Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)

Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)
Bab 130


__ADS_3

" Saya sudah menyuntik kan obat pada istri Anda, dia tidak apa - apa hanya saja terlalu kelelahan" dokter itu menjelas kan. " Tapi setelah dia sadar nanti, alangkah baik nya kamu membawa nya ke dokter obgyn untuk di periksa lebih lanjut. Karena kalau diagnosa ku benar, takut nya terjadi sesuatu dengan bayi kalian" tambah dokter lagi membuat Rifki membulat kan ke dua bola mata nya dengan wajah yang terkejut.


" Dokter obgyn, bayi? Apa maksud dokter istri saya sedang hamil dok?" Rifki berkata dengan wajah yang tak percaya.


" Iya, seperti nya begitu" dokter itu mengangguk mantap. " Tapi itu hanya perkiraan ku saja, kalau ingin lebih jelas lagi. Silahkan datang ke dokter obgyn yang ada di rumah sakit ini" tambah dokter lagi. " Dan jangan lupa untuk tidak membuat nya terlalu capek atau emosi, ini akan sangat tidak baik untuk nya dan bayi nya"


" Baik dok, terima kasih" Rifki tersenyum bahagia seraya menjabat tangan dokter pria paruh baya yang sudah memeriksa keadaan istri nya itu.


" Sama - sama, jaga istri nya baik - baik ya!" Setelah mengatakan hal itu dokter pun menjauh dari Rifki untuk memeriksa pasien yang lain nya.


" Kamu dengar sayang, kamu akan menjadi seorang mama, dan aku akan menjadi seorang papa" Rifki mencium kening Alea yang masih memejam kan mata nya.


Tak lama setelah dokter keluar dari sana, Angga pun masuk untuk melihat keadaan Alea saat ini.


" Bagai mana? Apa Alea baik - baik saja?" Angga berkata dengan wajah yang cemas.


" Dia baik - baik saja, kata dokter kemungkinan Alea saat ini sedang hamil dan dia tidak boleh terlalu kelelahan dan tertekan" jawab Rifki.


" Hamil, apa kamu serius?" Angga tampak terkejut dengan ucapan Rifki barusan.


" Siapa yang hamil?" Tanpa mereka sadari Alea sudah sadar dan saat ini dia baru membuka mata nya sambil memegangi kepala nya yang terasa pusing.


" Kamu sudah bangun sayang?" Rifki buru - buru menghampiri Alea dan duduk di samping istri nya itu. " Kamu jangan bangun dulu, tetap lah berbaring" Rifki menahan tubuh Alea yang berniat untuk bangun dari posisi nya saat ini.


" Rifki benar, lebih baik kamu istirahat sekarang" Angga ikut menimpali.

__ADS_1


" Sedang apa om di sini?" Alea menatap tajam pada Angga.


" Maaf kan aku Alea, aku juga sangat menghawatir kan mu. Makan nya aku ada di sini" Angga menunjuk kan wajah yang penuh penyesalan.


" Aku tanya sekali lagi, kenapa om malah berada di sini dan bukan nya mengejar Feyrin ke bandara?" Alea mendengus kesal karena Angga tidak mengerti maksud ucapan nya barusan.


" Oh Tuhan, bagaimana aku bisa melupakan nya" Angga menepuk kening nya sendiri. " Aku akan pergi sekarang" setelah mengatakan hal itu Angga pun langsung bergegas keluar ruangan UGD menuju ke bandara untuk menyusul Feyrin, Angga harap dia tidak terlambat untuk mencegah kepergian gadis itu. Atau diri nya akan sangat menyesal seumur hidup nya karena sudah benar - benar kehilangan gadis yang sudah rela mencintai nya dengan sangat tulus.


" Kenapa kakak malah mengajak om Angga ke sini? Bukan nya langsung menyuruh nya untuk pergi ke bandara?" Alea mengerucut kan bibir nya seraya menatap Angga yang menghilang di balik pintu UGD.


" Maaf, tadi aku sangat panik karena kamu tiba - tiba pingsan" Rifki yang tadi nya juga melihat ke arah Angga pergi, kini menolehkan pandangan nya.


" Iya juga ya, kenapa tadi aku bisa seperti itu?" Alea tampak berpikir sambil merasakan kepala nya yang sedikit berdenyut.


" Kamu akan tahu sebentar lagi, sekarang kamu ikut aku menemui seseorang" Rifki tersenyum penuh arti.


" Nanti kamu juga akan tahu sendiri, lebih baik sekarang aku membawa mu ke sana" Rifki masih tidak mau mengatakan apa pun. Tadi Rifki sempat menelpon dokter Fisa sebelum Angga masuk ke dalam ruangan itu untuk membuat temu janji dengan dokter kandungan itu. " Baik lah, sekarang apa kamu kuat berjalan sendiri, atau kamu mau aku gendong?' Rifki mengerlingkan mata nya.


" Aku jalan sendiri saja, kamu hanya perlu membantu ku sedikit" Alea tidak mungkin membiar kan Rifki menggendong nya, bisa malu dia karena jadi tontonan semua orang yang ada di rumah sakit itu.


Akhir nya Alea pun berjalan dengan Rifki yang membantu memapah nya karena kepala Alea masih sedikit pusing saat berdiri. Lumayan jauh jarak dari ruang UGD dengan ruangan dokter obgyn di rumah sakit itu, sehingga membutuh kan waktu yang lumayan lama untuk mereka berjalan, apa lagi Alea melangkah kan kaki nya dengan perlahan saat ini karena Rifki yang melarang nya untuk berjalan terlalu cepat.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhir nya Rifki dan Alea sampai juga di depan pintu ruangan dokter Fisa.


" Bukan kah ini ruangan dokter Fisa? Dokter obgyn yang biasa di datangi Nara untuk memeriksakan kandungan nya?" Alea mengerut kan kening nya pada Rifki yang malah membawa nya ke dokter obgyn yang biasa di kunjungi Nara.

__ADS_1


" Ya, aku akan mempertemukan mu dengan dokter Fisa" jawab Rifki dengan santai nya.


" Tapi untuk apa? Aku kan sedang tidak hamil" Alea terkekeh saat mengatakan nya, namun sepersekian detik kemudian Alea tampak membulat kan ke dua bola mata dan mulut nya saat dia menyadari sesuatu. " Atau, mungkin kah?" Alea menatap tak percaya pada Rifki yang mengangguk dengan senyum di bibir nya.


Alea mengingat kembali bahwa bulan ini diri nya belum kedatangan tamu bulanan nya, jadi Alea pikir mungkin juga kalau diri nya hamil saat ini.


" Kita periksa dulu ya, ini baru perkiraan dokter yang tadi memeriksa mu" ucap Rifki dengan lembut.


" Eemm" Alea mengangguk kan kepala nya.


" Silah kan tuan, nona, dokter Fisa sudah menunggu kalian" perawat yang memang bertugas di depan ruangan dokter obgyn itu mempersilahkan ke dua nya untuk masuk.


" Terima kasih" ucap Alea dengan senyum ramah di bibir nya sebelum diri nya dan suami nya masuk ke dalam ruangan itu.


" Selamat sore, nona Alea, tuan Rifki, apa ada yang bisa saya bantu" dokter Fisa menyambut kedatangan pasangan suami istri itu dengan ramah.


" Selamat sore dokter, saya ingin memeriksa istri saya. Apa benar istri saya hamil?" Rifki seakan tak sabar ingin segera mengetahui nya.


" Baik lah,mari nona ikut saya!" Dokter Fisa pun membawa Alea ke ruangan yang biasa dia gunakan untuk memeriksa pasien nya. " Silahkan berbaring di sini!" Tambah dokter Fisa lagi setelah mereka sampai di sana.


Alea pun menurut dan membaring kan diri nya di sana, dokter Fisa pun langsung memeriksa perut Alea dengan menggunakan alat USG yang biasa dia gunakan. Setelah mendapat kan apa yang dia cari, dokter Fisa pun terlihat tersenyum dan menyudahi pemeriksaan nya.


Setelah itu, Alea dan dokter Fisa pun kembali ke ruangan di mana Rifki sedang menunggu dengan harap - harap cemas di sana.


" Bagai mana dok?" Rifki menodong dokter Fisa dengan pertanyaan nya saat ke dua nya sudah selesai melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2