
Sementara di Paris
Oprasi yang di lakukan pada Angga berjalan dengan lancar, dokter mengatakan kalau Angga akan sadar dalam waktu dua hari ini. Namun jika Angga tidak sadar dalam waktu itu, Angga akan mengalami koma dalam waktu yang tidak bisa di tentu kan. Karena luka di kepala Angga yang di akibat kan oleh kecelakaan itu lumayan parah sehingga berakibat fatal pada kondisi tubuh nya saat ini.
Saat ini Angga masih berada di ruang ICU untuk sementara, sampai Angga tersadar. Baru setelah dia sadar, Angga bisa di pindah kan ke ruangan rawat biasa. Sebenar nya Nanda ingin membawa Angga ke rumah sakit milik nya di Jakarta agar bisa mendapat kan perawatan yang sangat baik dan seluruh keluarga bisa ikut merawat nya di sana, tapi karena kondisi Angga yang tidak memungkin kan untuk perjalanan yang lumayan lama ke Indonesia. Nanda tidak bisa berbuat apa - apa lagi selain menyerah kan semua perawatan di rumah sakit itu.
" Apa aku boleh melihat nya sekarang?" Tanya Feyrin pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Angga setelah dia di pindah kan dari ruangan oprasi.
" Boleh, tapi kalian harus bergiliran. Karena hanya satu orang saja yang bisa masuk ke dalam" jawab dokter itu. " Dan ingat, jangan terlalu lama!" Tambah dokter itu lagi.
" Terima kasih!" Feyrin tersenyum dan tak menunggu lama lagi, Feyrin langsung berlari ke dalam ruangan ICU di mana Angga kini terbaring lemah.
Ceklek
Pintu kamar ICU di buka oleh Feyrin setelah dia memakai baju steril yang di sediakan di sana untuk orang yang akan menjenguk pasien di ruangan itu.
__ADS_1
Di lihat nya tubuh Angga yang terbaring lemah dengan mata yang tertutup rapat. Tak lupa juga wajah tampan yang terlihat pucat dengan beberapa selang dan alat bantu terpasang di tubuh dan wajah nya.
" Kenapa om melakukan ini pada ku? Hiks.. hiks" Feyrin tak mampu lagi membendung tangis nya saat diri nya kini sudah berdiri tepat di samping Angga yang tertidur saat ini. " Kamu bilang, kamu tidak akan menyerah. Kamu juga bilang tidak akan meninggal kan ku hiks.. hiks.." air mata Feyrin semakin mengalir deras dengan tubuh yang semakin bergetar.
" Maaf kan aku yang selalu bersikap ketus pada mu, maaf kan aku yang selalu bersikap seolah kau tak ada di sampingku" tambah Feyrin lagi dengan air mata yang semakin deras saja. " Jika kamu bangun kali ini, aku berjanji akan bersikap baik pada mu. Aku juga berjanji akan memberikan cinta ku yang selalu kamu ingin kan itu, jadi aku mohon bangun lah" Feyrin memegang ke dua pundak Angga dan sedikit mengguncang tubuh lemah itu.
Merasa tidak ada reaksi apa pun dari Angga, kini tangan Feyrin pun terulur menyentuh pipi Angga yang terlihat sangat pucat itu. Dengan tangan yang bergetar, Feyrin mengusap wajah itu dengan lembut nya.
" Cepat lah bangun om, aku akan menunggu mu di sini!" Ucap Feyrin dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. " Bukan kah om bilang kalau om akan mengajak ku ke Indonesia dan menikahi ku. Apa itu semua hanya kebohongan? Katakan om!" Tubuh Feyrin semakin bergetar dengan isakan tangis yang semakin kencang dan memilukan bagi orang yang mendengar nya. Bahkan kini tubuh Feyrin sudah merosot dengan ke dua tangan yang menopang tubuh nya di pinggir blankar tempat Angga terbaring.
" Aku keluar dulu, agar yang lain nya bisa juga melihat mu. Aku akan selalu menunggu mu, dan tidak akan pernah jauh dari mu" ucap Feyrin setelah merasa sedikit tenang dan menghenti kan tangis nya.
Cup
Feyrin mengecup kening Angga dengan lembut sebelum dia meninggal kan ruangan itu agar daddy nya Afkha dan om Nanda bisa masuk untuk melihat langsung keadaan Angga saat ini.
__ADS_1
Sekarang giliran Nanda yang masuk ke dalam ruangan ICU setelah Feyrin keluar dari dalam sana.
" Angga, cepat bangun nak! Kamu tidak bisa berbuat ini pada daddy" Nanda menatap nanar pada tubuh pria yang sudah dia anggap sebagai anak nya sendiri itu. " Apa yang harus daddy dan kakak mu katakan pada papa dan mama mu? Kamu tahu mereka sudah tidak muda lagi dan sering sakit - sakitan. Apa kamu tega melihat mereka menderita karena keadaan kamu ini?" Tambah Nanda lagi seraya mengusap sudut mata nya yang sedikit basah.
Sungguh melihat keadaan Angga sekarang ini, membuat Nanda tidak kuat menahan kesedihan nya lagi. Bagai mana pun Angga sudah Nanda anggap sebagai putra nya sendiri karena Angga dan Rifki yang seumuran dengan putra nya itu sering sekali bermain bahkan menginap di mansion keluarga Balendra sehingga tumbuh kembang mereka di saksikan oleh Nanda sejak mereka masih bayi.
" Lalu bagai mana dengan kakak mu Yuki yang pasti nya juga akan merasa sangat sedih dan terpukul?" Tambah Nanda lagi dengan suara serak nya. " Cepat bangun! Daddy tahu kamu adalah pria yang kuat, dan daddy yakin kamu akan bisa melewati semua ini"
Nanda pun langsung keluar dari ruangan itu untuk bergiliran dengan Afkha.
" Bangun lah!" Ucap Afkha setelah dia berdiri di samping Angga yang terbaring dengan lemah sesaat setelah dia mendapat kan giliran nya setelah Nanda tadi keluar dari sana.
" Bukan kah kamu akan menikahi putri ku? Apa kamu akan mengingkari janji mu kepada kami huh" tambah Afkha lagi dengan suara serak nya.
" Apa kamu tidak lihat bagai mana hancur nya putri ku saat melihat mu seperti ini? Bukan kah kamu yang mengatakan kalau kamu tidak akan pernah membuat nya menangis?" Afkha berkata seraya mengusap sudut mata nya yang basah. Sungguh melihat pria yang sudah selama beberapa Minggu ini tinggal bersama nya dan keluarga nya seperti ini, membuat Afkha tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata nya. Apa lagi saat melihat putri nya yang sedih dan hancur seperti itu, Afkha tidak pernah melihat putri nya seperti itu sebelum nya.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏