
Masih diam mematung, Bimo menatap heran pria yang tadinya duduk di sofa, kini berjalan tergesa gesa ke arahnya. Dan..
Bruggkk...
Bimo semakin dibuat terkejut pria itu malah memeluknya erat. "Terima kasih sudah mau menjumpaiku." Ujar pria itu dengan suara berat, tapi terdengar penuh kesyukuran. Bimo yang bingung dan terkejut, masih mematung tak membalas dekapan pria itu.
"Jangan salah paham dulu ya nak Bimo. Aku ingin bertemu denganmu, bukan soal kasusnya Alva. Ayo kita duduk terlebih dahulu, agar lebih enak bicaranya." Pria paru baya itu, menarik pelan tangannya bimo yang masih tercengang. Sehingga kini kedua pria itu sudah terduduk di atas sofa warna maron itu.
"Apa nama ibu mertuamu Rani?" Tanya pria yang Bimo kenal sebagai ayah dari Alva.
Bimo yang masih bingung melirik pria di sebelahnya. 'Benar." Jawabnya datar. MAsih bingung dengan maksud pria itu menanyakan semuanya.
__ADS_1
"Istrimu itu pasti putriku. Aku yakin, coba lihat bola mataku, pasti kamu akan menemukan kalau bola mata kami berdua sama. Bentuk dan warnanya." Ayahnya Alva terlihat semangat saat membahasa Rara yang punya bentuk dan warna mata yang sana dengannya.
Bimo menanggapi serius ucapan Ayahnya Alva. MAsuk akal ucapan pria di sebelahnya ini. KArena Rara belum tahu siapa ayah kandungnya. Bisa saja Rara seayah dengan Alva.
"Kamu juga pasti sudah tahu, kalau Rara bukanlah anak kandung Pak Ezra." Ayahnya Alva yang bernama Kusuma Adijaya terus saja mencecar Bimo dengan banyak pertanyaan.
"Bukan anak kandungnya Pak Ezra, belum tentu juga anak bapak dong? koq bapak yakin sekali kalau Rara putri bapak?" Bimo masih ingin menyelidiki semuanya. Sok tak tahu apa apa.
"Kenapa baru sekarang, bapak datang mengaku ngaku sebagai ayahnya Rara. Apa bapak ingin Rara ibah, pada saudaranya Alva. Sehingga bapak mengaku ngaku seperti saat ini?"
"Dari dulu aku sudah mencecar Rani soal itu, tapi dia tak mengaku. Ia ngotot mengatakan kalau ia mengandung anaknya Ezra." Ujar Pak Kusuma dengan wajah memelasnya, berharap Bimo percaya.
__ADS_1
"Kita test DNA Rara. Aku yakin dia putriku. Tolong, tolong aku, izinkan aku untuk bertemu dengannya. Tak mau ia menganggapku sebagai ayahnya. Aku tak akan memaksanya. Aku hanya ingin memeluknnya." Kedua mata pak Kusuma terlihat berkaca kaca. Terus menyodorkan map coklat itu agar diterima Bimo.
"Baiklah pak, fakta ini akan saya sampaikan pada istri saya. Bapak tunggu saja kabar dari saya nanti, bagaimana responnya akan berita ini." Bimo beranjak dari duduknya, ia tak perlu banyak tanya, koq sampai bisa ibu mertuanya berhubungan dengan pak Kusuma.
"Pertemukan aku dengan putriku sekarang Nak!? Ku mohon? aku tak akan bisa tenang, kalau tak bertemu dengannya malam ini." menahan tangan BImo yang hendak meninggalkan tempat itu. "Aku tak akan bisa tenang. Tadi aku melihat dia bersama ibunya Rani. Apa mereka ada di rumahmu?" mencecar Bimo dengan banyak pertanyaan dengan mata penuh harap.
Bimo dibuat semakin tegang, pria ini sangat memaksa. Di rumah sedang ada ibu mertuanya, yang tak mau membahas pria ini. Dan ini pria ini malah ngotot ingin berjumpa dengan Rara.
"Dari tadi siang hingga sore, aku menunggu mereka di rumahmu. Tapi, gak kunjung pulang. Mereka ada di mana sekarang? tolong nak, pertemukan aku dengan Rara!" Masih memelas pada Bimo. sehingga BImo kasihan juga melihatnya.
"Begini ya pak, aku jadi bingung mau jawab apa. Ibu Rani, menyembunyikan fakta ini dari Rara. Bahkan tadi bapak sempat dibahas, kalau lah bapak memang ayah biologisnya Rara. Tapi, Ibu Rani tak mau jujur. Jadi, aku tak bisa memutuskan nya saat ini. Aku perlu bicara dulu pada Rara dan Ibu rani." Jawab Bimo sopan, Pak Kusuma hanya mengangguk lemah menanggapi ucapannya Bimo.
__ADS_1