Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)

Kesucian Yang Direnggut ( Nara Untuk Aydan)
Bab 172


__ADS_3

Setelah beberapa saat dan dengan beberapa tindakan yang di lakukan oleh dokter dan beberapa perawat, akhir nya Nara kembali sadar dan melanjut kan usaha nya untuk mengeluar kan bayi ke dua mereka. Aydan bahkan sempat mengeluar kan air mata nya saat melihat sang istri sempat tak sadar kan diri saat itu, Aydan sangat ketakutan, takut akan kehilangan sosok istri yang sangat dia cintai.


" Heeeeu" akhir nya saat mengejan untuk ke tiga kali nya, bayi ke dua berhasil di keluar kan dengan selamat.


" Terima kasih sayang, kamu sangat hebat!" Aydan mengecup kening Nara untuk kesekian kali nya. Karena sejak kelahiran bayi pertama mereka, Aydan tak henti - henti nya melayang kan kecupan nya pada kening istri nya itu.


" Sama - sama, apa baby kita semua sehat dokter? Kenapa bayi ke dua kami tidak menangis?" Nara bertanya karena tidak mendengar suara tangisan dari bayi yang ke dua.


" Kamu benar sayang, dokter apa bayi kami baik - baik saja?" Aydan baru sadar tentang hal itu, karena dia panik setelah melihat Nara yang kondisi nya sempat melemah tadi.


" Oek.. oek.." belum sempat dokter Fisa menjawab, terdengar suara tangisan yang lebih kencang dari bayi mereka yang pertama.


" Semoga ini menjawab pertanyaan kalian, pernafasan nya sempat terhalang dengan semacam lendir yang masuk ke dalam saluran pernafasan nya. Dan setelah kami melakukan tindakan, untung saja sekarang bayi ini baik - baik saja" dokter Fisa tampak tersenyum seraya menggendong bayi itu menghampiri Aydan dan Nara. " Dan selamat, bayi ini baby girl" dokter Fisa semakin mengembangkan senyuman nya.


" Benar kah?" Wajah Nara terlihat berbinar mendengar kabar itu.


" Jadi kami punya seorang putra dan seorang putri?" Wajah Aydan tak kalah berbinar.


" Ya, kalian sangat beruntung, sekarang kita selesai kan dulu proses persalinan nya. Dan setelah itu nona Nara bisa kita pindah kan ke ruang rawat biasa agar keluarga kalian bisa menjenguk nona Nara dan baby twins" ucap dokter Fisa seraya memberi kan bayi ke dua itu pada suster untuk di bersih kan selama jalan lahir milik Nara di jahit karena tadi sempat ada sedikit robekan.


Sementara di luar


" Alhamdulillah" ucap semua nya bersamaan saat mendengar suara tangis bayi yang pertama.


" Seperti nya bayi pertama sudah lahir" ucap Alea seraya mengusap sudut mata nya yang berair dengan perasaan lega nya.

__ADS_1


" Ya kak, seperti nya begitu" Dinka mengangguk kan kepala nya dengan wajah yang tak kalah merasa lega.


" Berarti tinggal satu baby lagi" ucap Rifki yang di angguki semua nya.


" Semoga yang ke dua juga lahir dengan lancar" ucap bunda Nami.


" Aamiin" ucap semua nya penuh harap.


Lima belas menit berlalu, namun suara tangis bayi yang ke dua belum terdengar juga. Dan itu membuat semua yang berada di luar menjadi cemas dengan keadaan Nara di dalam sana.


" Kenapa bayi ke dua lama sekali, apa semua baik - baik saja?" Razky berkata pada istri nya Nami dengan wajah yang cemas.


" Aku tidak tahu yah, seharus nya jarak lahir anak pertama dan ke dua tidak terlalu jauh seperti ini" jawab Nami dengan wajah yang panik.


" Semoga saja Putri dan cucu - cucu kita baik - baik saja" melihat istri nya yang panik, Razky langsung merangkul pundak istri nya itu untuk menenangkan nya.


" Kak, kenapa lama sekali suara bayi ke dua terdengar?" Alea merasa takut akan terjadi sesuatu pada saudara dan keponakan - keponakan nya itu. Alea saat ini sedang berada dekapan suami nya.


" Aku juga tidak tahu sayang, semoga tidak terjadi hal buruk pada mereka" Rifki mengusap punggung Alea dengan lembut. Jujur saja saat ini Rifki juga merasa takut terjadi sesuatu pada kakak sepupu nya itu, namun dia berusaha untuk terlihat tenang agar istri nya juga tenang.


" Oek.. oek.." tak lama terdengar suara tangisan bayi yang membuat semua orang bernafas lega dengan merafal kan rasa syukur mereka kepada sang maha kuasa.


" Akhir nya baby ke dua lahir dengan selamat, aku jadi tidak sabar ingin segera melihat dan menggendong nya" Dinka terlihat sangat bersemangat.


" Ya, Din aku juga sudah tidak sabar" Alea tak kalah bersemangat.

__ADS_1


" Bunda dulu yang akan menggendong nya, dan kalian nanti setelah bunda" tambah Nami diikuti kekehan dari semua nya.


Semua orang tampak bahagia mendengar suara tangisan itu, tak lupa Razky langsung melakukan panggilan pada Fika untuk memberikan kabar gembira ini. Mungkin saat ini Fika sedang berada di perjalanan dari Bandung ke Jakarta dan akan tiba nanti malam.


Fika juga tak kalah bahagia saat mendengar kabar baik dari pria yang sudah dia anggap seperti Abang nya sendiri itu, bahkan tak terasa air mata haru menetes begitu saja dari pelupuk mata nya. Fika harap Angga juga bisa berhasil melewati masa sulit nya agar mereka bisa merayakan kebahagiaan ini bersama. Fika juga berencana untuk memberi tahu kan kabar baik ini pada suami nya yang sedang berada di Paris melalui panggilan telpon pada ponsel nya.


" Oh ya, kalian harus ingat jangan berebut menggendong baby twins di depan Aydan atau granpa nya nanti" ucap Nami saat suami nya sedang melakukan panggilan pada Fika.


" Kenapa Bun?" Alea mengerut kan kening nya.


" Kalian pasti tidak mau kejadian saat Aydan masih bayi terulang lagi" Razky yang sudah selesai melakukan panggilan nya ikut menimpali.


" Memang ada kejadian apa sih yah, seperti nya kejadian yang cukup serius?" Rifki bertanya dengan wajah yang terlihat penasaran.


" Apa kak Aydan terjatuh saat di gendong oleh salah satu dari kalian? Ck, pantas saja dia sangat menyebal kan. Pasti akibat dari itu" celetuk Algi sehingga mendapat kan pukulan dari Dinka yang berada di sebelah nya.


" Ish, kakak jangan bicara sembarangan! Biar pun terkadang menyebal kan, dia itu kakak ku" Dinka mendengus kesal.


" Ish, kalian ini bicara apa? Siapa juga yang terjatuh saat bayi" Nami memutar bola mata nya malas. " Para Oma Aydan dan kami saat itu berebut untuk menggendong nya, alhasil daddy kalian yang over protektif itu menggambar garis merah satu meter di dekat box bayi dan kami tidak boleh melewati garis merah itu. Keterlaluan bukan?" Nami mengingat kembali bagai mana sikap over protektif Nanda terhadap bayi nya dulu.


" Masa sih sampai seperti itu? Ish, grandpa keterlaluan" Alea menggeleng kan kepala nya.


" Apa Aydan juga akan seperti itu, ck itu tidak mungkin kan" Rifki terkekeh saat mengatakan nya.


" Aku tidak tahu, kalau di lihat dari sikap over protektif nya, tuan Nanda dan kak Aydan itu sebelas dua belas iya kan" jawab Algi dan semua mengangguk setuju.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2