
Beberapa hari telah berlalu Dinka masih belum bisa melupakan kesedihan nya karena mengetahui kalau Algi ternyata sudah mempunyai seorang kekasih. Setiap hari Dinka selalu berdiam diri di kamar nya, kecuali bila dia harus pergi ke kampus untuk kuliah. Dinka sekarang menjadi malas bila harus keluar rumah, apa lagi bila Dinka harus dengan tidak sengaja melewati kafe milik Algi yang merupakan tempat terakhir yang ingin dia datangi di dunia akhir - akhir ini. Tempat yang menjadi kenangan memalu kan sekaligus menyakit kan untuk nya.
" Din, kamu bisa temenin kakak ke ke kantor kak Aydan gak nanti siang? Kakak mau minta kak Aydan nganter ke rumah sakit buat kontrol" Nara terlihat berjalan dengan susah payah menghampiri Dinka yang sedang duduk termenung di depan televisi yang ada di kamar nya karena pintu kamar Dinka tidak tertutup rapat
" Bisa kok, jangan kan ke kantor kak Aydan mau ke kota Paris nyusul Feyrin juga aku hayu" Dinka terkekeh saat mengatakan nya.
" Ish, kamu ini. Tapi kakak juga mau ke Paris, tunggu udah lahiran dulu dan si kembar udah siap untuk perjalanan jauh. Kita liburan sama - sana ke sana, bagai mana?" Nara ikut terkekeh.
" Ide yang bagus tuh kak, siapa tahu nanti di sana dapat pria bule, aku jadi iri pada Feyrin. Om Angga rela menyusul nya ke sana untuk meminta maaf dan mengejar cinta nya, kapan ya aku bisa kayak gitu? Ada pria yang rela melakukan apa pun demi aku" wajah Dinka berubah menjadi sendu.
" Emang bagai mana dengan Algi, apa kamu sudah menyerah?" Nara memang belum tahu tentang Dinka yang di tolak cinta nya oleh Algi, bahkan Dinka tidak menyangka kalau Algi sudah mempunyai seorang kekasih juga. " Aku jadi penasaran, apa om Angga sudah berhasil atau malah gagal ya?" Tambah Nara lagi terlihat berfikir
" Lupakan kak, aku sudah tidak ada kesempatan lagi mengenai kak Algi. Kalau om Angga, aku yakin om Angga akan mendapat kan sedikit kesulitan setelah apa yang dia perbuat pada Feyrin" Dinka memberengut kesal setiap mengingat cerita Feyrin waktu itu.
" Kamu benar juga" Nara mengangguk setuju dengan ucapan Dinka barusan. " Dan untuk kamu, kamu jangan sedih! Nanti juga kamu akan bertemu dengan jodoh mu, yang akan mencintai dan menyayangi kamu sepenuh hati nya, walau itu bukan Algi" Nara membesar kan hati Dinka.
" Aamiin" Dinka meng amin kan ucapan Nara barusan.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
__ADS_1
Sementara di tempat yang lain nya, tepat nya di ruang kerja Algi, tampak Algi menghela nafas nya beberapa kali. Entah kenapa selama beberapa hari ini saat diri nya tidak melihat Dinka menghampiri nya di kafe, malah membuat diri nya merasa ada sesuatu yang kosong dalam hidup nya. Dan yang ada dalam kepala nya hanya wajah Dinka yang selalu tersenyum dan mengajak nya bicara walau diri nya mengacuh kan nya.
" Ish, apa yang terjadi sebenar nya pada diri ku?" Algi mengacak rambut nya frustasi. " Kenapa dalam kepala ku selalu ada dia, dan bagai mana bisa hanya wajah dia yang selalu melintas di pikiran ku?" Algi memukul kepala nya pelan. " Aish, kalau seperti ini terus. Aku bisa gila" Algi yang merasa kepala nya sudah tidak beres, langsung pergi dari ruangan nya untuk melihat suasana dalam kafe nya saja. Siapa tahu dengan itu, Algi bisa lebih menyegar kan pikiran nya.
" Kak Algi, apakah kakak bisa membantu ku sebentar? Aku kerepotan karena Dani tidak masuk hari ini" seorang pelayan yang bernama Rani tampak menghampiri Algi yang baru saja keluar dari ruangan nya.
Hari ini kafe sangat ramai dengan pengunjung, tapi dengan tidak masuk nya salah satu karyawan yang ada di sana, membuat semua kewalahan. Rani merupakan karyawan terlama di kafe milik Algi itu, dan Rani juga karyawan kepercayaan Algi dan tentu nya Rani juga paling mengenal Algi dari karyawan yang lain nya.
" Bagai mana bisa, minggu lalu juga bukan nya ada yang izin tapi kalian bisa mengatasi nya" Algi berkata dengan nada dingin nya.
" Itu kan karena Dinka membantu kita, apa kak Algi lupa?" Rani memutar bola mata nya malas.
" Baik lah, aku akan membantu kalian! Kamu tidak perlu menyebut nama itu, karena dia tidak mungkin datang lagi ke sini" ucap Algi dengan nada kesal nya, padahal dalam hati nya yang paling dalam entah kenapa Algi merasa hampa setiap mengingat bahwa gadis itu tidak akan menemui nya lagi.
Algi pun akhir nya ikut turun tangan untuk melayani pengunjung kafe untuk membantu pekerjaan para karyawan nya.
Kreet
Pintu tiba - tiba terbuka, seorang gadis cantik berjalan masuk ke dalam kafe Algi dengan percaya diri. Asal nya Algi melihat ke arah pintu dengan raut wajah yang terlihat bersemangat, namun sepersekian detik kemudian wajah Algi berubah datar kembali saat melihat orang yang datang bukan lah orang yang dia harap kan.
__ADS_1
" Kebetulan kamu datang, nih bantu karyawan kakak! Kami kekurangan orang" Algi memberikan buku kecil dan sebuah pulpen pada gadis itu.
" Ish, kakak apa - apa an sih? Aku kan ke sini mau main, bukan mau kerja" gadis itu yang tak lain adalah Gina, tampak memberengut kesal.
" Kamu kan gak ada kerjaan,kamu bantu kakak saja! Nanti kakak kasih kamu uang jajan" Algi berkata dengan santai nya. " Lagian apa salah nya sih dek buat bantu kerjaan kakak? Dinka aja yang bukan adik kakak mau membantu kakak" tambah Algi lagi tanpa sadar malah menyebut nama Dinka.
" Ish, kenapa kakak malah menyamakan aku dengan Dinka? Seperti nya kakak sudah mulai jatuh cinta pada gadis itu" Gina tersenyum mengejek pada Algi.
" Cih, itu tidak mungkin! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada nya" Algi mendengus kesal.
" Ucapan mu saja yang seperti itu, tapi dalam hati mu jelas kamu sudah mulai jatuh cinta pada nya"
" Itu tidak mungkin, kenapa kamu bisa seyakin itu?" Algi masih kekeuh menyangkal apa yang di katakan adik nya itu.
" Semenjak beberapa hari yang lalu, aku lihat kamu selalu murung seperti orang yang sudah tidak ada semangat hidup kalau berada di rumah. Dan dari yang aku dengar dari kak Rani, kakak selama beberapa hari ini selalu uring - uringan tidak jelas. Apa kakak masih mau menyangkal kalau kehadiran kak Dinka dalam hidup kakak kitu begitu penting" ucap Gina telak membuat Algi terdiam dengan pemikiran nya.
" Apa benar yang Gina katakan? Aku sudah jatuh cinta pada Dinka?" Batin Algi. " Sudah lah, cepat bekerja! Jangan berkata omong kosong lagi!" Algi mendengus kesal dan langsung pergi meninggal kan Gina tanpa menghiraukan protes yang di katakan oleh gadis itu.
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1