Kakakku Cintaku

Kakakku Cintaku
Hamil


__ADS_3

"Udah liatin Abangnya ayo makan" ucap David membuat Angel tersenyum.


"Ih Abang GR banget siapa juga yang liatin Abang" ucap Angel.


"Bilangnya gak tapi dari tadi sampai gak berkedip ngaku aja kamu" ujar David.


"Nih" lanjut David menyodorkan ayam ke depan mulut Angel.


Dengan senang hati Angel menerima setiap suapan yang David berikan.


Sedangkan Dadi dan Mami maria hanya melihat sembari tersenyum melihat keakraban mereka.


Setelah selesai makan mereka berkumpul di depan TV sembari bercanda ria dengan saling meledek satu sama lain.


Sedangkan di lain tempat seorang wanita paruh baya namun tetap terlihat cantik sedang tergesa gesa pergi ke suatu tempat dengan perasaan tidak karuan.


"Anda sudah sampai nyonya silahkan ikuti saya" ujar seseorang berpakaian jas putih panjang khas seorang dokter.


"Bagaimana keadaannya dokter" tanya Bunda. Ya orang yang pergi dengan tergesa gesa adalah Bunda yang mendengar kabar bahwa anak perempuan nya masuk rumah sakit.


"Keadaannya baik baik saja nyonya tapi saya harap anda jangan membiarkan dia terlalu capek karena di usia kandungannya yang masih muda harus banyak beristirahat" ujar dokter yang menangani.


"Ha-hamil" tanya Bunda tidak percaya.


Bagai di sambar petir di siang bolong anak perempuan yang selama ini dia jaga dan dia lindungi hamil sebelum pernikahan, Bunda merasa sangat bersalah dan merasa sangat berdosa karena gagal menjaga sang anak dengan baik.


"Iya nyonya selamat atas kehamilan anak anda kandungannya sudah berusia tiga minggu mohon untuk tidak membuatnya terlalu lelah" jelas Dokter.


"Terima kasih Dokter anda bisa pergi sekarang" ucap Bunda sopan.


Bunda duduk di kursi yang tersedia di depan ruang rawat.


"Bunda" teriak seseorang yang berlari kearah bundanya yang terlihat sangat tidak berdaya lelaki itu tidak lain adalah Reza.


"Bunda apa yang terjadi Bunda" tanya Reza.


"Abang" ucap Bunda seraya memeluk Reza erat.


"Abang Bunda gagal Bang maafin Bunda Bunda gagal" ucap Bunda dalam pelukan Reza.


"Maksud Bunda apa" tanya Reza.


"Bang kak Maya kak Maya hamil dan usianya sudah tiga minggu" ujar Bunda menangis.


"Apa Maya hamil" tanya Reza terkejut.


"Iya Bang, kita harus bagaimana Bang" tanya Bunda bingung.


"Oke pertama apa Bunda terima kenyataan ini" tanya Reza lembut.

__ADS_1


"Terima gak terima harus terima kan Bang gak mungkin Bunda suruh Maya buat gugurin tuh kandungan Bunda gak mau Maya tambah berdosa Bang tapi Bunda juga gak tega kalau kaka jadi bahan gunjingan orang" ucap Bunda dengan menyeka air matanya yang terus membasahi pipi.


"Oke kalau bunda terima kenyataan ini Abang juga akan terima tapi jangan salahkan Abang jikalau Abang harus mencari Ayah dari bayi itu dengan cara Abang" ucap Reza dengan mata elangnya.


"Iya Bang tapi gimana kita bicaranya sama kaka dan bagaimana kalau Ayah tau" ucap Bunda khawatir.


"Bunda tenang saja Reza akan jaga rahasia ini dari Ayah sebelum Reza menemukan dan meminta pertanggung jawaban Ayah dari bayi yang Maya kandung" ucap Reza.


"Ya sudah kita harus masuk sekarang kasian Maya di dalam sendirian" ucap Bunda.


Setelah banyak perundingan dan pertimbangan Bunda dan Reza memutuskan masuk ke dalam ruangn Maya dengan perasaan tidak karuan dan menahan segala emosi mereka dan tangis mereka, dengan menguatkan hati dan pikiran mereka.


"Bunda" ucap Maya lirih saat melihat Bundanya memasuki ruangan.


"Bagaimana keadaanmu sayang" ucap Bunda menahan air mata.


"Sudah lebih baik Bunda" ucap Maya bingung dengan Bunda dan Abangnya yang terus saja memandangnya tajam.


"kalian kenapa melihatku seperti itu apa ada yang salah dengan ku" lanjut Maya bertanya.


"Bukan hanya salah denganmu tapi kamu membuat salah yang sangat fatal" ucap Reza yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Maksud Abang apa" tanya Maya.


"Cepat bilang siapa yang melakukan itu padamu" tanya Reza keras.


"Maksud Abang apa si Maya gak tau langsung to the poin dong" ucap Maya tak kalah tinggi.


"Ma-maksud A-Abang Ma-Maya hamil" ucap Maya terbata.


"Iya dan kamu harus jawab siapa Ayahnya akan Abang bawa dia untuk bertanggung jawab" ujar Reza.


"Abang bukannya Abang janji sama Bunda di luar akan menunggu sampai kaka bersedia bercerita Bunda gak mau kalau terjadi sesuatu kepada kaka ataupun janinnya" ucap Bunda berbisik.


"Maaf Bunda tapi Abang gak bisa nunggu lama lama lagi Abang gak mau kalau anak itu lahir tanpa seorang Ayah cukup kita yang kehilangan seorang Ayah dia jangan" ucap Reza berderai air mata.


"Udah Bang biar Bunda yang bicara, kaka Bunda punya dua pilihan buat kamu, kaka harus meminta pertanggung jawaban Ayah anak kamu atau kamu pilih hilangin nyawa anak kamu sendiri" ujar Bunda


"Maafin Bunda sayang bukan Bunda gak menerima anak kamu tapi Bunda ingin kamu membawa Ayah dari anak kamu Bunda gak mau kalau dia lahir tanpa Ayah" ucap Bunda dalam hati.


"Bunda Abang maafin Kaka, Kakak janji akan meminta pertanggung jawaban Ayah anak Kaka tapi Kaka mohon jangan suruh Kaka buat gugurin anak Kaka, Kaka janji akan mengurus nya jika Abang dan Bunda malu Kaka akan pergi dan mengurus ini sendiri nanti" ucap Maya lirih dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Oke Bunda kasih kamu waktu tapi ingat jaga kandungan kamu baik baik, maaf karena Bunda marah tadi Bunda terlalu terbawa emosi" ucap Bunda memeluk Maya.


"Bunda maafin Kaka" ucap Maya menangis dalam pelukan Bunda.


"Mau sampai kapan kalian pelukan kaya gitu Abang gak di ajak lagi" ucap Reza memajukan bibirnya.


"Bukannya Abang lagi marah sama Kaka" tanya Mya.

__ADS_1


"Abang marah tapi bukan berarti Abang gak suka dengan kedatangan keponakan Abang" ucap Reza tersenyum.


"Iya Bang sekali lagi Kaka minta maaf" ucap Maya.


"Jangan cuma maaf tapi bawa Ayah anak kamu kemari untuk bertanggung jawab apapun pekerjaannya Abang sama Bunda akan menerima dia, kalau dia tidak mau bertanggung jawab siap siap aja kamu Abang kirim kamu ke London" ucap Reza.


"Kaka terima semua keputusan Abang" ucap Maya.


"Oke kalau begitu kamu harus jaga dia baik baik jangan stress oke" ucap Reza memeluk Maya.


Maya sudah tidak sanggup menahan tangisnya, air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya, May merasa sangat hina karena perbuatannya dan merasa sangat memyesal karena perbuatan hinanya.


"Bang apa Abang akan bicarakan hal ini pada Ayah" tanya Maya takut takut.


"Kalau perlu iya, tapi Abang rasa itu tidak perlu saat Abang kirim kamu ke London nanti Abang akan mengatakan kamu sekolah di sana" ucap Rezaa.


"Jadi Abang akan tetap mengirim Maya ke London" ujar Maya sedih.


"Tidak saat kamu mau membawa Ayah anak kamu dan kamu menerima apapun konsekuensi dari Ayah karena Ayah akan memilih laki laki terbaik untuk menjadi suami mu Ayah tidak akan menerima sembarang orang" ucap Reza.


"Baiklah kalau begitu kirim Maya ke London Bang, Maya gak yakin kalau Ayah akan terima dia sebagai Ayah dari anakku" ujar Maya.


"Sudahlah jangan pikirkan itu, hari ini juga Abang akan urus kepergianmu dan besok kamu harus pergi" ucap Rezaa.


"Apa harus secepat itu Bang" tanya Bunda khawatir.


"Iya Bunda, Bunda jangan khawatir di sana akan ada yang menjaga Maya nanti Maya akan tinggal di apartemen yang Abang pilih dengan keamanan tingkat tinggi" ucap Reza.


"Oke Abang Maya akan berangkat besok, Bunda jangan khawatir Maya akan baik baik saja" ucap Maya.


"Baiklah jaga dirimu dan anakmu baik baik Bunda akan sering mengunjungimu" ucap Bunda.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pemasaran kan apa yang selanjutnya terjadi...

__ADS_1


Maafin author ya lama gak up lagi revisi ulang nih..


Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya.


__ADS_2