
"Berjanjilah akan setia pada suamimu ini selamanya.!" bisik Bimo di telinganya Rara lembut. Kini ia sedang memeluk Rara erat dari belakang. Memperhatikan pantulan keduanya di cermin. Rara terlihat malu-malu menatap Bimo yang selalu mengendus perpotongan lehernya, dan juga menci - um gemes pipinya. BImo sudah kecanduan menc ium pipinya Rara yang lembut, halus dan kenyal itu.
Jangan tanya stempel kepemilikannya Bimo sangat banyak di leher jenjang sang istri saat ini. Bahkan kini leher Rara sudah seperti kena ruam campak. Bimo benar-benar tragis. Tadi sih rasanya enak. Tapi koq habis enak, bekas stempel itu terasa sakit.
Mereka sudah selesai mandi bareng. Tentu saja Rara sangat bekerja keras saat di kam ar man-di, membantu sang suami agar eja- kulasi. Bimo tak bisa konsentrasi penuh, karena jujur ia masih grogi dengan aktifitas intim yang mereka lakukan.
"Apa paman begitu mencintaiku, sehingga paman begitu takut kehilanganku? Sampai meminta berjanji segala." Ujar Rara, kini ia sudah memakai hijab instannya. Membalik badan menatap lekat kedua netra Bimo yang berbinar-binar.
"Ya jelaslah aku sangat mencintai istriku ini. Masak istri sendiri tak dicintai?" mengapit gemes pipi Rara yang memerah dengan jari telunjuk dan jempol.
"Paman cintanya kapan samaku?" bicara lembut dan manja.
"Koq panggil paman sih sayang?" memeluk gemes Rara.
Rara terharu, ia kembali merasakan kasih sayang tulus Bimo seperti dulu lagi. Ia pun akhirnya membalas pelukan eratnya Bimo.
"Jujur sejak kapan paman mencintaiku?" mendongak menatap manja Bimo. Pelukannya semakin erat.
"Eemmm.. Sejak kamu berani melakukan seperti ini!"
Mendaratkan bibirnya di bibir merah cherynya Rara
Sontak Rara terkejut mendengar ucapan sang suami.
Ia yang kaget itu, melepas pangutan bibir sang suami dari bibir nya yang kini terasa bengkak. Bimo gemes ingin rasanya ia menggigit bibirnya Rara.
"Paman, jangan bohong deh. Kalau benar paman sudah suka aku saat itu. Kenapa paman malah meninggalkanku?"
Rara tak terima dengan pernyataan jujurnya Bimo. Ucapan suaminya itu rasanya tak masuk akal.
Ia yang tiba-tiba kesal, mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Air muka cemberut.
Bimo dibuat bingung dengan situasi ini. Sulit dipahami memang, apa yang dirasakannya.
Bimo berlutut di hadapan sang istri. Meraih tangan lembutnya Rara.
"Perasaan itu aku sadari, saat kamu menc ium ku saat itu. Jelas aku marah padamu. Kamu saat itu masih kecil, masih berusia 12 tahun. Mana mungkin kita bisa teruskan hubungan itu. Aku pria dewasa dan kamu saat itu masih remaja." Menatap sendu Rara. Bimo sadar, Ia memang salah ambil keputusan dengan meninggalkan Rara.
"Tapi kan gak harus meninggalkanku begitu Saja. Paman bisa ingatkan aku, akan batas batasan itu. Bukannya malah pergi, disaat aku sayang sayangnya. Hua Hua hua.... Jahat... Kenapa jahat padaku...!"
__ADS_1
Bimo langsung meraih Rara kepelukannya. Rasanya semua penjelasan tak berterima.
"Paman tega, aku sangat hancur saat itu. Apalagi aku melihat paman malah makin dekat dengan kak Jenifer. Dan paman tak mau bicara lagi denganku. Padahal waktu itu, aku berani menc-ium paman, karena aku takut kehilangan paman. Eehh.. Malah kehilangan betulan " Menangis dalam pelukan Bimo.
Bimo merasa sedih mendengar cerita Rara. Sama dengan cerita Ezra.
"Awalnya aku tak berani melakukan itu Paman. Tapi, kulihat aku punya saingan yaitu Kak Jenifer. Aku pun memberanikan diri. Eehh gak tahunya aku malah dibentak dan ditatap penuh kebencian." Mendongak menatap kesal Bimo.
"Maaf... Waktu itu aku terkejut bathin atas apa yang kamu lakukan." Mencium pipinya Rara yang berlinang air mata.
Hatinya Rara jadi sejuk karena pipinya dicium.
"Eemmm... Paman beneran jadian dengan kak Jenifer?"
"Gak usah bahas Jenifer." tersenyum dan melap air mata yang membasahi pipi nya Rara.
"Selalu begitu, disaat bahas kak Jenifer, pasti gak mau." Merajuk dan cemberut.
"Ngapain bahas orang lain. Gak penting istriku.." mencium kilat bibir sang istri.
"Ok. ok.. Gak penting ya? baiklah... Jelaskan padaku, kenapa paman selalu marah marah, bersikap kasar padaku, mulai dari ayah meminta paman menjagaku di rumah sakit, hingga kita menikah sampai kemarin. Paman itu jahat, jahat.,... padaku!"
"Eemmm... Ci um dulu dong!" menunjuk pipi kanan. "Ayo!" menyodorkan pipi dengan senyam senyum.
Cup
Rara tersenyum tipis, begjtu juga dengan Bimo. Rasanya aneh, mereka menertawakan kelakuan mereka sendiri.
"Eemmmm enam tahun kurang lebih, suamimu ini berusaha melupakan cewek yang namanya Rara putri Assegaf."
Rara tersipu malu mendengar ucapan Bimo.
"Disaat hati ini sudah bisa melupakan kamu. Dan .... membuka hati lagi pada wanita lain. Ternyata suamimu ini ditolak mentah-mentah. Dan sialnya lagi, disaat patah hati itu, kamu kembali masuk dalam kehidupanku dengan permintaan bos Ezra menjagamu. Kan sia-sia usahaku selama enam tahun ini untuk melupakanmu..!" Rintih Bimo dengan penuh ratapan.
"Hahahaha.. sia sia sekali hidupmu paman. Menjauhiku malah balik lagi..!"
Hahhahaa ..
"RARA.,.!"
__ADS_1
Sorot mata tajamnya Bimo, membuat nya terdiam.
"Apesnya disaat jumpa kamu rasa itu masih ada. Dan paling menyebalkannya, kamu malah minta kawin dengan Ferdy. Kan nyebelin...!"
"Gara gara itu paman bersikap dingin dan kasar?"
"Iyalah.. Awak capek capek mau lupakan dia. Eehh dianya malah gak mikirin awak, minta dikawinkan lagi. Siapa yang tak sebel. Jadinya aku mikirnya kamu gak sayang lagi samaku!"
Ciih
Ciih
Cihh
"Sedihnya!"
Rara meledek Bimo.
"Eemmmm...!" menatap tajam Rara.
"Mau dihajar ya? Manas manasin dari tadi!"
Bimo menggelitik pinggang nya Rara.. Wanita itu sampai minta tolong, berhenti. Ia tak tahan digelitik.
Tok
Tok
Tok
"Tuan.... Ini sudah pukul tiga sore, makanan yang di taman gimana tuan?"
Suara Bi Sakinah menyadarkan keduanya. Kalau mereka belum makan siang.
"Iya Bik..!"
Rara masih tersengal-sengal lelah karena digelitik sang suami.
TBC
__ADS_1