Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)

Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)
Bab 81


__ADS_3

" Jadi, kalian sudah melakukan nya?" Aydan menatap Rifki dengan tatapan menyelidik nya saat diri nya dan Nara yang masih di rawat di sana datang menjenguk Alea ke ruangan nya.


" Ya, aku terpaksa melakukan nya karena tidak tega melihat Alea menderita" Rifki membuang nafas nya kasar. " Dan sekarang aku takut Alea akan membenci ku" tambah Rifki lagi dengan wajah yang lesu.


" Selamat berjuang bro! Kamu jangan patah semangat! Bila Alea membenci mu, dapatkan lah maaf dari nya. Dan setelah itu, kejarlah cinta nya!" Aydan terkekeh saat mengatakan nya.


" Ish, kau ini kak Rifki sedang bingung. Tapi kamu malah senang seperti itu" Nara yang mendengar ucapan Aydan barusan tampak mendengus kesal.


" Sayang, dulu dia begitu sadis pada ku. Dan sekarang dia sendiri mengalami apa yang aku alami" Aydan merengek manja.


" Cih, jelas aku berbeda. Kalau kamu jelas bersalah karena meminum minuman haram itu dan memper kosa Nara dalam keadaan mabuk, sedangkan aku, justru Alea yang memper kosa ku dan aku sebagai korban nya" jawab Rifki dengan nada cibiran.


" Cih, korban kata mu? Bilang saja kalau kau keeanakan!" Balas Aydan dengan nada yang sama.


" Asal kau tahu saja, aku saat itu hanya menerima saja apa yang di lakukan Alea pada ku! Aku ini korban disini, korban keganasan Alea" Rifki berkata dengan santai nya.


" Ish, kakak ini bicara apa? Keganasan apa maksud kakak? Aku tidak percaya Alea bisa melakukan hal itu pada kakak" Nara mendengus kesal.


" Kamu harus percaya, aku ada bukti nya" jawab Rifki dengan begitu enteng.


" Bukti apa maksud mu?" Aydan menaikan sebelah alis nya.

__ADS_1


" Kalian lihat ini!" Rifki menunjuk bagian leher nya yang di mana di sana ada beberapa tanda merah keunguan, Aydan dan Nara tahu betul apa itu.


" Apa kakak yakin kalau Alea yang melakukan nya?" Nara tampak membulatkan ke dua bola mata nya saat melihat tanda merah yang begitu banyak pada bagian leher Rifki yang tertutup kerah kemeja nya.


" Ish, kamu fikir aku ini pria apa an huh? Sehingga banyak wanita yang bisa bebas menjamah tubuh ku" Rifki mendengus kesal.


" Ha ha, maaf aku salah bicara!" Nara tertawa kikuk. " Aku hanya tidak percaya saja, Alea akan seganas itu"


" Pengaruh obat perangsang yang di minum Alea sangat berpengaruh besar bagi Alea, bahkan saat aku mengacuhkan dan melarang nya menyentuh tubuh ku. Dia menjadi sangat gelisah sampai menyakiti diri nya sendiri, kamu lihat bibir nya yang bengkak dan berdarah?" Rifki menunjuk bagian yang dia maksud. " Dia menggigit bibir nya sendiri saat tidak bisa menyalurkan has rat nya, jadi aku terpaksa membiarkan diri ku sendiri jadi santapan nya" Rifki terkekeh di akhir kalimat nya.


" Cih, bibir mu mengatakan terpaksa, tapi dalam hati mu kamu sangat senang bukan?" Aydan mendengus kesal.


" Itu tidak perlu aku jawab, kamu sudah tahu jawaban nya" Rifki menaik turunkan alis nya lucu.


Plakk


Plakk


" Aw" pekik Rifki dan Aydan secara bersamaan.


" Henti kan omong kosong kalian, lebih baik kita mendo'akan agar Alea cepat sadar!" Nara memberengut kesal.

__ADS_1


" Iya sayang, maaf. Aku dari tadi juga mendo'akan Alea dalam hati ku" ucap Aydan dengan nada manja nya seraya merangkul pundak Nara dengan begitu mesra


" Cih, terus saja kalian bermesraan seperti itu! Anggap saja aku ini tidak ada" Rifki kembali mendengus kesal. " Lebih baik kalian pergi ke kamar kalian lagi, biar aku sendiri yang menjaga Alea!" Tambah Rifki lagi dengan nada mengusir.


" Cih, kau ini! Ayo kita pergi sayang! Kak Rifki mu itu sedang iri pada kita" Aydan berpura - pura marah dan langsung mendorong kursi roda yang di duduki Nara saat ini untuk kembali ke kamar rawat Nara. Sedangkan Nara hanya terkikik geli dan hanya menurut saja saat Aydan membawa nya kembali ke kamar nya.


Beberapa waktu telah berlalu, Rifki tidak pernah meninggalkan Alea walau sedetik pun. Bahkan Rifki melewatkan makan siang dan makan malam nya. Kini malam semakin larut dan para orang tua sudah pulang ke rumah mereka termasuk Alice dan juga Jay yang masih harus mengurus Jemy yang ada di rumah dan pekerjaan di Wilantara Corp yang di tinggalkan Alea selama dia tidak ada juga harus di selesaikan oleh Jay dan Alice.


Karena sudah sangat larut malam, membuat Rifki yang memang merasa kelelahan tanpa sengaja terlelap di samping Alea dengan posisi duduk dan wajah yang ia sandarkan pada blankar tempat Alea tidur saat ini dengan tangan nya yang setia menggenggam erat tangan Alea tanpa mau melepaskan nya.


Waktu seakan bergulir dengan sangat cepat dan kini matahari sudah mulai kembali menampak kan diri nya setelah semalam tugas nya di ganti kan oleh sang rembulan.


Sinar mata hari tampak masuk ke dalam celah gorden yang terpasang di ruangan rumah sakit tempat Alea di rawat, dan itu berhasil membuat Alea terganggu saat sinar itu menerpa wajah nya. Perlahan Alea membuka mata nya yang seakan berat untuk dia buka dan beberapa kali mengerjapkan mata nya untuk membiasakan diri dengan cahaya yang ada di sana.


" Aku ada di mana?" Gumam Alea pelan saat tidak mengenali tempat nya berada saat ini seraya mata nya mulai menyapu setiap sudut ruangan yang ada di sana. Ruangan dengan cat putih mendominasi seluruh ruangan dengan bau obat yang menyengat. Alea pun melihat ke arah samping nya di mana di sana ada seseorang yang masih terlelap dengan posisi nya yang terlihat kurang nyaman.


" Kak Rifki? Apa dia semalaman menjaga ku,?" Alea mengerutkan kening nya dengan senyum yang mengembang di bibir nya saat melihat seorang pria yang dulu selalu menemani hari - hari nya dan sebentar lagi akan menjadi suami nya ternyata rela menjaga nya yang sedang di rawat di rumah sakit.


"Kak Rifki, bangun kak!" Alea memanggil Rifki dengan suara nya yang masih lemah untuk membangunkan pria itu setelah dia puas memandangi wajah tampan pria yang entah sejak kapan selalu ada dalam hati dan fikiran nya itu.


" Eemmh" lenguh Rifki saat tidur nya merasa terusik dengan suara Alea, dan perlahan membuka mata nya. " Alea, kamu sudah sadar?" Rifki terpekik senang saat melihat Alea yang sudah membuka mata nya. " Oh Tuhan, syukurlah kamu sudah tersadar" saking senang nya Rifki memeluk Alea yang masih terbaring dengan keadaan yang masih lemah.

__ADS_1


Alea yang mendapatkan perlakuan itu dari Rifki hanya bisa tersenyum senang seraya membalas pelukan yang di lakukan Rifki terhadap nya.


Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2