
Adin terus menyusuri jalan tanpa tau arah, seketika Adin berfikir untuk pergi dari dari kota tersebut Adin pergi menuju terminal bus dia memilih kota B di mana semua orang tidak mengenalnya, dan di kota itu juga Adin akan bekerja dan jika memungkinkan Adin akan sekolah.
Saat sudah sampai di terminal bus yang jaraknya tidak terlalu jauh Adin terus mencari bus yang pergi ke kota B.
"Ada yang bisa saya bantu Neng" tanya seseorang.
"Oh iya pak, maaf Pak apa ini bus ke kota B" tanya Adin.
"Bukan Neng bus yang ke kota B itu yang berwarna biru Neng" jawab orang tersebut
"Makasih ya Pak" ucap Adin.
Adin menaiki bus tersebut sepanjang perjalanan Adin terus memikirkan Ayahnya mengapa Ayahnya begitu jahat sekarang pada Adin dan Reza yang selama ini selalu membelanya sekarang dialah yang menjatuhkannya didepan Ayahnya.
"Kenapa mereka semua jahat sama Adin, kenapa mereka semua gak percaya sama Adin dan Ayah kenapa kau tega memutuskan hubungan dengan Adin hanya karena Adin tidak mempunyai cukup bukti untuk masalah ini, dan Abang sejak kapan Abang tidak mempercayai Adin padahal Adin sudah sangat senang saat Abang pulang karena hanya saat Abang pulang adin hidup sebagai mana mestinya" ucap Adin dalam hati.
Tak terasa Adin tertidur pulas setelah capek menangis.
Setelah enam jam perjalanan Adin terbangun saat bus tersebut berhenti disebuah rest area Adin turun kemudian menukarkan tiketnya dengan makanan setelah selesai Adin naik kembali kedalam bus untuk melanjutkan perjalanannya.
"Neng mau turun dimana" tanya seorang kondektur bus.
"Turunkan di terminal utama aja Pak" ucap Adin.
"Oke, sekarang sudah masuk kota B tinggal beberapa menit lagi sampai silahkan bersiap siap" ucap kondektur bus.
"Makasih Pak" ucap Adin.
"Semangat semangat semangat, jangan takut kamu pasti bisa menjalani ini semua tanpa bantuan orang sedikitpun, kamu wanita kuat wanita hebat" batin Adin menyemangati diri sendiri.
"Sudah sampai Neng ini terminal terakhir" ucap kondektur bus.
"Makasih Pak" ucap Adin turun dari bus.
Adin tidak langsung pergi melainkan duduk sebentar di terminal tersebut lalu membeli beberapa roti untuk persiapan kala kala dia lapar sebelum menemukan tempat kos.
Sekarang menunjukkan jam 08.35 Adin berjalan menyusuri kota sampai dia berhenti di sebuah taman kecil untuk beristirahat sebentar dia membaca setiap selebaran yang ada di jalan saat dia kembali berjalan dia melihat ada wanita tua sedang duduk seperti menunggu sesuatu Adin menghampiri Nenek tersebut.
"Maaf Nek apa saya boleh ikut istirahat di sini" tanya Adin.
"Silahkan " ucap Nenek tersebut.
Adin duduk disebelah nenek tersebut, Adin melihat sebuah restoran yang ada di sebrang jalan Adin melihat ada seorang yang berpenampilan begitu rapi nenek tersebut terus menatapnya sesekali dia mengeluarkan air matanya.
"Apa mungkin orang itu adalah anaknya atau... ah udahlah gak penting juga" batin Adin.
Saat Adin kembali melihat jalanan Adin melihat seorang anak kecil berada di tengah tengah jalan raya Adin melihat dari seberang arah ada mobil yang melaju cepat dengan sigap Adin berlari menghindari beberapa mobil.
Brakkk....
Seketika keadaan menjadi sangat mencekam kemudian Adin bangun dan memeluk erat anak yang dia selamatkan. Mobil yang akan menabrak anak tersebut menabrak pembatas jalan sedangkan Adin berhasil menyelamatkan anak kecil tersebut.
"Kamu tidak apa apa Dek" tanya Adin khawatir.
Anak tersebut hanya menggelengkan kepalanya dia lalu memeluk Adin erat.
"Rik kamu tidak apa apa sayang" tanya wanita paruh baya.
Anak tersebut melepaskan pelukannya pada Adin lalu berbalik memeluk wanita paruh baya tersebut.
"Mama" ucap anak tersebut.
"Terima kasih ya Nak kamu sudah menyelamatkan putra saya" ucap wanita paruh baya tersebut.
Adin hanya tersenyum dan tak beberapa lama seseorang yang Adin lihat tadi keluar dari dalam restauran kemudian memeluk anak kecil tersebut.
"Apa dia anaknya, kalau dia anaknya berarti dia istrinya dong kok kaya jauh beda ya umurnya, ah gak penting Adin jangan di pikir" batin Adin.
"Dek kamu gak apa apa, apa ada yang sakit lain kali jangan keluar sendiri" ucap seseorang tersebut.
"Dia tidak apa apa sayang berkat kebaikan gadis ini" ucap wanita paruh baya tersebut.
"Dia, dia yang menyelamatkan Erik" tanya orang tersebut.
"Iya Nak" ujar wanita tua tersenyum.
"Terima kasih kamu telah menyelamatkan harta paling berharga saya" ucap orang tersebut.
Adin tersenyum lalu membungkukkan badannya, saat Adin kembali tegap Adin melihat orang tersebut ternyata masih menatap Adin membuat Adin salah tingkah.
__ADS_1
"Cantik" batin pria tersebut.
"Kenapa nih orang kesambet kali ya" batin Adin.
"Ehem" Adin ber dehem untuk mencairkan suasana.
"Oh eh maaf, karena kamu sudah menolong adik saya mari masuk kedalam" ajak pria tersebut.
"Oh jadi dia adiknya gue kira anaknya" batin Adin.
"Maaf saya" ucap Adin terpotong.
"Udah gak perlu bayar ini restauran saya sendiri jadi saya akan kasih gratis sebagai tanda terima kasih saya" ucap pria tersebut
"Ternyata dia pemilik restauran ini" batin Adin.
"Hei ayo masuk Nak kenapa diam aja" ucap wanita paruh baya tersebut lalu menggandeng Adin masuk kedalam.
Adin dibawa ketempat VVIP di restauran itu Adin melihat beberapa kariawan yang menatapnya aneh.
"Gila mereka natap gue kaya mau makan gue idup idup gak jadi deh mau lamar kerja disini" batin Adin.
Setelah sampai diruang VVIP tersebut Adin terus duduk anak yang tadi Adin selamatkan tersebut ikut duduk di tempat itu sedangkan wanita dan pria yang tadi mengajak Adin pergi entah kemana.
"Kaka apa kaka baik baik saja apa kaka terluka" tanya anak tersebut sentak membuat Adin kaget.
"Tidak kaka tidak apa apa cuma ke gores sedikit, kamu sendiri ada yang sakit" tanya Adin.
"Tidak kak, apa itu sakit, oh ya kenalin nama aku Erik nama kak siapa" tanya anak tersebut mengulurkan tangannya.
"Gak sakit dek, nama kaka Adin" ucap Adin menjabat tangan Erik.
"Oke mulai hari ini kita berteman, oh ya kaka tinggal di mana" tanya Erik.
"Oke, kamu gemesin banget belum tau ini juga lagi cari tempat tinggal soalnya kaka baru saja sampai di kota ini dan kaka tidak punya kenalan kamu adalah teman pertama kaka" ucap Adin.
"Oh gitu, di belakang sana ada tempat kos loh kaka, kaka coba aja nanti ke sana siapa tau masih ada kamar kosong" ujar Erik.
"Baiklah nanti kaka akan ke sana makasih informasinya ya" ucap Adin tersenyum.
"Kaka kalau tersenyum cantik banget" ucap Erik.
"Ih kaka dia memang cantik, oh ya kak di belakang sana masih ada kos yang kosong kan" tanya Erik pada kakaknya.
"Iya masih satu kamar kenapa kamu mau kos di sana" tanya kaka Erik.
"Tidak tapi buat kaka ini dia lagi cari tempat tinggal" ucap Erik.
"Dia" ucap kakak Erik menatap Adin bingung.
"Kakak jangan di tatap gitu, oh ya kenalin nama dia kaka Adin bukan dia" ucap Erik.
"Nama saya Vian kakaknya Erik" ucap Vian mengulurkan tangannya.
"Adin" menjabat tangan Vian.
"Saya Mona ibunya Vian dan Erik" ucap seorang wanita paruh baya tadi mengulurkan tangan tiba tiba.
"Saya Adin" ucap Adin menyambut tangan Mona.
"Kalian bukannya Adin disuruh makan malah disuruh cerita, dan tadi kenapa kalian bilang tentang kos apa kalian mau ninggalin Mama" ucap Mona.
"Gak ma tapi buat dia, dia lagi cari tempat tinggal" ucap Vian.
"Oh, kamu kenapa cari tempat tinggal apa kamu kabur dari rumah" ledek Mona tersenyum.
"Iya saya pergi dari rumah Ibu tiri saya" ucap Adin.
Mona Erik dan Vian menatap Adin mencari kebohongan tapi tidak menemukan kebohongan itu.
"Kalau begitu nanti saya antar kamu ke tempat kos di belakang" ujar Vian.
"Terima kasih" ucap Adin.
"Ya sudah kalau begitu makan dulu buat tenaga cari tempat tinggal" ucap Mona.
Adin mulai makan makanan yang tadi Mona bawa, Vian sesekali mencuri pandang Adin,.
Setelah selesai makan Adin pamit untuk mencari tempat tinggal ditemani oleh Vian, saat sudah beberapa lama berjalan Adin dan Vian sampai di sebuah tempat kos kecil yang rapi dan bersih, kemudian Adin dan Vian mencari tuan rumah pemilik kos,.
__ADS_1
"Maaf bu saya mau tanya yang punya kosan ini rumahnya di mana ya" tanya Adin ramah.
Ibu tersebut terlihat bingung dengan Adin, karena kosan tersebut adalah milik Vian tapi kenapa mencari dirinya.
"Lah dia kan sama pak vVan kenap harus cari saya" ujar wanita paruh baya bingung.
Namun Vian menganggukkan kepalanya dan Ibu tersebut menyadari dan paham maksud sang tuan.
"Saya sendiri ada yang bisa saya bantu" ucap wanita pemilik kos.
"Begini bu saya mau tanya apa masih ada kamar yang kosong" tanya Adin.
"Ada Neng, masih satu mari saya tunjukkan" ucap pemilik kos menunjukkan kamar tersebut.
Adin dan Vian mengikuti pemilik kos dan ternyata kamar tersebut ada dilantai dua Adin menyusuri tempat tersebut. sedangkan Vian berbincang dengan pemilik kos.
"Maaf bu biaya sewa disini sebulan berapa ya" tanya Adin.
"Di sini satu bulan 400 Neng," ucap pemilik kos.
"400 gak bisa kurang bu" tanya Adin.
"Gak Neng soalnya semua di sini sama 400" ucap pemilik kos.
Adin berfikir sejenak "400 uang gue tinggal 500 nanti kalau buat bayar kos mungkin tiga hari lagi gue gak makan, tapi kalau gue gak kos di sini mau cari di mana lagi udahlah ambil aja nanti mulai cari kerja" batin Adin
"Ya sudah bu saya ambil, sebentar" ucap Adin mencari. dompetnya di dalam tas saat mau membayar ternyata Vian lebih cepat dia memberikan uang tersebut kepada pemilik kos.
"Baiklah Neng silahkan masuk, semoga kamu nyaman tinggal di sini tapi ingat jangan pernah membawa teman laki laki kedalam kos ini" ucap pemilik kos.
"Tapi bu sayakan belum bayar" ucap Adin.
"Sudah di bayar sama temen kamu untuk dua bulan ke depan tadi saya permisi dulu" ucap Ibu kos.
"Ini uangnya maaf baru segini" ucap Adin.
"Udah itu buat kamu beli keperluan kamu aja" ucap Vian.
"Tapi ini....." ucap Adin terpotong.
"Kamu pakai aja buat kebutuhan kamu dulu" ucap Vian.
"Terima kasih nanti kalau Adin udah dapat kerja Adin akan ganti semuanya" ucap Adin.
"Terrserah kamu aja, kamu butuh kerja" tanya Vian.
"Iya apa anda punya pekerjaan untuk saya" tanya Adin.
"Kalau kamu mau kamu bisa kerja di restoran saya mulai besok" ucap Vian.
"Beneran mau mau" ucap Adin antusias.
"Oke kalau gitu kamu datang besok jam 8 pagi ke restoran saya" ucap Vian.
"Baiklah terima kasih banyak" ucap Adin membungkukkan badannya.
"Its okey, saya pergi dulu ya"ucap Vian.
Adin menganggukkan kepalanya beberapa kali membuat Vian makin terpesona.
"Sekali lagi terima kasih" ucap Adin terus tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
Pertemuannya kurang berkesan ya, maaf ya author gak bisa bikin cerita seperti yang kalian inginkan...
Jangan lupa vote dan komennya ya...
__ADS_1