
"Bagai mana dok?" Rifki menodong dokter Fisa dengan pertanyaan nya saat ke dua nya sudah selesai melakukan pemeriksaan.
" Seperti nya anda sudah sangat tidak sabar ya?" Dokter Fisa terkekeh saat mengatakan nya.
" Aku memang sudah tidak sabar" Rifki menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
" Jadi bagai mana dok, apa aku beneran sedang hamil?" Alea juga terlihat sudah tidak sabar.
" Seperti nya nona juga sudah tidak sabar ya, baiklah saya jelaskan dulu ya!" Dokter Fisa pun memperlihat kan hasil USG barusan dan menjelaskan nya, di sana terlihat bahwa Alea benar sedang mengandung dan usia kandungan nya baru menginjak usia lima bulan
Rifki dan Alea sama - sama terlihat sangat bahagia mendengarkan kabar barusan, Rifki pun tak henti - henti nya mengucap kan syukur dan terima kasih pada Tuhan dan pada istri nya. Tak lupa juga Rifki mencium kening Alea beberapa kali sebagai tanda syukur nya atas kehamilan istri nya itu. Dokter Fisa sampai menggeleng - geleng kan kepala nya dengan kelakuan pasangan suami istri itu yang bisa - bisa nya melupakan kehadiran nya di sana dan asyik berdua saja.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Sementara di tempat lain nya, tepat nya di jalanan menuju ke bandara. Tampak Angga yang beberapa kali mengumpat kesal di dalam mobil mewah nya.
" Sial, kenapa jalanan ini penuh sekali" Angga memukul stir mobil nya dengan kasar. " Aku bisa terlambat kalau seperti ini" gumam Angga mengerang prustasi seraya mengusap rambut nya beberapa kali
__ADS_1
Angga tadi sudah mencari tahu waktu penerbangan Feyrin melalui ponsel nya, dan ternyata pesawat yang akan di naiki Feyrin akan lepas landas pada pukul lima sore, dan saat ini waktu sudah menunjuk kan pukul empat lebih tiga puluh tujuh menit. Dan itu arti nya hanya beberapa menit lagi pesawat itu akan terbang.
Posisi Angga kini masih jauh dari bandara, apa lagi dengan kemacetan yang kini terjadi. Angga sudah di pasti kan akan datang terlambat di bandara.
" Bagai mana ini, aku harus bagai mana?" Angga kini sangat gelisah sambil beberapa kali menekan klakson mobil nya. Angga sungguh sangat kebingungan saat ini, apa lagi sejak tadi Angga mencoba untuk menghubungi Feyrin dengan ponsel nya. Namun nomor Feyrin ternyata tidak aktif. " Feyrin, aku mohon jangan pergi!" Angga mengingat kembali hari - hari yang dia lewati bersama dengan Feyrin beberapa bulan terakhir ini. Angga sering menghabis kan waktu bersama dengan gadis itu selama kerja sama perusahaan mereka terjalin.
Apa lagi Feyrin juga sering membawakan bekal makanan untuk diri nya dengan alasan sebagai tanda terima kasih karena telah memberi kan nya tumpangan saat pulang dari pekerjaan mereka.
Angga juga teringat kembali bagai mana dia dengan begitu bodoh nya memarahi Feyrin dan mengancam nya untuk tidak mendekati diri nya lagi, padahal Feyrin tidak pernah melakukan apa pun yang merugi kan diri nya. Karena yang di lakukan Feyrin hanya sesuatu yang sangat wajar dia lakukan pada orang yang dia cintai.
Sungguh Angga sangat menyesali perbuatan buruk yang sudah dia lakukan pada gadis itu, seandai nya Angga bisa mengulangi waktu. Dia pasti akan memperlakukan Feyrin dengan sangat baik dan Angga pasti akan mencurah kan semua perasaan cinta yang dia miliki pada nya. Bukan pada wanita seperti Lula.
" Itu dia!" Angga terburu - buru keluar dari dalam mobil nya dan menghampiri seorang pengemudi sepeda motor yang kebetulan berada di samping mobil nya. Sepeda motor bebek berwarna hitam keluaran tahun dua ribuan. " Maaf pak, bisa kah saya sewa motor anda. Atau saya beli saja, sebut kan berapa harga nya?" Angga terlihat panik dan tergesa - gesa.
" Maaf tuan, tapi saya tidak akan menjual nya" bapak - bapak yang membawa motor itu berbicara.
" Saya mohon pak, saya perlu motor bapak untuk mengejar cinta saya pak. Bapak bisa sebut kan berapa saja yang bapak ingin kan" Angga memohon dengan sangat.
__ADS_1
" Tetap tidak bisa tuan, maaf. Motor ini terlalu berharga untuk saya" bapak itu masih tidak mau melepaskan motor nya, membuat Angga mengacak rambut nya frustasi.
" Atau begini saja, saya pinjam dulu motor ini dan bapak bisa pakai mobil saya yang itu. Dan ini kartu nama saya, nanti bapak bisa hubungi saya lagi untuk mengambil motor bapak. Bagai mana?" Angga sungguh sudah mulai putus asa. Seperti nya bapak ini memang tidak ada niat untuk menjual motor milik nya itu.
" Baik lah kalau seperti itu, bapak akan menghubungi tuan nanti" akhir nya bapak itu memberikan motor yang sedang dia pakai itu setelah dia menerima kunci mobil dan kartu nama Angga. Bapak itu tidak tega juga melihat Angga yang seperti nya sudah putus asa itu. Sebenar nya bapak itu bukan nya pelit atau ingin uang yang sangat banyak untuk harga motor nya, namun sebenar nya motor itu juga bukan milik nya melainkan milik adik nya yang dia pinjam untuk menyelesaikan suatu urusan. Jadi dia tidak mungkin menjual nya pada Angga begitu saja tanpa izin dari pemilik asli nya.
" Terima kasih pak!" Angga merasa sangat lega karena bisa meminjam sepeda motor itu untuk dia gunakan mengejar Feyrin ke bandara.
Setelah mengatakan itu Angga pun langsung mengenakan helm yang di berikan bapak itu dan langsung melaju kan motor nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, menyalip beberapa kendaraan yang lain nya di tengah kemacetan yang ada.
Sementara itu di dalam bandara, tampak Feyrin yang sedang memandangi ponsel nya yang dia mati kan beberapa menit yang lalu saat diri nya mendapat kan panggilan dari nomor kakak sepupu nya Rifki.
" Maaf kan aku kak, kalau aku tetap di Jakarta aku takut tidak bisa mengendalikan perasaan ku" gumam Feyrin dengan menahan sudut mata nya yang sudah berair. Jujur saja perasaan nya terhadap Angga tidak bisa Feyrin hapus dengan mudah, walau beberapa kali pun dia mencoba. Bahkan setelah perlakuan kasar yang di lakukan oleh Angga pada nya.
" Aku harap kalian semua hidup bahagia di sini, dan semoga aku juga mendapat kan kebahagiaan ku sendiri di Paris" gumam Feyrin lagi dengan senyum kaku di wajah nya. " Aku harap kamu bahagia om Angga" tambah Feyrin lagi seraya menahan rasa sesak pada dada nya.
Tak lama, suara panggilan untuk pesawat yang akan di naiki Feyrin terdengar menggema di seluruh bandara. Feyrin pun langsung berdiri dari duduk nya dan memegang koper yang ada di samping nya. " Selamat tinggal Jakarta!" Ucap Feyrin seraya menghembus kan nafas nya kasar. Dan setelah itu Feyrin pun melangkah kan kaki nya menuju ke pesawat yang akan dia naiki.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏