Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)

Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)
Bab 137


__ADS_3

Sementara di Indonesia, hari ini adalah hari ke sepuluh perjuangan Dinka mendapat kan hati Algi. Namun masih belum ada tanda - tanda Algi sudah merasakan perasaan yang sama dengan diri nya. Dan hari ini adalah hari terakhir dari sepuluh hari yang Dinka minta untuk diri nya bisa mendapat kan cinta Algi.


" Hari ini hari terakhir, apa ini saat nya aku menyerah ya?" Dinka bergumam sendiri seraya menatap kotak makanan dan satu tangkai bunga mawar yang ada di tangan nya. Siang ini seperti biasa, Dinka akan datang ke kafe Algi untuk memberi kan makan siang untuk pria itu. " Kak Algi masih belum merubah sikap nya pada ku, apa semua yang sudah aku lakukan tidak ada arti nya sama sekali untuk dia ya" tambah Dinka lagi sambil melangkah menuju pintu depan kafe.


Seperti biasa nya, para pelayan di toko itu menyapa Dinka dan memberi nya semangat. Namun kali ini bukan nya semakin bersemangat, Dinka malah terlihat lesu sehingga membuat semua nya merasa heran dengan sikap Dinka kali ini.


Huuufth


Dinka menarik dan membuang nafas nya dengan kasar sebelum dia memasuki ruangan Algi setelah tadi dia mengetuk pintu itu terlebih dahulu dan Algi sudah menyuruh nya masuk ke dalam.


Ceklek


Dinka membuka pintu yang ada di hadapan nya dengan wajah yang sudah dia buat seceria mungkin, walau pun dalam hati nya Dinka saat ini sedang merasa cemas dengan apa yang akan terjadi hari ini.


" Selamat siang kak Algi yang tampan" seperti biasa, Dinka tersenyum dengan sangat manis pada Algi. Dan seperti biasa nya juga Algi selalu bersikap cuek dan tetap fokus pada layar laptop yang ada di hadapan nya.


" Siang" hanya itu yang Algi katakan tanpa menoleh ke arah Dinka, membuat Dinka semakin putus asa saja.


" Makan siang dulu kak, nanti lanjutin lagi kerja nya!" Seperti biasa juga Dinka akan meletak kan kotak makan siang bawaan nya dan duduk di kursi yang ada di hadapan Algi saat ini.


" Lagi nanggung Din, lebih baik kamu pergi saja nanti juga akan aku makan" Algi masih saja bersikap cuek pada Dinka.

__ADS_1


" Tidak, aku ingin melihat kakak makan makanan yang aku bawa sampai habis" Dinka meletak kan tangan nya di atas meja kerja Algi untuk menopang dagu nya. " Kakak tidak ingat, ini hari ke sepuluh kak. Jadi aku ingin jawaban dari kakak hari ini" Dinka berkata dengan begitu santai nya.


Mendengar hal itu, Algi langsung menutup laptop yang ada di hadapan nya dan mulai menatap Dinka dengan begitu intens.


" Apa sudah selama itu? Kenapa aku tidak menyadari nya?" Algi terkekeh saat mengatakan nya.


" Mungkin karena kakak tidak begitu memperdulikan nya" jawab Dinka ikut terkekeh. " Jadi, izinkan aku untuk melihat kakak memakan makanan ini sampai habis kali ini" tambah Dinka lagi dengan wajah yang serius.


Ceklek


Di saat ke dua nya sedang saling tatap dengan wajah yang serius, tiba - tiba ada seseorang yang membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


" Kak Algi, kenapa kamu masih di sini? Bukan kah kamu sudah berjanji akan mengajak ku ke bioskop siang ini?" Seorang gadis tiba - tiba muncul dan langsung berjalan cepat mendekati Algi dan langsung merangkul pundak Algi yang sedang duduk di kursi kebesaran nya dengan manja. Gadis itu menatap Dinka sekilas, dan langsung kembali fokus pada Algi tanpa menghirau kan keberadaan Dinka sama sekali di sana.


" Siapa dia?" Batin Dinka seraya menahan rasa sesak di dada nya.


" Maaf, aku begitu banyak pekerjaan sampai aku lupa kalau aku sudah berjanji pada mu" Algi mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Dan itu tidak luput dari penglihatan Dinka saat ini.


" Ish, aku sampai ber akar karena terlalu lama menunggu mu di rumah. Kalau aku tidak datang ke sini, mungkin kakak tidak akan datang sama sekali" gadis itu memberengut kesal.


" Ya sudah, maaf kan aku!" Algi menunjuk kan wajah memelas nya.

__ADS_1


Dinka yang sejak tadi melihat interaksi mereka berdua sudah tidak tahan lagi, seperti nya ini juga adalah alasan Algi selalu menolak diri nya.


" Maaf kalau keberadaan ku ini mengganggu kalian" Dinka berdiri dari duduk nya. " Kak Algi, aku rasa aku sudah tahu jawaban mu. Seperti janji ku kepada mu, aku akan menyerah hari ini dan aku juga berjanji tidak akan mengganggu mu lagi" setelah mengatakan itu, Dinka pun pergi dari ruangan Algi sambil menahan rasa sesak di dalam dada nya. Sungguh perasaan Dinka saat ini sangat hancur untuk ke dua kali nya karena seorang pria, tapi Dinka selalu menahan diri nya untuk tidak menangis walau bagai mana pun sakit hati diri nya oleh pria itu. Dan itu berhasil di lakukan Dinka selama ini, walau pun mata Dinka sudah terasa panas sejak dari tadi dan air mata sudah berdesak kan ingin meluncur dari pelupuk mata nya.


" Jangan menangis Dinka! Ingat, jangan menangis!" Ucap Dinka mensugesti diri nya sendiri sebelum dia benar - benar meninggal kan kafe itu dengan menggunakan motor biru kesayangan Nara yang biasa dia bawa.


Sementara di dalam sana, tepat nya di dalam ruang kerja Algi.


" Ish, kakak kejam sekali! Apa kakak tidak lihat wajah nya saat dia pergi?" Gadis itu yang tak lain adalah adik kandung Algi yang bernama Gina, tampak memberengut kesal seraya duduk di tempat tadi Dinka duduk.


" Itu lebih baik dek, dari pada kakak gantungin dia terus. Dia itu cewek yang keras kepala, kalau tidak seperti ini dia pasti masih mau mengejar kakak" ucap Algi dengan enteng nya.


" Emang kakak yakin, gak ada perasaan sedikit pun di hati kakak untuk dia?" Gina menatap Algi dengan tatapan menyelidik.


Algi terdiam sejenak setelah adik nya itu mengatakan hal barusan, jujur saja Algi juga tidak tahu apa yang sudah dia rasakan saat ini. Karena selama diri nya mengenal Dinka, Algi merasa hari - hari nya berubah menjadi lebih berwarna. Apa lagi selalu ada saja yang di lakukan Dinka untuk membuat nya tersenyum, namun Algi menganggap itu hanya perasaan biasa saja dan bukan cinta. "Tentu saja tidak, kamu tahu persis siapa yang aku cintai sejak dulu" Algi terdengar ragu saat mengatakan nya.


" Ish, kakak ini kenapa sih? Bukan nya kakak sendiri yang mengatakan kalau kakak tidak mungkin lagi bisa bersama dengan kak Nara, karena bagai mana pun juga kak Nara sudah bahagia dengan keluarga kecil nya" Gina mendengus kesal.


" Iya aku tahu, tapi aku merasa aku belum siap untuk jatuh cinta lagi" jawab Algi tak mau kalah.


" Aku tahu, kakak pasti takut kecewa dan patah hati untuk ke dua kali nya bukan? Tapi kakak lihat kak Dinka! Dia sangat mencintai kakak dan tidak mungkin membuat kakak kecewa" sungguh Gina tak habis pikir dengan pikiran kakak nya itu. " Baik lah, aku pergi dulu, aku harap kakak tidak akan menyesal karena sudah menyia - nyiakan gadis sebaik kak Dinka" Gina pun langsung keluar dari ruangan Algi meninggal kan kakak nya yang tampak berpikir dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2