu masih ada. Rasanya panas di dalam. Dingin di luar. Benar-benar ciuman yang menggetarkan seluruh badan.
Bbrrrrr
Membayangkan itu, membuat darahnya Bimo berdesir hebat. Baru juga ciuman kaku, ia sudah tak tenang seperti ini. Apalagi jikalau mereka melakukan lebih.
"Ada apa Jenifer. Kenapa kamu ke sini? saya suruh kamu yang mengerjakan semuanya?" Belum juga ia duduk di sofa. Bimo sudah menteror Jenifer dengan banyak pertanyaan.
Bimo terlihat memeriksa berkas itu dengan teliti.
"Eemm... Gadis yang ikut meeting tadi beneran Rara bang?" Jenifer sungguh tak mengenali Rara.
Bimo melirik Jenifer, karena wanita itu membahas Rara.
"Gadis itu beneran Rara bang Bim?" mengulang pertanyaan yang sama karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Bimo.
"Iya."
Bimo memberikan berkas yang sudah ditandatangani nya pada Jenifer.
"Koq bisa? apa ia juga tinggal di rumah ini?" tanyanya bingung, ia masih menduga-duga.
"Iya Jen. Cepat kamu urus semuanya. Jangan sampai pihak Bank tutup. Hari ini itu harus cair." Menatap serius Jenifer yang terlihat bingung itu.
__ADS_1
"Eemmm... koq seperti itu? Abang kan membenci Rara!" ujar Jenifer masih dengan ekspresi bingungnya.
Bimo terdiam, terlihat menghela napas berat.
"Kamu siapkan pekerjaanmu. Tak usah kamu urusi masalah pribadiku." Bangkit dari duduknya, memberi kode pada Jenifer menyiapkan pekerjaannya.
"Baiklah, aku permisi." Bicara dengan lemah. Keluar dari rumah itu dengan penuh keputus asaan.
Sepeninggalannya Jenifer, Bimo langsung berjalan ke arah dapur. Ia memerintahkan Bi Sakinah membuat juice jeruk.
Saat Bi Sakinah membuat dua gelas juice jeruk untuk mereka. Bimo terlihat mendudukkan bokongnya di kursi meja makan. Sambil mengkhayalkan dan memikirkan gimana tindakan selanjutnya untuk mencumbu istrinya itu. Jujur, ia ingin memberikan kepuasan pada Rara. Ia harus jadi pria yang paling hebat dari semua pria yang pernah bersama istrinya itu.
Ia juga sudah menerima semua kekurangan Rara. Masa lalu hitam kelamnya Rara dan status Rara yang tak jelas anak siapa. Asal, Rara benar, akan setia padanya.
"Tuan, apa aku yang bawa ke atas?" tanya Bi Sakinah, dua gelas juice jeruk panas dan dingin sudah ada di atas nampan.
"Aku saja Bi." Meraih nampan yang di atasnya ada dua juice jeruk. "Makan siang sudah siap Bi?" tanyanya dengan ramah.
"Sudah tuan." Jawab Bi sakinah ramah
"Bibi siapkan di taman belakang ya makan siang kali ini!" titah Bimo, ditangan sudah ada nampan berisi juice jeruk panas dan juice jeruk dingin.
"Beres tuan!" BI Sakinah mengacung kan jempolnya. Ia turut senang majikannya akur.
Bimo menaiki anak tangga menuju lantai dua, dengan perasaan tak karuan. Jantungnya berdebar-debar tak berima. Ia benar-benar nervouse. Mendatangi sang istri rasanya sangat mendebarkan.
Saat masuk ke kamar itu, ia tak mendapati Rara di sana.
"Ra, sa, Ra sa,"
hadeuhh.... Aku bicara apa sih?
Bimo memukul mulutnya karena bingung mau bilang antara Rara, atau Sayang.
Sebaiknya panggil Rara
"Rara, kamu di mana?"
Bimo akhirnya mencari Rara di balkon.
__ADS_1
"Kamu di sini?" meletakkan nampan yang di atasnya ada juice jeruk di meja. Senyum kikuk malu-malu tercetak jelas di wajahnya Bimo. Sedangkan ekspresi wajah Rara mendadak gelap, seperti langit yang ditutupi awan hitam. Siap mengeluarkan air hujan.
TBC