
Setelah menempuh perjalanan yang agak jauh, akhir nya Aydan dan yang lain nya sampai juga di mansion keluarga Balendra, jujur saja saat ini Aydan dan Rifki merasa tegang dan ragu untuk sekedar melangkah kan kaki nya masuk ke dalam mansion menemui para istri mereka.
Namun bagai mana pun juga Aydan dan Rifki tetap harus mengatakannya pada istri mereka tentang kabar buruk yang sudah menimpa om mereka Angga.
Akhirnya Aydan dan Rifki pun masuk juga ke dalam mansion walau dengan berat hati.
" Assalamualaikum" ucap Aydan, Rifki dan Algi secara bersamaan.
" Walaikumsalam" terdengar jawaban dari dalam, tepat nya di ruang keluarga tempat mereka biasa berkumpul.
" Kalian sudah pulang? Kenapa, ini masih siang?" Nara mengerut kan kening nya saat melihat suami dan saudara sepupu nya sudah pulang, padahal ini baru jam sepuluh siang.
" Ya, jangan katakan kalau kalian meridu kan kami?" Alea terkekeh saat mengatakan nya. " Kamu juga ikut Al?" Alea melihat Algi dan Algi pun hanya mengangguk dan tersenyum.
Aydan dan Rifki pun saling melempar pandangan mereka sebelum akhir nya mereka melangkah kan kaki mereka untuk menghampiri istri mereka masing - masing yang sedang duduk di atas sofa.
Alea dan Nara pun mencium tangan dari suami mereka saat itu dan para suami pun duduk di samping mereka.
" Ada yang perlu kami sampai kan, tapi kalian harus tenang saat mendengar nya!" Ucap Aydan sambil menatap Nara dengan wajah yang serius.
" Harus tenang? Memang apa yang ingin kalian katakan?" Nara mengerut kan kening nya, entah kenapa hati nya tiba - tiba merasa tidak enak saat melihat wajah suami nya yang seperti itu. Karena baru kali ini Nara melihat Aydan seperti itu.
" Ya, memang apa yang akan kalian bicarakan?" Alea ikut merasa penasaran karena suami nya juga hanya diam dengan wajah yang sulit untuk Alea arti kan dan baru kali ini juga Alea melihat nya.
" Om Angga kecelakaan, dan kondisi nya saat ini sedang kritis" ucap Rifki pada akhir nya dengan wajah yang serius.
__ADS_1
Jeder
Bagai tersambar petir, kini Nara dan Alea sama - sama terdiam dengan mata yang membulat sempurna.
" Tidak, kakak bercanda kan?" Alea menggeleng kan kepala nya dengan air mata yang tiba - tiba meluncur dari ujung mata nya.
" Ya, itu tidak benar bukan? Katakan kak!" Nara terlihat mengguncang tubuh suami nya untuk meminta penjelasan dari suami nya itu dengan air mata nya yang juga langsung mengalir deras.
" Itu benar sayang, kita do'akan saja semoga om Angga bisa melewati masa kritis nya" ucap Aydan seraya memasuk kan tubuh istri nya yang sedang bergetar ke dalam dekapan nya. " Kamu tenang, ingat kalau ada baby twins di perut mu" tambah Aydan lagi berusaha menenang kan istri nya itu. Padahal saat ini Aydan juga sangat takut kalau terjadi hal buruk pada om nya itu, terlihat dari bagai mana diri nya mengusap ujung mata nya yang basah beberapa kali. Sungguh Aydan sudah tidak kuat lagi menahan kesedihan nya saat ini.
" Aku tidak percaya itu, kakak bohong kan?" Alea semakin histeris seraya memukuli dada bidang Rifki dengan air mata yang terus mengalir dengan deras nya.
" Tidak sayang, aku harap juga itu adalah kebohongan" Rifki menarik Alea ke dalam dekapan nya dengan air mata nya yang ikut mengalir saat ini. " Kita hanya bisa berdo'a untuk keselamatan nya" Tambah Rifki lagi di sela pelukan nya.
Kini ke dua pasangan itu saling menguat kan satu sama lain dengan tubuh mereka yang masih bergetar dan isakan tangis keluar dari bibir istri mereka. Sedang kan Algi hanya bisa melihat semua nya dengan hati yang ikut sakit dan mata yang juga ikut basah.
" Aw" tiba - tiba Nara meringis kesakitan seraya memegangi perut nya yang tiba - tiba sakit.
" Kamu kenapa sayang?" Aydan terlihat panik saat melihat istri nya yang seperti itu.
" Nara, kamu tidak apa - apa?" Alea langsung menjauh dari Rifki dan langsung menghampiri Nara dengan wajah panik nya, begitu pun Rifki dan Algi yang juga terlihat panik.
" Aku tidak tahu, tiba - tiba saja perut ku sakit, aw" ucap Nara terbata seraya meringis kesakitan.
" Kamu coba tarik nafas dan buang perlahan oke!" Alea memberikan instruksi pada Nara seperti apa yang pernah di ajar kan oleh dokter Fisa pada nya bila merasa tegang atau keram pada perut nya.
__ADS_1
Nara pun melakukan apa yang di katakan oleh Alea pada nya, namun rasa sakit itu tidak berkurang sedikit pun.
" Aw, sakiit" Nara semakin meringis saja. " Ini tidak berhasil Al" tambah Nara lagi seraya menahan rasa sakit pada perut nya. Tangan Nara kini bahkan sudah memegang tangan Aydan dengan sangat kuat untuk menyalur kan rasa sakit yang dia rasakan itu.
" Bagai mana ini, apa kita bawa ke rumah sakit sekarang? Seperti nya Nara akan melahir kan" ucap Alea dengan wajah panik nya.
" Apa, melahir kan?" Ucap Aydan, Rifki dan Algi secara bersamaan dengan wajah yang terlihat kaget.
" Iya, melahir kan. Bukan kah ini memang sudah bulan nya? Sekarang cepat bawa Nara ke rumah sakit!" Ucap Alea mendengus kesal.
" Seperti nya apa yang di ucap kan Alea benar, aku seperti nya akan melahir kan sekarang" ucap Nara sambil menahan rasa sakit yang dia rasakan
" Ya kamu benar, sekarang bantu aku siap kan mobil nya!" Aydan pun menyuruh Rifki untuk menyiap kan mobil untuk membawa Nara ke rumah sakit. Rifki dan Algi pun segera berlari ke depan mansion untuk menyiap kan mobil seperti apa yang di pinta Aydan tadi.
" Aw" baru saja Aydan akan mengangkat tubuh Nara, tiba - tiba Aydan merasakan kalau bagian bawah istri nya itu basah. " Ah, air apa itu?" Ucap Nara panik saat merasakan sesuatu keluar dari bagian bawah nya dan membasahi kaki dan pakaian yang dia pakai.
" Ya sayang, air apa itu? Apa tidak akan terjadi hal buruk pada baby twin?" Aydan pun semakin panik.
" Aku juga tidak tahu itu apa, cepat bawa Nara ke rah sakit!" Alea juga semakin panik
" Ya, kamu benar!" Aydan pun langsung mengangkat tubuh istri nya itu dan berlari menuju ke arah di mana mobil milik nya terparkir. Mereka pun langsung membawa Nara menuju ke rumah sakit dengan Rifki yang menyetir mobil itu sedang kan Aydan menemani Nara di kursi belakang.
Sedang kan Algi mengikuti mobil Aydan dengan menggunakan mobil milik nya karena tidak muat lagi untuk Algi di dalam mobil Aydan saat ini.
Sepanjang perjalanan tak henti - henti nya Nara mengaduh dan meringis kesakitan, bahkan Aydan ikut meringis karena rambut dan tangan nya menjadi sasaran empuk dari tangan istri nya itu sebagai pelampiasan rasa sakit yang di rasakan Nara saat ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏