
"Gak mau makan bilang aja mau suapin" ledek Rafa.
"Siapa juga yang mau di suapin, di kasih tawaran enak ya gue mau lah bilang aja kaka yang pengin nyuapin Adin" ucap Adin.
"Bilang aja iya kek biar gue seneng" ucap Rafa.
"Ngarep" ucap Adin membuat semua teman temannya tertawa kecuali Lusi.
"Gitu aja kalian ketawa gak berkelas, lagian lo Din udah gede juga masih aja minta di suapin sama orang lain lagi" ucap Lusi sinis.
Semua teman teman Adin melihat Lusi dengan tatapan tak bersahabat, begitu pun dengan Reza yang baru menyadari bahwa Adin merasa tidak bersahabat dengan Lusi Reza berfikir bagaimana hidup Adin selama dia jauh dari Reza.
"Mendingan gue gak perlu minta udah di suapin dari pada lo tiap hari merengek minta di suapin sama Ayah gak tau diri banget, Ayah udah capek capek kerja harus ngurusin lo juga yang udah kaya bayi gedenya" ucap Adin tak kalah sinis.
"Lo yang gak tau diri, udah hidup numpang masih aja gak tau diri lo, lo itu seharusnya ngaca kenapa Ayah lebih sayang ke gue" ucap Lusi meninggi.
"Gak usah marah juga kali, gue bukannya gak tau diri tapi gue masih punya hak di rumah itu makanya gue bertahan di situ, dan Ayah bukan lebih sayang sama lo tapi lo yang selalu ganggu dia dan lo tau kelemahan Ayah makanya Ayah selalu luluh sama lo, dan kenapa Ayah gak deket lagi sama Adin itu karena lo selalu buat gue salah di mata Ayah" ucap Adin emosi.
"Gila lo ya ternyata lo gak semanis wajah lo" ucap Meta.
"Kalian emang bener bener ya kenapa kalian gak akur si padahal kalian kan hidup satu atap seharusnya kalian saling sayang saling menghargai bukannya saling menjatuhkan" ucap Reza meninggi.
"Abang udah berapa kali sejak Abang pulang bentak Adin di depan banyak orang Abang kalau gak sayang gak perlu sok peduli sama Adin karena Adin juga bisa jaga diri dan Adin bisa menyayangi diri Adin lebih dari siapa pun" ucap Adin tak kalah tinggi dengan Reza lalu pergi meninggalkan semua orang yang ada disitu.
"Adin" teriak Rafa
"Lo urus dia gue urus Adin mungkin dia mau dengerin gue" lanjut Rafa kepada Reza.
"Gue pergi dulu guys" ucap Rafa berlari mengejar Adin.
"Ya kaka kita titip Adin ya" ucap teman teman Adin.
Rafa hanya mengacungkan jempolnya kepada teman teman Adin.
Adin berlari tanpa tujuan Adin terus menangis sepanjang jalan sampai Adin berhenti di sebuah taman di mana taman itu adalah tempat yang selalu Adin datangi saat hatinya merasa perih. Rafa yang melihat Adin ada di situ dia tak kuasa menahan tangis dia tidak sanggup mendekati Adin yang sedang duduk menatap danau buatan yang ada di taman yang sepi.
Adin mencurahkan semua isi hatinya termasuk semuanya yang berubah sejak dia pindah ke rumah Lusi Rafa yang melihat itu lalu merecord apa yang Adin lakukan.
"Ternyata lo mengalami hal yang sangat berat gue harap gue bisa ada buat lo saat lo sedih" ujar Rafa dalam hati.
Setelah Adin sedikit tenang baru Rafa mendekati Adin dan seolah olah tidak melihat apapun.
Rafa duduk di samping Adin.
"Kaka kenapa kesini" ucap Adin menyeka air matanya.
"Tadi kaka kejar kamu tapi kamu malah gak tau pergi ke mana terus pas kaka lewat sini tadi kaka denger ada orang terisak kaka lihat ternyata kamu" ucap Rafa.
"Kaka denger apa yang Adin ucap" tanya Adin.
__ADS_1
"Gak kok kaka gak denger apapun kecuali tangisan lo" ucap Rafa berbohong.
Adin mencoba menenangkan dirinya.
"Udah kalau mau nangis nangis aja kalau itu bisa membuat hatimu lega, kaka mau kok nemenin kamu di sini sampai kamu bener bener bisa tenang" ucap Rafa.
Adin sudah sedikit tenang walaupun air matanya terus saja menetes, Adin berusaha tersenyum untuk menenangkan Rafa dan dirinya.
Setelah beberapa lama Adin meminta Rafa untuk pulang akhirnya Rafa dan Adin pulang saat sampai di rumah Adin sudah di tunggu semua anggota keluarga di ruang keluarga membuat Adin dan Rafa bingung.
"Adin duduk" ucap Ayah tegas.
Adin dan Rafa duduk dan melihat ke arah Lusi yang sedang menangis di pelukan Mama Ani.
"Adin mau kamu yang bicara jujur apa Ayah yang bicara sekarang" ucap Ayah.
"Maksud Ayah apa" tanya Adin bingung.
"Bukan itu jawaban yang ingin Ayah dengar tapi Ayah mau dengar kejujuran kamu" ucap Ayah meninggi.
Adin memejamkan matanya karena bentakan Ayah, karena selama ini Ayah tidak pernah berkata kasar apa lagi membentak Adin.
"Pejamkan mata lagi mikir alasan yang meyakinkan tu" ucap Lusi sinis.
"Lusi kamu diam dengerin Ayah kamu bicara" ucap Mama Ani.
Adin yang mendengar ucapan Lusi mulai paham dengan arah pembicaraan Ayah.
"Semua, Ayah gak mau kalau kamu udah gak jujur dan kamu sembunyikan dari keluarga terutama Ayah" ucap Ayah.
"Bilang aja lo mau ngelak udah bikin gue malu di tempat umum" ucap Lusi.
"Apa yang gue lakuin ke elo sampai lo ngerasa gue permalukan lo di tempat umum" tanya Adin.
"Elo bilang gue gak tau diri karena Ayah lebih sayang ke gue, lo bilang gue gak punya sopan santun dan lo bilang ke gue kalau gue udah ambil semua hak lo" ucap Lusi meninggi.
"Udah ngomongnya, lo pikur gue gak tau kalau lo selalu berusaha ngejatuhin gue dan lo selalu buat orang yang mau deket sama gue lo jelekin gue itu namanya gak tau diri ngaca dong kalau lo gak lebih baik dari gue" ucap Adin tak kalah tinggi.
"Ayah lihat kan Yah, dia berani bentak Lusi" ucap Lusi menangis di depan Ayah.
Ayah berjaln kearah Adin dan
Plakkkkk....
Ayah menampar pipi Adin, Adin kaget dengan yang di lakukan Ayah, sedangkan Lusi tersenyum senang.
"Kamu keterlaluan sia sia Ayah mengurus kamu dan meninggalkan Mama Ani demi kamu Reza dan juga Bunda mu ternyata begini balasan kamu, bahkan kamu berani membentak Lusi dan mengatakan hal hal kasar sama dia" ucap Ayah emosi.
"Jadi Ayah nyesel ngurusin Adin Ayah nyesel punya Adin dan Ayah nyesel udah kasih nama belakang ke Adin tapi kenapa Ayah gak pernah tanya bagaimana perasaan Adin selama ini" ucap Adin meninggi.
__ADS_1
"Dasar anak gak tau di untung udah sukur Ayah nerima kamu dan memberikan nama keluarga Ayah sama kamu tapi apa ini balasan kamu sama Ayah" ucap Ayah.
"Ayah tau yang terlihat belum tentu benar Ayah harus tau itu" ucap Adin meninggalkan Ayah menuju keluar.
"Selangkah lagi kamu bukan lagi anak Ayah" ucap Ayah.
"Bukankah Ayah bilang tadi kalau Ayah menyesal mengganggap Adin anak, kalau begitu Adin akan pergi dari kehidupan Ayah" ucap Adin tegas.
Adin terus melangkah tapi saat sudah di depan pintu Nina menghentikan Adin dan memeluk Adin dengan erat berharap Adin tetap ada di situ.
"Kaka jangan pergi ka walupun Nina tau selama kaka di sini kakak tidak pernah mendapatkan kebahagiaan tapi ka Nina merasa saat kaka ke sini adalah anugrah untuk keluarga ini kaka adalah kaka terbaik Nina" ucap Nina menangis dalam pelukan Adin.
"Udah lah dek kaka bisa bertahan di luar sana kamu jaga diri baik baik di sini oke jaga Ayah ketahuilah kaka menyayangimu" ucap Adin memeluk erat Nina.
"Gak usah drama deh lo pura pura jadi orang yang paling tersakiti di sini" ucap Lusi.
Adin yang mendengar itu langsung melepas pelukan Nina dan meninggalkan rumah besarnya.
"Hey lo jangan bawa barang dan fasilitas apapun dari Ayah dan keluarga ini dan jangan lupa bawa semua barang barang mu kita gak butuh" ucap Lusi.
Terpaksa Adin berbalik dan menuju kamarnya Adin mengemas semua barangnya yang telah ia beli dengan uangnya dan mengambil SIM card yang ada di hpnya. Setelah beberapa lama Adin turun membawa sebuah koper dan satu rangsel Adin menghampiri Ayah.
"Ini ATM, DEBIT, HP, buku tabungan dan di dompet ini hanya ada uang Adin, untuk barang lain di kamar dan ini kunci kamar Adin" ucap Adin meninggalkan rumah besarnya.
"Adin kau bukan lagi keluarga Ayah damantara, jangan pernah memakai nama itu paham" teriak Ayah.
"Adin tidak akan memakai nama itu dan anda bukanlah Ayah saya jangan panggil saya lagi" ucap Adin meninggalkan rumahnya.
"Bahkan anda tidak menanyakan bagaimana hidup saya di sini" ucap Adin sinis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ja***ngan lupa tinggalin jejaknya ya,
__ADS_1
Kalau punya poin lebih boleh kalau mau vote.
Happy reader***