
"Woles aja bro" ucap Riko mengacak acak puncak kepala Adin.
"Iya iya hehe gue berasa anak kucing kalau gini" ucap Adin.
Semua orang tertawa, Adin merasa dirinya lebih bebas dan lebih bahagia walaupun gak punya uang tapi mereka semua bisa menghargai sesama.
"Lo bukan anak kucing tapi anak itik hahaha" ledek Riko.
"Eh guys pulang kuy udah malam nih" ujar Adin.
"Yah elah Bocil baru jam sebelas kali cil" ujar Riko
"Ngapa nama gue jadi Bocil si" ucap Adin protes.
"Emang lo Bocil" ujar Riko memainkan rambut Adin.
" Terserah lo deh ka, tapi cius deh gue udah ngantuk" ujar Adin.
Ini adalah kali pertama Adin pergi malam, karena saat di rumahnya dulu Adin sangat dijaga sang Bunda, Adin dibolehkan pergi jikalau bersama Reza atau pergi ke pesta yang melibatkan keluarganya, karena itulah Adin merasa sangat mengantuk sekarang.
"Haha makanya biasa jadi anak Mami lo ngapa kabur" ledek Andra.
" Mending kabur dari pada gak di anggap karena kesalahan kecil" ujar Adin membuat semua teman teman barunya merasa kasihan.
"Udah gak usah di pikir kita ada buat lo, lo gak sendirian sekarang" ucap Megi memeluk Adin kemudian di susul Febi ikut memeluk Adin.
"Gue ikut dong " ujar Riko.
"Gak" ucap Adin Megi dan Febi bersamaan.
"Gak boleh ya udah, jangan galak galak gitu dong kan ngenes gue jadinya" ujar Riko.
"Jangan dengerin dia" ujar Febi pada Adin.
"Ya udah yuk pulang, kamu belum biasa tidur malam soalnya" ujar Megi.
"Oke Kaka, kuy pulang" ujar Adin semangat.
"Jangan panggil gue Kaka dong panggil nama aja biar enak" ujar Megi.
"Oke, yuk pulang" lanjut Adin mengacungkan jempolnya.
" Ya udah yuk gue anter" ujar Joni.
"Eh Ndra dari tadi lo diem aja dari kita datang sampai kita pulang diem diem bae" ujar Febi penasaran.
"Lagi galau paling dia" ujar Megi.
"Iya Ndra perasaan tadi kerja lo baik baik aja" ujar Adin.
"Kalian udah saling kenal" tanya Joni kepada Adin.
"Udah dia temen kerja gue" ucap Adin.
"oh gitu, eh Ndra biasanya lo yang paling heboh" ucap Riko.
"Bukan lagi, tuh abis di putusin di tinggal nikah" ujar Joni.
"Hahaha ngenes banget si idup kalian berdua" ujar Febi.
"Jangan ngeledek" ujar Andra.
"Din lo pulang ama gue aja yuk, gue anter sekarang lama lama sama mereka bisa kurus gue" ujar Andra menarik tangan Adin.
"Tapi gue...." ujar Adin terputus saat Andra menariknya lebih keras.
"Sakit tau" ujar Adin menghempaskan tangan Andra saat sampai di parkiran.
"Sorry gue gak maksud sakitin lo" ujar Andra merasa bersalah.
"Tau ya udah pulang tapi panggil yang lain dulu sana" ujar Adin.
"Oke lo tunggu sini apa ikut masuk" tanya Andra.
Saat Andra hendak masuk ke dalam restoran tiba tiba ada sebuah mobil yang menghampiri Adin.
__ADS_1
tin.... tin.... tin.....
(Anggap aja suara tlekson mobilš¤)
"Siapa dia" batin Adin.
Saat mobil tersebut tepat di depan Adin, keluar seseorang yang Adin dan Andra kenal.
"Pak boss" ucap Adin dan Andra bersama.
"Hai Din kamu lagi apa di sini" tanya Vian.
"Oh ini lagi main sama temen Pak, Bapak mau ikut bergabung" ujar Adin
"Gak tadi saya cuma lewat sini terus lihat kamu kirain kamu tersesat ternyata lagi main" ujar Vian.
"Eh Pak bos, malam Pak bos" ujar Febi yang baru datang.
"Malam, kalian udah mau pulang" tanya Vian.
"Iya nih Pak, apa ada yang bisa kami bantu" ujar Febi.
"Tidak saya juga mau pulang tapi tadi gak sengaja lihat Adin, jadi apa kalian mau saya antar" ujar Vian.
Megi melihat ke arah Joni sedang Febi yang memang menyukai Vian langsung menyetujuinya, Adin yang di tarik Febi masuk ke mobil Vian hanya mengikuti tanpa menolak.
"Pak saya pulang sendiri saja, saya ke sini sama temen saya pulang bareng temen aja" tolak Megi.
"Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu, itu kasian mereka udah nunggu di mobil" ujar Vian menunjuk Adin dan Febi yang sudah duduk di kursi penumpang.
Setelah kepergian Adin Febi dan Vian, Megi dkk pun pulang, selama perjalanan Adin hanya diam, sedangkan Febi terus saja berceloteh, apapun pertanyaan yang di tunjukkan pada Adin Febi menjawabnya sampai Vian merasa jenuh dengan Febi.
"Terima kasih Pak" ucap Adin saat sampai di depan kosannya.
"Ya sama sama, kalau begitu saya pulang dulu" ujar Vian.
"Pak bos gak mampir dulu" ujar Febi mendapat tatapan tajam dari Adin.
"Tidak ini sudah malam saya tidak mau ada fitnah" ujar Vian.
Setelah kepergian Vian Adin langsung masuk ke kosan lalu merebahkan tubuhnya yang sudah lelah.
Adin terbangun pada jam tiga pagi, Adin hanya tidur selama tiga jam.
Setelah Adin pergi dari rumah dia terkena insomnia dia selalu merasa tidak tenang saat tidur.
Adin berangkat ke restoran saat pukul setengah enam pagi, karena Adin mulai kerja jam enam pagi sampai jam dua siang.
"Hai Din" ujar Andra menyapa.
"Hai ka Andra" jawab Adin lesu.
"Kenapa kamu kaya gak bersemangat gitu" tanya Andra.
"Iya soalnya tadi malam cuma tidur tiga jam" ucap Adin.
"Gila lo tidur tiga jam dan sekarang lo kerja, lo gak kasian apa sama badan lo" ujar Andra meninggi.
"Kenapa lo yang emosi, gue yang kurang tidur lo yang emosi" ujar Adin meninggalkan Andra.
"Hei Bocil main tinggal tinggal aja lo" ujar Andra mengejar Adin.
"Gue mau ganti baju dulu lo minggir sana" ujar Adin mengusir Andra.
Adin kemudian mengganti bajunya dan memoles wajahnya agar terlihat lebih fress.
"Adin lo harus bisa lewatin ini semua, lo harus kuat lo harus tunjukkin sama keluarga Damantara bahwa lo bisa hidup tanpa bantuan dari mereka" ucap Adin dalam hati.
"Udah selesai" tanya Andra.
"Eh, udah masih di sini aja nungguin gue lo ka" ucap Adin kaget saat melihat kehadiran Andra.
"Hehe iya takut lo pingsan, kan gue bisa jadi pahlawan lo buat selamatin lo" ujar Andra tersenyum meggoda.
"Pahlawan tak di anggap" ujar adin berlalu.
__ADS_1
"Eh Bocil lo demen banget ninggalin orang lo" ujar Andra berlari mengejar Adin.
"Lihat tuh kak udah jam berapa udah saatnya balik tugas lo" ujar Adin menunjuk ke arah jam ding ding.
"Wah wah lo Ndra bener bener ya kalau ada yang bening dikit lo kejar kemana pun dia pergi" ujar Rian yang baru saja ke tempat kerja nya.
"Diem lo" ujar Andra.
"Ngambek ngambek, udah lanjut nanti aja udah masuk waktu kerja nih lo gak mau kan kena marah sama Pak Lucas" ujar Rian.
"Gak lah, kan serem kalau Pak Lucas marah bisa bisa abis tuh gaji gue bulan ini" ujar Andra.
Dan tak disengaja Pak Lucas di belakang Andra Adin dan Rian yang melihat Pak Lucas langsung diam dan memberikan kode pada Andra, namun Andra tidak tau kode yang Rian berikan Andra tetap saja berceloteh.
"Kalian kenapa sariawan ya, tenang aja kalau jam segini P Lucas belum datang kok jadi aman lah ngobrol lima menit lagi" ujar Andra.
"Emangnya kenapa kalau Pak Lucas udah datang" tanya Lucas di belakang Andra namun Andra tidak menyadarinya.
"Kalau Pak Lucas sampai tau kita ngobrol kan bisa raib tuh uang gue kena potong sama Pak Lucas" ujar Andra.
"Iya ngobrol aja sampai waktu sif abis" ujar Lucas.
Andra yang tersadar dengan suara Lucas berbalik badan kemudian tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Adin dan Rian terus menahan tawanya.
"Apa" ujar Lucas saat Andra membalikkan badannya.
"Eh Pak Lucas, yang paling ganteng pagi Pak" ujar Andra tersenyum semanis mungkin.
"Pagi mau ngobrol lagi" ujar Lucas.
"Gak Pak siapa yang mau ngobrol saya mau kerja kok gak ngobrol suer" ujar Andra mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.
"Ya udah sana pergi ke tempatmu" ujar Lucas.
"Baik Pak permisi Bapak jangan marah marah Pak kadar gantengnya turun tuh" ledek Andra.
"Gak bakal turun ini kan udah ganteng dari lahir, dan jangan senyum so manis gitu buat saya muak" ujar Lucas membuat Andra menghentakkan kakinya.
Adin dan Rian hampir tidak bisa menahan tawanya Adin berusaha terlihat biasa saja namun Lukas melihat nya dan menatap Adin dalam.
"Kalian kembali bekerja" ujar Lucas berlalu meninggalkan Adin dan Rian dan Andra.
Setelah kepergian Lucas Adin sudah tidak bisa menahan tawanya dia kemudian tertawa bersama Rian.
"Menarik, manis" ujar Lucas dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Kira kira siapa yang bisa taklukin hati adin ya...
Pak bos Vian atau Pak Lucas ya....
Em.... penasaran kan yuk ikuti Adin terus....
Love you reader***....
__ADS_1