
Akhir nya Dimas ikut juga pergi bersama Dela dengan lain nya untuk berbelanja membeli hadiah untuk pernikahan Nara yang Aydan yang akan di adakan beberapa hari lagi.
" Kita mau beli apa ini?" Alea bingung melihat - lihat barang di berbagai toko yang sudah mereka lewati sejak tadi.
" Apa aja yang penting bertema Doraemon, pasti Nara suka" Rifki terkekeh saat mengatakan nya.
" Kalau aku punya ide yang cukup gila" Angga tersenyum penuh arti membuat semua menatap ke arah nya.
" Ide gila apa maksud kamu?" Dela mengerutkan kening nya.
" Lihat itu?" Angga menunjuk pada sebuah toko yang menjual berbagai baju tidur dari mulai yang terbuka sampai yang tertutup, Angga menunjukan salah satu baju tidur yang sangat terbuka yang terpajang di etalase toko itu.
" Kau memang gila, aku fikir Nara pasti akan memaki mu" Alea terlihat membulatkan bola mata nya. " Cih, seperti nya om ku ini tidak sepolos yang aku bayangkan" tambah nya lagi dengan nada mengejek nya.
" Aku juga jadi ragu, apa saja yang sudah om lakukan dengan Lula?" Rifki ikut menimpali.
Lula adalah kekasih Angga, mereka sudah berhubungan selama dua bulan. Mereka bertemu di sebuah pesta dan berkenalan, setelah beberapa kali bertemu dan merasa saling cocok satu sama lain, akhir nya dua bulan yang lalu mereka pun memutuskan untuk menjalin hubungan.
" Ish, kamu jangan bicara sembarangan ya! Aku juga masih tahu batasan kami" Angga mendengus kesal.
" Ya ya ya, kami percaya pada mu" Dimas menepuk pundak Angga dengan cukup keras. " Asal jangan sampai kejadian Aydan terulang kembali pada kalian, kalau tidak orang tua kalian pasti akan sangat bersedih nanti nya" Dimas memberikan petuah nya.
" Iya om, kami tahu! Om juga harus mengingat nya" Alea mengangguk - anggukan kepala nya.
__ADS_1
" Kamu tenang saja Al, aku kira tidak akan ada wanita yang bisa bertahan dengan pria tua menyebalkan seperti pak Dimas ini" Dela berkata dengan nada mengejek nya.
" Apa kamu bilang?" Dimas menatap tajam pada Dela. Enak saja gadis itu mengatai nya tua dan menyebalkan padahal usia nya belum terlalu tua, namun dewasa menurut Dimas.
" Ayo Al, kita ke sana!" Dela tanpa menghiraukan ucapan dan tatapan tajam Dimas langsung menjauh dari Dimas sambil menarik tangan Alea untuk dia ajak ke sebuah toko yang berada di dekat mereka berada. Dela fikir dia harus menyelamatkan diri nya sendiri sekarang.
" Yang sabar ya om!" Rifki menepuk pundak Dimas. " Om terima kenyataan saja, kalau usia om memang tidak muda lagi" tambah Rifki lagi seraya terkekeh dan langsung berlari menyusul Alea dan Dela. Sedangkan Dimas kini menatap kesal pada punggung ke tiga nya yang sudah mulai menghilang di balik pintu toko dan Angga tertawa renyah menertawakan mereka.
" Kenapa kau tertawa ha?" Dimas menatap tajam pada Angga yang tertawa di samping nya membuat Angga langsung menghentikan tawa nya.
" Aku tidak berani, tapi apa yang mereka katakan itu memang benar om" Angga pun langsung berlari setelah mengatakan itu meninggalkan Dimas yang terlihat semakin kesal saja.
Setelah berkeliling dan memasuki toko satu persatu, akhir nya semua sudah mendapatkan hadiah yang ingin mereka berikan pada Aydan dan juga Nara sampai akhir nya mereka pulang lumayan larut malam. Alea pulang bersama dengan dua body guard nya Angga dan Rifki, sedangkan Dela di antarkan oleh Dimas.
" Ish, kau seperti orang gila saja! Tertawa sendiri dengan ponsel mu" cibir Dimas sambil mata nya yang tetap fokus pada jalanan yang ada di depan nya.
" Enak saja bapak bilang saya gila, aku sedang membalas chat dari Alea asal bapak tahu" Dela mendengus kesal pada pria yang ada di hadapan nya. " Apa bapak tahu? Alea mengatakan kalau bapak itu sampai saat ini baru pernah berpacaran satu kali, dan itu pun tidak lama, apa itu benar pak?" Dela terkekeh saat mengatakan nya.
" Ish, apa yang anak itu lakukan? Kenapa dia memberitahu mu hal yang tidak penting seperti itu?" Dimas menggerutu kesal karena Alea bisa - bisa nya mengatakan hal itu pada Dela.
" Tapi aku kurang percaya pak, mana mungkin kan pria tampan dan mapan seperti bapak tidak ada yang suka" Dela berkata dengan santai nya tanpa menyadari apa yang sudah dia ucapkan barusan adalah kata pujian untuk Dimas.
" Jadi menurut mu aku tampan hem?" Dimas menaik turunkan alis nya lucu seraya tersenyum menggoda pada Dela laku kemudian dia kembali fokus ke arah depan.
__ADS_1
" A apa, em maksudku" Dela tidak tahu harus berkata apa lagi saat ini, jujur saja saat ini Dela merasa sangat malu karena bisa - bisa nya mengatakan hal itu pada pria yang ada di samping nya ini.
" Aku tahu maksud mu, aku juga tahu kalau aku tampan" Dimas masih saja menggoda Dela yang kini wajah nya sudah memerah menahan malu.
"Ish, bapak ini PD sekali" Dela memalingkan wajah nya ke arah kaca mobil dan melihat pemandangan di luar sana agar Dimas tidak bisa melihat wajah nya yang sudah pasti sangat merah saat ini karena dia bisa merasakan wajah nya yang terasa panas saat ini.
Tak lama mobil yang di tumpangi oleh Dimas dan Dela pun sampai juga di depan gedung apartemen yang di tinggali Dela saat ini. Ya Dela tinggal di apartemen sendirian karena Erika dan Aldi orang tuanya tinggal di luar kota, kota di mana tempat kelahiran Aldi. Erika dan Aldi tinggal di sana karena Aldi harus meneruskan usaha keluarga nya di sana sedangkan Dela lebih memilih tinggal di Jakarta, karena sejak SMA Dela sudah tinggal di Jakarta bersama dengan kakek dan nenek nya yaitu orang tua dari Erika.
Namun sejak Dela lulus kuliah dan mulai bekerja, Dela memutuskan untuk membeli apartemen dengan uang hasil kerja nya dan tinggal di sana sendirian. Dela ingin bisa hidup mandiri tanpa merepotkan lagi kakek dan nenek nya.
" Apa kamu tinggal di sini sendiri?" Dimas bertanya pada Dela sebelum Dela keluar dari mobil nya.
" Ya, jadi maaf saja ya pak. Aku tidak bisa mengajak bapak mampir sekarang, nanti kalau bapak ke sini dengan Alea dan yang lain nya baru aku akan mengizinkan bapak untuk mampir ke rumah ku" Dela terkekeh saat mengatakan nya.
" Cih, lagi pula untuk apa aku datang ke rumah mu?"
" Ish, siapa tahu kan bapak mau minum air putih yang aku masak" Dela terkikik geli sendiri dengan ucapan nya sendiri. " Sudah ya pak aku masuk dulu, terima kasih karena sudah mengantar ku!" Dela pun keluar dari mobil Dimas.
" Siapa juga yang mau di suguhi air putih saja" Dimas menggerutu kesal.
" Hanya itu yang aku punya pak, sekali lagi terima kasih pak, aku masuk dulu" Dela melambaikan tangan nya pada Dimas melalui kaca mobil yang terbuka lalu kemudian melangkah masuk ke dalam apartemen nya meninggalkan Dimas yang masih diam memperhatikan gadis itu sampai menghilang di balik pintu dan baru setelah itu dia pun melajukan mobil nya menjauh dari tempat itu.
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1